Skip to content

Belajar Dari Ajahn Brahm…

December 17, 2011

11.00 PM. December, 16th, 2011. Saya pun tersenyum, saat menutup lembaran terakhirnya…

Membaca tulisan seorang biksu, biasanya penuh dengan ilmu filsafat, membutuhkan waktu lama untuk mencernanya. Tapi ternyata, itu tidak melulu benar. Adalah Ajahn Brahm, seorang biksu yang lahir di London, 1951, penulis buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya, yang mampu membuat setiap pembacanya asyik menikmati sajian cerita-ceritanya yang dibingkai dengan kebijaksanaan.

Nama aslinya Peter Betts. Peraih beasiswa dari Universitas Cambridge ini memutuskan menjadi petapa dalam tradisi hutan Thai di usia 23 tahun, setelah meraih gelar Sarjana Teori Fisikanya. Selama 9 tahun berlatih di bawah bimbingan seorang guru meditasi tersohor, Ajahn Chah Bodhinyana.

Ajahn (Thai), memiliki arti yang sama dengan Sensei (Jepang) atau Sonsaengnim (Korea), yaitu guru. Brahm berasal dari Brahmavamso (dibaca: brahmawangso), ditahbiskan setelah ia menjadi petapa. Brahma artinya luhur, sedangkan Vamso artinya silsilah. Karena agak sulit melafalkannya, akhirnya orang memanggilnya Ajahn Brahm.

Di tahun 1983, ia dan kawan-kawannya membangun sebuah biara di Australia, karena saking miskinnya, mereka bertukang dan menyemen sendiri. Atas visi, kepemimpinan dan pelayanannya bagi masyarakat Australia, pada tahun 2004, Ajahn Brahm mendapat mendali John Curtin dari Universitas Curtin.

Selama 35 tahun sebagai petapa, Ajahn Brahm menghimpun berbagai kisah yang menyentuh, menggelikan dan mencerahkan. Nah, himpunan kisah itu, ada ditangan saya sekarang. Gaya tuturnya yang tulus, ceria dan cerdas, menarik hati banyak orang. Menurut saya, untuk level seorang biksu (yang lekat dengan kata SERIUS), sense of humornya cukup tinggi. Konyol. Anda pasti akan tertawa membaca buku ini dan tentunya banyak belajar dari sosok seorang Ajahn Brahm.

Saya terdiam sejenak, ketika membaca tulisan Ajahn Brahm tentang Dua Bata Jelek. Saat itu, setelah membeli tanah untuk wihara tahun 1983, Ajahn Brahm bersama biksu lainnya jatuh bangkrut. Mereka tak cukup membayar tukang. Jadi harus belajar sendiri bagaimana mempersiapkan pondasi, menyemen, memasang batu bata, mendirikan atap, memasang pipa-pipa, pokoknya semuanya. Ajahn Brahm menyebutnya BBC (Buddhist Building Company), keren ya!.

Memasang batu bata tidak semudah yang dibayangkan. Ajahn Brahm memastikan setiap batu bata terpasang sempurna, tak peduli berapa lama jadinya. Akhirnya dia menyelesaikan tembok batu bata pertamanya dan berdiri di baliknya untuk mengagumi hasil karyanya. Namun, ternyata ada dua batu bata yang tampak miring. Mereka terlihat jelek sekali. Mereka merusak keseluruhan tembok. Mereka meruntuhkannya. Namun, semennya sudah terlanjur keras. Ketika mau dibongkar kembali olehnya, sang Kepala Wihara bilang tidak perlu dan biarkan temboknya seperti itu.

Ketika Ajahn Brahm membawa tamunya berkeliling di wiharanya yang baru setengah jadi, dia selalu menghindarkan para tamu dari tembok itu. Ajahn Brahm tidak suka jika ada orang lain yang melihatnya. Hingga 3-4 bulan berlalu, ada seorang pengunjung yang melihatnya.
“Itu tembok yang indah” komentar seorang penunjung dengan santai.
“Pak,” Ajahn Brahm menjawab dengan terkejut ”apakah kacamata Anda tertinggal di mobil? Apakah penglihatan Anda sedang terganggu? Tidakkah Anda melihat dua batu bata jelek yang merusak keseluruhan tembok itu?”
Sang pengunjung pun berkata ” Ya, saya bisa melihat dua bata jelek itu, namun saya juga bisa melihat 998 batu bata yang bagus”. Lalu Ajahn Brahm pun tertegun.

Hhmm, pernahkah anda merasakan hal seperti itu dalam kehidupan anda? Berfokus pada keburukan diri, bukan kelebihan. Kadang kita, tidak sadar bahwa dua bata jelek itu sejatinya memperkaya hidup kita, tatkala kita tidak lagi berfokus padanya.

Saya pun tertawa ketika membaca tulisan Ajahn Brahm tentang Trik Dua Jarinya. Begini ceritanya. Saat beliau masih seorang mahasiswa, guru meditasinya memberi nasihat untuk dipraktikan. Awalnya sang guru menanyakan apa yang pertama-tama dilakukannya begitu bangun pagi.
“Pergi ke kamar mandi”, jawab Ajahn Brahm.
“Apa ada sebuah cermin di kamar mandimu? tanya sang guru.
“Tentu”.
“Bagus. Nah, setiap pagi bahkan sebelum kamu menggosok gigi, saya ingin kamu menatap cermin dan tersenyum kepada dirimu sendiri”.
“Pak!” Ia mulai protes. “Saya ini mahasiswa. Kadang-kadang saya tidur sangat larut dan bangun dengan perasaan kurang enak. Pada pagi-pagi tertentu bahkan saya ngeri melihat wajah sendiri di cermin, boro-boro tersenyum”. (saya : ketawa geli #bayangin diri sendiri).
Sang guru tertawa. “Jika kamu tidak bisa tersenyum secara alami, kamu dapat memakai dua jarimu, taruh di kedua sudut mulut dan tekanlah ke atas. Seperti ini” Sang guru mempraktikannya.

Pada pagi berikutnya, Ajahn Brahm menarik diri dari tempat tidurnya, melangkah terhuyung-huyung ke kamar mandi. Dia menatap dirinya di cermin. ”Aarrgghh!” Itu bukan pemandangan yang manis menurutnya. Sebuah senyum alami tidak bisa muncul. Jadi, Ajahn Brahm meletakkan dua jari telunjuk di kedua sudut mulut dan menekannya ke atas. Lantas, dia melihat seorang mahasiswa muda bodoh menampilkan wajah tololnya di cermin dan dia tak tahan untuk tersenyum. Begitu muncul sebuah senyum alami, dia melihat mahasiswa di cermin tersenyum kepadanya. Ajah Brahm pun tersenyum lebih lebar lagi dan orang yang di cermin pun membalas dengan senyum yang lebih lebar juga. Dalam beberapa detik, mereka akhirnya tertawa bersama-sama.

Saat saya membaca cerita ini, saya pun mencobanya. Konon, trik ini bisa digunakan kapan dan dimana saja, saat kita merasa sakit, bosan atau tertekan. Ternyata, ini sangat ampuh. Haha. See? Sekarang pun saya masih terseyum, menuliskannya. Mengingat wajah bodoh saya. Banyak peneliti yang mengatakan, tertawa bisa melepaskan hormon endorfin ke dalam aliran darah kita, yang dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh dan membuat kita merasa bahagia. Makanya, therapy ketawa saat ini pun banyak digunakan untuk menyembuhkan penyakit.

Andapun akan melihat, senyuman milik Ajahn Brahm yang sangat memikat, di lembaran terakhir buku ini. Hehe. Hhmm, jadi begitu ya, ini mungkin rahasia orang-orang yang memiliki senyuman memikat. Mereka rajin tersenyum kepada dirinya setiap pagi, tak peduli bagaimana pun perasaannya saat bangun. Haha.

Well, sederhana tapi tulus dan mencerahkan. Bisa dibaca oleh siapapun, yang belum membacanya. Tidak salah jika buku ini mendapat 5 star rated di amazon.com (kayaknya saya yang telat baca buku ini).

Syukron jazakumullah khairan katsiran untuk Eonni dan Qory Arquimita yang meminjamkan saya buku ini. Inspiratif!

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: