Skip to content

Jelajah Pulau Pari #Part 2 : Sejarah Pulau Pari

December 27, 2014

20141226_215328

Awal menginjakkan kaki di pulau ini, entahlah … yang terpikir adalah  “pesona pulau ini tak akan berumur panjang, jika tanpa pengelolaan yang profesional  dan ramah lingkungan“.

Pulau Pari terletak di Kecamatan Kepulauan seribu selatan, Kabupaten Administrasi kepulauan seribu. Dahulu, pulau ini adalah sebuah pulau kosong yang tidak berpenghuni. Pada masa penjajahan belanda masyarakat di wilayah Tangerang melarikan diri ke Pulau Pari untuk menghindari kerja paksa Belanda. Dinamakan Pulau Pari karena perairannya yang dangkal dan banyaknya ikan pari di Pulau tersebut.  Konon juga karena bentuk pulau ini apabila dilihat dari foto udara nampak seperti ikan pari. Percaya atau tidak, coba gunakan salah satu mesin pencari peta satelit di internet untuk melihat bentuknya.

Pulau ini adalah pengembangan pulau penduduk menjadi pulau pariwisata, karena potensi wisata Pantai Pasir Perawan yang menarik untuk disambangi. Namun, ada beberapa yang disayangkan, selain sampah sampah yang bertumpuk di tepi pantai, beberapa pembangunan homestay pun tidak sesuai dengan peruntukan ruang. Akan lebih indah rasanya, jika bertandang ke pulau ini juga disuguhi pariwisata kearifan budaya lokal dan kreatifitas  produk masyarakat setempat.

IMG_20141224_212709

Dari artikel yang saya baca, pulau ini memiliki keunikan berupa cekungan yang mampu menampung serapan air hujan yang jatuh ke permukaan. Benar saja, air di Pulau Pari terasa tawar tidak seperti kebanyakan pulau lain yang terasa payau. Adanya cekungan di daratan telah berdampak pada heterogenitas vegetasi pulau ini. Umumnya pulau di pesisir hanya dapat ditemui vegetasi berupa mangrove dan pohon kelapa maka di sini jika diperhatikan seksama bisa ditemukan pohon pisang, pohon mangga, pohon jambu air, petai cina, palem, pohon srikaya, pohon jamblang, dan sebagainya. Jelas itu bukan vegetasi khas wilayah pesisir tetapi jutru di pulau ini mampu tumbuh dengan baik.

IMG_20141227_063432

Itu semua bisa ditemukan saat kita manjelajahi Pulau Pari  menuju Pusat Pengembangan Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia  (yang berada di sisi sebelah barat) dengan sepeda. Karena luas pulau ini yang mencapai 43 hektare, dipastikan banyak makan waktu dan tenaga jika kelilingi dengan berjalan kaki. Ya, sepeda ini sudah include fasilitas yang didapatkan di sana. Anytime, until you drop karena ngayuh sepeda. Itu sepeda lumayan berat. Hehehe. Perlu dicatat, kalau anda datang saat weekend, dipastikan anda tidak bisa mengayuh sepeda dengan sempurna a.k.a macett (baca : over pengunjung, semoga tidak over produksi sampah).

IMG_20141224_215825

Di Pusat Pengembangan Oseanografi  ini, kita bisa melihat sunset dengan melalui jalan setapak yang tak lagi utuh karena abrasi air laut. Kaki ini pun berjalan hingga menemui titik ujung bagian barat pulau ini. Sunsetnya tidak terlihat, karena mendung berbalut awan. Di kanan dan kiri jalan setapak, terlihat konservasi hutan mangrove dan biota laut. Well, lebih tepatnya konservasi yang tertutup dan tercemari sampah. Kami sempat bertanya kepada sang guide local yang baik hati ini, darimana asalnya tumpukan berbagai macam sampah itu. Mereka berkata “itu kiriman dari Jakarta Miss, sudah dibersihkan tapi ada lagi”. Kami pun bertanya, kemana perginya sampah yang sudah dibersihkan, jawabannya : dibakar.

Usul  untuk Dinas Pariwisata Jakarta, tolong diadakan penyuluhan pengelolaan sampah yang baik. Bisa didirikan satu bank sampah, yang sampahnya bisa langsung di daur ulang di tempat, tanpa harus ke kota. Daur ulangnya bisa dijadikan kerajinan tangan masyarakat setempat. Ini bisa menumbuhkan geliat iklim perekonomian di sana. Satu lagi, ada baiknya masyarakat setempat membuat kedai makanan tradisonal, sehingga wisatawan tidak bergantung dengan makanan instan dan kemasan yang memproduksi lebih banyak sampah.

Indonesia ini sangat kaya. Pertanyaannya, bisakah kita menjaga dan merawatnya? realitanya yang terjadi sungguh miris. Seperti Pulau Bidadari, ditinggalkan pengunjung karena sudah tidak  lagi ‘nyaman’. Ketidaknyamanan itu disebabkan oleh spesies yang bernama manusia. Maka bisa dipastikan Pulau Pari, Tidung atau yang lainnya bernasib sama. Mungkin nantinya akan ada pengganti Pari atau Tidung, tapi sampai kapan lingkaran setan itu terus berulang?  Bali  sudah diberitakan secara internasional sebagai pantai yang penuh sampah. Bahkan saat menyebrang menuju Gili Trawangan pun banyak sampah yang nyata terlihat. Come on people dan Dinas Pariwisata Jakarta be aware please!

Advertisements
3 Comments leave one →
  1. December 28, 2014 4:53 AM

    Qm kasih infonya byk bgt drpd perasaanmu ttg pulaunya mbakyu? Ga usah usul ma pemda. Pemda msh sbuk ngurusi banjir. Mending qm nawarin diri aja langsung buat jd pembicara stempat. Ntar aq yg jd juru fotografi ma asistenmu deh wkwk

    Like

    • December 28, 2014 5:06 AM

      waktu satu malam belum cukup untukku mendeklarasikan perasaanku ‘padanya’…. hahaha, sengaja memberikan banyak info, kali habis ini ada yang menawarkan aku jadi duta Pulau Pari… #whueeekk

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: