Skip to content

99 Cahaya di Langit Eropa

October 20, 2013

99 Cahaya di Langit Eropa Pergilah, jelajahi dunia, lihatlah dan carilah kebenaran dan rahasia-rahasia hidup, niscaya jalan apapun yang kau pilih akan mengantarkanmu menuju titik awal. Sumber kebenaran dan rahasia hidup akan kau temukan di titik nol perjalananmu. Perjalanan panjangmu tidak akan mengantarkanmu ke ujung jalan, justru akan membawamu ke titik permulaan. Pergilah untuk kembali, mengembaralah untuk menemukan jalan pulang. Sejauh apapapun kakimu melangkah, engkau pasti akan kembali ke titik awal. -Paulo Ceolho-The Alchemist-

I love that quotes. Deeply Inside!. First, I would like to thanks to Ms. Muthmainnah. Yup, she has lend me this book. Very nice book. I learn a lot!. Terima kasih untuk sang penulis. Buku 40 Days in Europe dan 99 Cahaya di Langit Eropa, cukup sukses menggelitik sense of europe saya. Setidaknya, telah menggoreskan sebuah mimpi, bahwa suatu saat saya akan ke sana, biidznillah. Menginjak Eropa. Aamiin ya mujibassailin. Hayoo, butuh sponsor? Adakah yang bersedia? #ngareep.

Ini yang disebut buku itu jendela dunia!. Ok let’s learn what i’ve got from this book and another resources #googling.

Do you know croissant? Of course you do!. Croissant. It’s from French.
Pada era pemerintahan Kerajaan Ustmaniyah, sebenarnya sudah ada roti yang bernama kirpfel, nah konon ini yang menjadi asal muasal croissant. Sejarah bentuk roti croissant bermula pada tahun 732 Masehi. Pada pertempuran yang paling menentukan dalam The Battle of Tours. Saat itu tentara Islam mengalami kekalahan dan berhasil dipukul mundur hingga ke Turki. Roti ini menurut legenda diciptakan pertama kali oleh orang-orang Polandia untuk merayakan kemenangan atas kekalahan pasukan muslim. Namun bentuk rotinya yang mirip bulan sabit baru diciptakan sekitar tahun 1683 di Wina, Austria. Croissant merupakan simbol dari bendera Turki yang berbentuk bulan sabit (crescent). Sehingga ketika mereka memakan roti tersebut, seolah-olah mereka telah melahap Turki dan kaum Muslim lainnya. Hingga saat ini, croissannt masih jadi pastries favorite hampir di semua belahan dunia. Namun banyak orang yang tidak sadar bahwa makanan favorit mereka memiliki hubungan langsung dengan pertempuran sengit lebih dari 1200 tahun yang lalu.


The beautiful flower. Tulip. It’s from Netherland.
Bunga tulip selalu diidentikkan dengan negara Belanda. Ribuan wisatawan datang ke Belanda hanya untuk mengagumi bunga yang cantik dan berwarna cerah ini, yang banyak ditanam di taman-taman negara Kincir Angin itu. Kota Keukenhof di Belanda, setiap tahunnya bahkan dikunjungi sekitar 800.000 orang dari seluruh dunia yang ingin menyaksikan keindahan aneka bunga tulip dalam Festival Tulip yang diselenggarakan setiap tahun di kota itu. Tak heran masih banyak orang yang beranggapan bahwa bunga tulip adalah bunga asli dari Belanda.

Bunga tulip sebenarnya bukan bunga asli Belanda, karena sebenarnya bunga ini berasal dari Asia Tengah dan Belanda sebenarnya berhutang budi pada kekhalifahan Islam Ustmaniyah di Turki, karena atas peran kekhilafahan Islam inilah Belanda sekarang jadi terkenal karena bunga tulipnya.

Bunga tulip sebenarnya bunga liar yang tumbuh di kawasan Asia Tengah. Orang-orang Turki yang pertama kali membudidayakan bunga ini pada di awal tahun 1000-an dan pada masa pemerintahan kekhalifahan Ustmaniyah, terutama pada masa kekuasaan Sultan Ahmed III (1703-1730) bunga tulip berperan penting, sehingga masa Sultan Ahmed III disebut juga sebagai “Era Bunga Tulip.”

Pada masa itu, istana Sultan memiliki sebuah dewan khusus untuk membudidayakan bunga-bunga tulip. Dewan itu dipimpin oleh seorang Turki yang juga kepala perangkai bunga istana yang tugasnya memberikan penilaian pada kualitas berbagai jenis bunga tulip dan memberikan nama yang indah dan puitis bagi bunga-bunga itu antara lain dengan nama “Those that burn the heart”, “Matchless Pearl”, “Rose of colored Glass”, “Increaser of Joy”, “Big Scarlet”, “Star of Felicity”, “Diamond Envy”, or “Light of the Mind”.

Hanya bunga-bunga yang memiliki kualitas sempurna yang dimasukkan dalam daftar jenis-jenis bunga tulip itu, yaitu bunga tulip yang memenuhi standar dari ukuran tinggi dan kerampingan kelopak bunganya, bentuk helaian kelopaknya lancip dan jarak antar helaiannya sempit. Helaian kelopaknya harus halus tapi kuat, satu warna, ukuran lebar dan panjangnya pas. Tiga ratus tahun kemudian, komunitas holtikultura Belanda dan Inggris mengajukan baru memikirkan untuk melakukan klasifikasi bunga tulip yang sudah dilakukan jauh sebelumnya oleh ahli perangkai bunga Turki di kesultanan Ahmed III.

Bunga tulip baru dikenal di Belanda pada abad ke-16 dan menjadi sangat populer di kalangan masyarakat kelas atas di negeri itu. Kata “tulip” sendiri berasal dari bahasa Turki yang artinya “sorban”, semacam kain yang dililit untuk menutupi kepala. Tidak diketahui kapan persisnya negara Kincir Angin itu mulai membudidayakan bunga tulip itu, tapi disebut-sebut bunga tulip mulai dibawa ke Belanda pada sekitar tahun 1550-an oleh kapal-kapal yang berasal dari Istanbul.

Dokumentasi pertama tentang penanaman bunga tulip bertahun 1954 di Kebun Raya Universitas Leiden. Menurut catatan itu, bunga tulip yang ditanam di kebun raya universitas Leiden dibawa oleh Carolus Clusius dari Wina, Austria, penanggungjawab taman istana di Austria. Ketika itu, pengaruh budaya Turki sangat kuat di Austria terutama dari gaya berpakaian yang oriental dan tradisi minum kopi.

Memasuki abad ke-17, perekonomian Belanda tumbuh pesat dan memicu persaingan antara pecinta bunga tulip. Mereka berlomba-lomba mencari bunga tulip yang paling indah dan tidak segan-segan membayar dengan harga mahal untuk membeli bunga tulip itu. Harga bunga tulip di Belanda pun makin mahal, bahkan kabarnya ada jenis bunga tulip yang harganya sama dengan harga sebuah rumah. Tahun 1635, satu set bunga tulip yang berjumlah 40 tangkai dijual dengan harga 100.000 florin, bandingkan dengan pendapatan kalangan kelas menengah pada masa itu di Belanda yang hanya 150 florin.

Tahun 1636, usaha bunga tulip menjadi salah satu bisnis yang perdagangan yang masuk dalam bursa saham dan diminati banyak orang. Kalangan pengusaha rela menjual tanah, rumah dan harta bendanya untuk berinvestasi di bisnis bungan tulip. Jenis bunga tulip yang sangat terkenal saat itu adalah jenis tulip yang bernama Viceroy, yang harganya bisa ribuan florin. Belanda menyebut fenomena “demam tulip” ini sebagai fenomena “wind trade” (perdagangan kontrak tulip) yang murni dilakukan dengan spekulasi. Ironisnya, masa keemasan bisnis bunga tulip di Belanda hanya berlangsung setahun, karena pada tahun 1637 pasar bunga tulip jatuh dan harga bunga tulip ikut melorot.

Sampai hari ini, istilah “tulip mania” atau “tulipomania” atau “kegilaan tulip” masih digunakan sebagai istilah untuk menggambarkan goncangnya perekonomian karena munculnya spekulan terhadap sesuatu trend bisnis yang sifatnya untung-untungan. Meski cerita di balik “tulip mania” ini sedikit memalukan, tapi Belanda tetap mencintai tulip dan banyak orang yang tak ingat bahwa tulip-tulip yang indah dan cantik itu hasil budidaya dari jaman kekhilafahan Islam Turki Utsmani.


The most famous one! Coffee. It’s from Italy.
Orang-orang Nasrani pernah menganggap kopi sebagai minuman setan. Alasannya minuman asal Arab ini banyak diminum musuh-musuh mereka dalam Perang Salib. Paus kala itu, Vincent III, penasaran. Ia tidak ingin membuat keputusan tanpa merasakan dulu. Ia memerintahkan untuk mencari kopi. Manakala lidahnya telah mencicipi rasa nikmat kopi, fatwa haram tidak jadi keluar. Menurutnya, “ini sangat nikmat, sangat sayang membiarkan kaum kafir menikmatinya sendiri.”

Suatu ketika mereka menemukan berkarung-karung kopi ditinggalkan musuhnya, pasukan Ottoman dari Turki. Di Wina Austria itulah sejarah kopi berubah. Pasukan di bawah Marco D’Aviano itu mencampurnya dengan krim dan madu untuk menghalau rasa pahit. Warnanya berubah menjadi kecoklatan, mirip dengan Capuchin (topi) D’Aviano. Saat ini, kita mengenalnya sebagai cappuccino.

Minuman ini menjadi begitu popular di Eropa. Italia, tempat asal D’Aviano, mengembangkan minuman ini dengan berbagai variasi. Walau pun sejarah cappuccino berawal di Austria, minuman ini identik dengan restauran dan kafe Italia.

Paus John Paul II sepertinya mengulangi kekaguman Vincent III. Mereka sama-sama kagum dengan D’Aviano dalam jalan yang berbeda, cappuccino dan Perang Salib. Lalu Paus memberkati D’Aviano sebagai salah satu orang suci (santo). Tapi pemberian gelar santo ini tentu tidak terkait dengan cappucinonya. Ia dianggap sebagai pendeta yang menginsiprasi Eropa menahan gempuran pasukan Ottoman di abad 17 silam. D’Aviano lahir di sebuah kota, yang sama dengan namanya, Italia utara 1631. Ketika beranjak dewasa, orang tuanya mengirimnya untuk menjadi jesuit. Saat itulah ia dikirim Paus untuk bertempur di Wina. Ia dikenal ahli strategi dengan menyerang secara mendadak dan massal. Keberhasilannya ini menginspirasi seluruh Eropa untuk menghalau serangan Turki itu. Selama 18 tahun ia ikut serta dalam pertempuran antara orang Islam dan Nasrani ini. Nah, jadi tahu kan, nama cappucino dari mana asalnya? 🙂

So, this is recomended book. Trust me! and Enjoy your coffee!. See yaa!

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: