Skip to content

De Journal

December 10, 2011

One day, if you meet someone, we called it backpacker, wanita dan single pula, pergi ke sudut-sudut wilayah di Indonesia dan 30 negara lain, sendiri. Keluar dari tempurung, tempurung yang konon membuat dunianya hanya terlihat hitam dan putih. How would you respond?

For me, of course she is not ordinary woman. Yup, extra ordinary woman. She is not only brave, but also bright, baik intellectual maupun mentality. Ditambah support dari orang tua yang pastinya open minded, memberikan kepercayaan sekaligus tanggung jawab pada jalan yang diambil anaknya.

Ternyata feeling saya benar, ter-representasikan di opening sentences dan resume biografi sang penulis. Lembar yang selalu saya buka sebelum mengeksekusi sebuah buku. I think, you’ll find what I has found too.

Adalah Neneng Setiasih Ssi, MSi, MSc. Penulis De Journal. Novel ini dirangkai berdasarkan kisah nyata perjalanannya. Pemimpin Yayasan Reef Check Indonesia ini meraih dua gelar master dari Institut Teknologi Bandung dan Institute Science University of East Anglia di Inggris. Terlibat dengan bidang konservasi sejak tahun 1993. Selain sebagai konsultan LSM, lembaga penelitian dan pemerintahan, ia pun dikenal sebagai seorang specialis conservation science management. Neneng juga termasuk satu dari sedikit ahli di kawasan Asia Pasifik yang mencurahkan perhatian serius untuk mempelajari dampak perubahan iklim global pada terumbu karang serta langkah-langkah mitigasi dan adaptasinya.

Membaca paragraf di atas, saya berasumsi, pilihan karirnya cukup mencerminkan karakter dirinya, tidak aneh jika si teteh bisa ber-backpacking solo ke sudut-sudut wilayah di Indonesia dan 30 negara lain . Itu asumsi saya ya. Haha. Salute deh sama wanita-wanita yang begini.

De Journal
Tya. Lahir di Bandung, anak bungsu dari 4 bersaudara. Ayahnya professor di salah satu Perguruan Tinggi Favorit di Bandung. Sedangkan sang Ibu, guru senam dan mantan atlit yang membaktikan diri menjadi ibu rumah tangga. Jauh dari standar kewanitaan, apalagi kalau selalu dibandingkan dengan sang kakak, yang wanita sejati (baca : cantik). Atlet Nasional Pencak Silat. Pecinta Alam adalah club yang dipilihnya.

Setelah lulus kuliah, ia memutuskan untuk melanjutkan S2 (wisudawan terbaik yang mendapatkan beasiswa DIKTI), baginya kuliah jauh mengasyikan daripada bekerja kantoran dengan rutinitas yang membosankan. Tahun pertama studi masternya, Tya sudah menyelesaikan semua kuliah dan penelitiannya. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk ber-backpacking ke timur Indonesia, dari hasil kerja part time-nya di proyek kampus, LSM dan perusahaan Out Bond. Keluar dari tempurung, tempurung yang konon membuat dunianya hanya terlihat hitam dan putih.

Escape From The Ordinary Life
Bukan hanya memutuskan menjadi backpacker dan lepas dari kenyamanan seorang wanita pintar dan cerdas pada umumnya. Tya juga memutuskan hubungan dengan seorang pria yang sudah dibinanya selama 4 tahun. Namanya Bayu. Lelaki Jawa kelahiran Solo, yang semakin dekat dengan kelulusan, semakin ‘serius’ dengan hidupnya. Bagi Tya, itu adalah ‘evolusi’ yang wajar dari seorang ‘Lelaki Jawa’ baik-baik (saya : keselek bacanya, oh, begitu ya? haha). Buat Lelaki Jawa baik-baik ini rumusnya :

lulus kuliah = cari kerja + mengembangkan karier + mengumpulkan uang + secepatnya menikah dan punya anak.

Maka rumus yang dikonversikan untuk seorang perempuan yang diinginkan keluarga Bayu adalah :

lulus kuliah = diem di rumah + (berpetualang dan jalan-jalan)

pernikahan = mengurus suami + mengurus rumah + cari kerja (karena gaji suami pertama kerja pasti nggak cukup untuk hidup berdua)

pernikahan = cape + bosan!

Tya pun sadar, ia bukan tipe isteri yang pantas untuk Lelaki Jawa Sejati, haha. Hmm, buat saya yang orang Jawa nih, rumus itu BENAR pada umumnya. Malahan ada juga rumus dari keluarga ‘Wanita Jawa’ yang seperti ini :

lulus kuliah = cari kerja + mengembangkan karier + mengumpulkan uang + cari suami ‘Lelaki Jawa Sejati’ yang pekerja keras + secepatnya menikah dan punya anak + bersama membentuk rumah tangga berorientasi mapan.

Hedeeh. Rumus ini, cukup banyak diterapkan banyak kalangan lho! (tiba-tiba terlintas wajah BAPAK dan IBU saya, haha). Tapi, bikin rumus baru, rasanya lebih menantang, siapa tahu dapet penghargaan NOBEL ;p. Okay, let’s back to the topic. Pertanyaannya, wanita mana yang mau melepas lelaki idaman, pintar, cerdas, baik, pekerja keras, bertanggung jawab dan serius untuk membina keluarga? Itu impian dan zona nyaman untuk kebanyakan wanita, iya kan? Honestly, I prefer to dwell in a place of safety and comfort. Tapi tidak dengan Tya. Keren ya!

It’s Not About The Destination.., But About The Journey
Tya pun memutuskan memulai perjalanan sendiri ke bagian timur Indonesia dengan motornya, ya namanya Tizi!. Interaksi dengan sesama backpackers dan penduduk lokal, mengajarkannya banyak hal. Menemukan kejadian-kejadian yang membuka mata, bertemu dengan berbagai jenis orang dengan latar belakang dan budaya yang berbeda-beda. Bagaimana bersikap dan menyikapi orang-orang yang hidup di dunia ‘kontroversi’, ketika mereka menjalani hidup dalam nilai dan tatanan yang seringkali dibungkus dalam konotasi negatif bagi sebagian besar masyarakat kita. Konotasi negatif yang seringkali keluar karena ketidaktahuan, ketidakpahaman atau hanya karena ketakutan akan perubahan.

Sebuah perjalanan memang mampu membuat kita berpikir jauh lebih dalam dan bijak. Seperti lagunya Om Ebit ya. #Eh, kok Om?!

Bijak Melihat Warna Lain Dunia
Prostitusi. Apa yang muncul di benak anda pertama mendengar kata ini? Ketika Tya mengunjungi Labuan Bajo, ada sebuah tempat yang ramai dikunjungi, bahkan mengantri hingga berdiri jika musim cumi tiba. Tempatnya tampak seperti klinik. Mungil, bersih dan lengkap dengan tempat duduk panjang untuk mengantri. Sekilas mirip puskesmas, namun itu adalah tempat prostitusi. Kesan formal begitu nampak bahkan menunggu gilirannya cukup berbudaya. Kalau selama ini saya sering mendengar ‘budaya prostitusi’, kini dibalik menjadi ‘prostitusi berbudaya’. #Eh?!

Tentu, prostitusi tidak hanya dimiliki oleh kota-kota besar saja. Di pelosok khususnya daerah pesisir, praktik ini bahkan sudah seperti menjadi rahasia umum. Banyak dari mereka yang menghabiskan kelebihan uangnya untuk this kind entertainment, pelepas kejenuhan setelah menghabiskan banyak waktu di laut, padahal anak-anak penikmat entertainment ini banyak yang putus sekolah. Tapi, itulah satu-satunya hiburan mereka. Hutang tengkulak pemilik perahu dan modal usaha, kondisi laut yang belum tentu bersahabat membuat kehidupan sehari-hari berat, tanpa hiburan.

Bukan hanya prostitusi, pada musim-musim cumi dan ikan, banyak para peminjam modal yang sudah tua bangka menikahi gadis remaja (di bawah umur) dari keluarga miskin sebagai isteri kesekian. Hal itu bisa saja dilakukan karena alasan hutang atau keluarga si gadis yang menjual anaknya agar statusnya naik di mata masyarakat. Tiba-tiba saya jadi teringat dengan Datuk Maringgi dalam cerita Siti Nurbaya atau program Film Televisi Sinema Wajah Indonesia di sebuah stasiun TV swasta, yang kerap mengangkat tema-tema pendidikan, budaya, sosial dan ekonomi di sudut-sudut wilayah Indonesia. Pernah menonton?

“Pastinya pemikiran lo nggak jauh beda dengan apa yang gua rasain pas awal-awal gua kerja di sini. But, you will get to use it” Ujar Deni, teman Tya yang bekerja untuk konservasi terumbu karang di Labuan Bajo.
“Apa yang ngebuat elo get to use it? Waktu?”.
“Waktu dan penerimaan. Bukan berarti kita pasrah. Hanya kita harus arif melihat suatu masalah. Hitam putih itu warna kita waktu belum dewasa. Sekarang semua harusnya abu-abu. Sebelum kita men-judge sesuatu, kita harus bisa memahaminya, memandang sesuatu dari perspektif yang berbeda. Otak manusia yang terbatas, tidak akan mungkin bisa melihat setiap permasalahan dari setiap sudut pandang yang memungkinkan. Jadi, kita harus punya skala prioritas untuk bisa memilah-milih, masalah apa dan sudut pandang apa. Semakin bijak seseorang semakin bagus skala prioritas yang dipilih dan semakin banyak prioritas yang dipilih. Masalah pernikahan dan kawin muda, prostitusi dan lain-lainnya bukan skala prioritas gue di sini. Gua tidak punya keahlian di situ dan gua belum bisa memahami cukup alasan di balik semua ini. So, lebih baik gua fokus ke pekerjaan gua, memberi masukan pengelolaan terumbu karang, bekerja dengan mereka yang memang mau berubah dengan lingkungannya”
“So, harapan ke depan, kondisi lingkungan dan pengelolaan yang baik memberi kondisi ekonomi yang lebih baik, memperkecil gap ekonomi yang ada dan dengan sendirinya masyarakat akan berevolusi dengan perubahan ini ke arah yang lebih baik?”
Deni mengangguk. “Seandainya ada tokoh lain yang kerja untuk bidang sosialnya proses ini sebenarnya bisa dikatalisasi supaya bisa lebih cepat. Tapi kita masih cari-cari” (De Journal, Hal. 74-80).

Jawaban idealis yang realistis, menurut saya. Entahlah, harusnya sudah ada program-program pemerintah baik pusat maupun daerah yang concern dengan hal ini, pertanyaannya apakah itu sudah benar-benar tepat sasaran atau kemanakah perginya program-program dan dana yang sudah digelontorkan? Lelah rasanya jika hanya bergantung kepada pemerintah. Yang jelas, pertanyaannya adalah, kontribusi apa yang sudah saya lakukan, ketika sudah banyak orang (seperti mereka) yang berkontribusi untuk memperbaiki bangsa ini? Malu rasanya!.

Bukan hanya di Labuan Bajo, di buku ini anda juga akan menemukan cerita tentang ‘sampah’ industri pariwisata di Bali, dari ‘ayam’ beneran sampai ‘ayam-ayaman’ atau yang sering disebut ‘bule hunter specialist’. Ada pasar, ada Barang. Teori ekonomi ini selalu berlaku.

Tentunya anda sudah sering banyak mendengar atau membaca hal ini. Tapi, bagi saya cara pandang Tya dan berbagai karakter teman-teman LSMnya cukup memberikan warna yang berbeda. Inilah , sisi lain buku ini yang saya suka.

Dari Cowok Lokal Hingga Bule Sebrang
Membaca buku ini, menguatkan asumsi saya, bahwa wanita yang pintar, cerdas, powerful, karier cemerlang, kadang pemikirannya liar dan berjiwa petualang begini (bahasa kasarnya: semua-semua bisa sendiri, kagak butuh cowok, hehe) pada umumnya lebih comfort dengan cowok bule, soalnya sering ‘dilepeh’ sama cowok lokal, haha. Entahlah, mungkin karena cowok bule itu lebih rasional, menghargai apapun dan tidak tabu dengan kebebasan pemikiran. Dibandingkan dengan cowok lokal yang masih berkutat dengan ego dan harga diri yang tinggi, hehe. Heyy, para lelaki, what do you think? By the way, ini hanya asumsi saya saja ya, keakuratannya masih perlu dikaji :p.

Kelemahan De Journal
Honestly, saya lebih prefer ini dijadikan buku cacatan perjalanan, bukan novel. Tepatnya, seperti membaca artikel tentang analisa panjang sebuah perjalanan. Mungkin begini ya, kalau ilmuan bikin novel? Haha. Pentransferan ilmu jelas terjadi, tapi keterlibatan emosi pembaca kurang sedikit dimainkan. But, over all cukup menambah wawasan dan persfektif cara pandang. Berharap di novel kedua dan ketiga, about Asia dan Eropa, si teteh bisa lebih keren dan cihuuyy.

Buat saya ini recomemded. Entahlah, saya suka cara berpikir si Tya dan beberapa teman-teman LSMnya, yang agak ‘liar’ (soalnya masih banyak yang jauh lebih ‘liar’, ;p), mengambil jalur berbeda dari kebanyakan wanita, salute!. Memandang dan memaknai hidup dengan always be the way they are. Oke, selamat membaca teman and enjoy!.

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: