Skip to content

Alive

February 4, 2012

Alive. Pedro Algorta, Roberto Canessa, Alfredo Delgado, Daniel Fernandez, Roberto Francois, Roy Harley, Jose Luis Incriarte, Alvaro Mangino, Javier Mathol, Carlos Paez, Fernando Parrado, Ramon Sabella, Adolfo Strauch, Eduardo Strauch, Antonio Vizintin dan Gustavo Zerbino. Adalah 16 orang yang selamat dalam 72 hari di Neraka Salju Pegunungan Andes pada kisah nyata sebuah kecelakaan Pesawat Angkatan Udara Uruguay yang terbang membawa tim pemain rugby menuju Cile, tanggal 12 Oktober 1972.

Pada awalnya rugby belum pernah dimainkan di Uruguay sebelum kedatangan Christian Brothers. Sepak bola adalah olahraga primadona, tetapi Christian Brothers percaya Rugby dapat mengajarkan murid-muridnya cara untuk menahan penderitaan dalam keheningan dan bekerja sama sebagai sebuah tim. Ini mengigatkan saya pada Gridiron Gang. Film yang diangkat dari kisah nyata seorang Petugas Lapas Camp Kilpatrick (sebuah penjara anak di Amerika), yang lelah dengan buruknya system lapas dalam penanganan kenakalan remaja. Lalu menemukan formula dengan membentuk suatu tim Football di lapas tersebut. Hasilnya, bukan hanya sebuah kerjasama dan kemenangan, tetapi lebih dari itu, mereka berjanji pada diri mereka, tidak akan kembali lagi ke penjara menjadi pecundang. By the way, bedanya Rugby sama American Football, apa ya? #payah ya!

Impian terbentuknya sebuah asosiasi olah raga rugby akhirnya terwujud 10 tahun kemudian, yaitu 1965, dengan nama Old Chirstian Club. Waktu berlalu dan olahraga ini semakin popular bahkan menjadi tren. Mereka memenangkan kejuaraan nasional Uruguay pada tahun 1968 dan 1970. Ambisi pun berkembang untuk melawan tim Argentina dan Cile tahun 1971. Hingga menjelang pertandingan berikutnya, tanggal 12 Oktober 1972, pesawat Fairchild F-227 yang berisi 45 awak, lepas landas dari bandara Carasso menuju Santiago – Cile dan hilang kontak saat melewati Pegunungan Andes.


Fenomena Luar Biasa Pegunungan Andes
Pegunungan Andes bukanlah jalur yang mudah. Walaupun lebar Andes kurang dari beberapa ratus mil dan tinggi rata-rata pegunungan itu hanya 13000 kaki, tetapi terdapat Gunung Aconcagua yang terletak tepat diantara Mendoza dan Santiago dengan tinggi 22.834 kaki. Aconcagua merupakan gunung tertinggi di belahan bumi bagian barat, hanya lebih rendah 6.000 kaki dari Gunung Everest. Para pilot sangat khawatir meyebrangi Andes. Tabrakan antara pesawat dengan pegunungan bukanlah satu-satunya bahaya yang dihadapi oleh para pilot dan kopilot. Cuaca di Pegunungan Andes adalah sebuah fenomena luar biasa. Aliran udara panas dari timur mengalir naik dan bertemu dengan udara dingin di garis salju yang terletak antara 14.000 sampai 16.000 kaki. Pada saat yang sama, pusaran angin dari Samudra Pasifik menghampiri lembah dari barat dan bertubrukan dengan aliran udara panas dan dingin di sisi yang lain. Jika sebuah pesawat terperangkap di guncangan seperti itu, pesawat akan hancur seperti daun di sungai deras.

Hal ini sepertinya dialami oleh pesawat Fairchild F-227 tersebut. Pada sekitar ketinggian 15000 kaki, pesawat memasuki lapisan awan dan mulai bergetar karena perbedaan aliran udara. Pesawat menghantam kantong udara dan menurunkan ketinggian hingga beberapa ratus kaki. Lalu hantaman kedua terjadi, hingga tak lama kemudia mesin pesawat mengaum, sayap sebelah kanan menubruk tebing dan patah. Pesawat itu berputar balik, bagian ekornya patah. Beberapa orang terlempar keluar. Sesaat kemudian sayap kiri pesawat patah dan baling-baling mengoyak bagian dalam pesawat. Yang tersisa dari pesawat itu adalah teriakan histeris dan tangisan minta tolong. Pesawat tanpa sayap jatuh meluncur di atas salju tebal dan menghantam pegunungan. Beberapa ahli berkata, beruntung pesawat ini tidak menabrak gunung dan meledak hancur berkeping-keping.


Pertarungan Psikologis
Pesawat terhenti. Pemandangan terlihat menyedihkan dan sepi. Dua mahasiswa kedokteran, Cannesa dan Zebrino serta beberapa yang lain mulai tersadar. Mereka berdiri, lantas segera bertindak, meski masih cukup terguncang. Tubuh yang hancur terhimpit, korban patah tulang, darah yang mengucur, luka yang mengaga di kepala, membuat semuanya linglung. Entah harus memulai dari mana.

Saya terdiam disaat membaca seorang mahasiswa bernama Enquire Platero, datang ke Zerbino dengan besi baja tertancap di perutnya. Zerbino merasa takut sejenak, tapi kemudian teringat dalam mata kuliah psikologi medis bahwa seorang dokter yang baik harus menunjukan kepercayaan diri di depan pasiennya.

Zerbino menatap Enquire lekat-lekat dan berkata dengan suara dalam “Enquire, kamu tidak apa-apa kok.”
“Begitu ya?” balas Enquire, menunjuk batangan besi di perutnya. “Dan ini”?
“Jangan Khawatir” kata Zerbino “Kamu kuat. Sekarang kamu harus membantuku menggeser jok-jok ini.”
Enquire menerima kata-kata Zerbino. Ia membalikan badan ke arah jok. Pada saat bersamaan, Zerbino memegang besi baja yang menancap itu, menyandarkan lututnya ke tubuh Enquire lalu menariknya. Zerbino pun berhasil menarik lempengan besi baja tersebut bersama 6 inchi usus Enquire.
Enquire menoleh kembali ke perutnya, terkejut melihat isi tubuhnya keluar. #ehh? cuma terkejut?!
Sebelum Enquire mengeluh. Zerbino langsung menyahut “Dengar, Enquire, kamu mungkin berpikir kamu sedang gawat, tetapi masih ada orang lain yang lebih gawat. Jangan jadi pengecut dan bantu aku. Ikat perutmu dengan kaus. Aku akan lihat lukamu lagi nanti.”
Enquire melakukan apa kata Zerbino tanpa mengeluh lagi. Enquire pun menjadi salah satu korban yang jarang mengeluh hingga akhirnya mati tertimbun salju, saat terjadi longsor salju ketika tertidur.


Keterbatasan Melahirkan Kreatifitas
Berhari-hari di neraka salju mereka mulai kesulitan air. Ini membuat Adolfo Strauch kemudian mencari sesuatu yang dapat digunakan menahan salju yang mencair saat pagi terik dengan cahaya matahari. Karena memakan langsung salju akan membekukan mulut. Akhirnya, ia menemukan alumunium berbentuk segiempat, setinggi dua kaki, di bagian belakang jok penumpang untuk dipakainya, sehingga dapat membuat air yang banyak di cuaca terik pagi itu. Karena tidak ada yang tahu kondisi cuaca Pegunungan Andes setelahnya, badai salju bisa tiba-tiba datang. Cannesa pun membuat tempat tidur gantung dan lipat untuk korban luka, menjahit penutup kursi pesawat untuk dijadikan selimut. Karena tidak ada satu pun diantara mereka yang berpakaian atau membawa baju untuk temperature di bawah 0°. Membaca 388 halaman buku ini, mengajarkan bagaimana survive dengan segala keterbatasan. Bekerja sama dalam psikologis yang terpuruk. Ya, semua saling mengisi satu sama lain.


Kekurangan Persediaan Makanan
Tiga botol anggur, satu setengah botol whiskey, sebotol cherry brandy, sebotol crème de menthe, 8 batang cokelat, 5 batang nougat, beberapa caramel yang berhamburan di lantai kabin, beberapa kurma dan plum kering, yang juga berhamburan, satu pak biscuit asin, dua kaleng remis, sekaleng asinan almond dan botol-botol kecil masing-masing berisi selai persik, apel dan blackberry. Itulah makanan yang tertinggal. Mereka tidak tahu sampai kapan harus bertahan dan semuanya tidak akan cukup untuk 28 orang yang masih hidup.


Memakan Daging Teman Sendiri
Kondisi mereka semakin melemah. Di sisi lain, mereka harus bergerak keluar dari tempat itu, karena tidak bisa mengandalkan tim SAR untuk menemukannya, mengingat cuaca Andes yang sangat buruk. Bisa dipastikan akan sulit menemukan mereka. Bahan makanan terbatas, tidak bisa menyuplai energi mereka. Akhirnya Canessa memutuskan untuk memakan daging teman mereka yang telah mati. Perdebatan sengit terjadi, namun tidak ada cara lain. Cannesa pun mencari mayat yang tergeletak. Menyayat dagingnya dengan pecahan kaca lalu menelannya. Beberapa temannya mengikuti. Mereka memakan daging itu mentah-mentah, terkadang sempat terlebih dulu dikeringkan di atas badan pesawat dengan sinar matahari. Konon, katanya rasanya seperti daging sapi. Ada beberapa yang memasaknya, namun itu tidak berlangsung lama, karena mereka harus menghemat bahan bakar. Mereka punya kesepakatan, tidak akan berpindah ke mayat yang lain sebelum satu mayat habis. Mereka memakan semuanya dan hanya menyisakan kepala, kulit, paru-paru dan alat kelamin. If you were them, what will you do? Daging ini pula yang dibuat bekal perjalanan Canessa dan Parrado, melewati Pegunungan Andes sebelah barat, selama 10 hari untuk mencari bantuan.


Menjalani Hidup Seolah-olah Tidak Akan Pernah Hidup Kembali
Setelah 30 tahun peristiwa itu, seorang wartawan mewawancarai dua korban yang selamat. Ketika ditanya, “apa yang anda rasakan setelah kejadian itu?” Mereka pun menjawab “setelah kejadian itu kami menjalani hidup seolah-olah besok tidak akan pernah hidup kembali”. Tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang telah Tuhan berikan kepadanya.

Ya, buku ini memang banyak memberikan pelajaran tentangnya. Bukan hanya sekedar kerjasama, keberanian, strategi dan bijaksana dalam menghadapi ketidakpastian hidup (entah apapun itu), namun lebih dari itu, belajar bagaimana bersikap di depan kematian, belajar memaknai hidup dan belajar lebih dekat dengan Tuhan.


Kelemahan Buku
Meskipun ceritanya tragis, namun sang penulis kurang dapat memacu adrenalin para pembaca ditambah explore karakter para korban yang dirasa kurang menggigit. Hal ini pun senada diungkapkan oleh para korban. Namun, banyak sisi bagus buku ini dan bisa menjadi rekomendasi bacaan yang bagus untuk anda. Oh iya, membaca aslinya sepertinya lebih asyik dari pada terjemahan (padahal mah nggak ngerti -_-‘). But, trust me!.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: