Skip to content

Negara Kelima #Part 1

November 1, 2011

Duduk lama, menatap belahan jiwa (baca : notebook), ‘berdialog’ tentang apa saja, lantas mengurainya di sudut ruang maya ini, adalah aktivitas yang hampir hilang selama beberapa minggu terakhir. Menulis artikel dan novel pun, hanya menjadi sekedar wacana. Berberapa ujian, terschedule dari hari ke hari. Menantang sekaligus melelahkan. Semoga ini sebuah jawaban. Menjadi ikhtiar sebenar-benarnya ikhtiar. Mungkin, kalau ada peraturan dimana setiap orang yang menjalani ujian berhak diberikan kompensasi fee, maka saya adalah salah satu orang yang paling bahagia dengan peraturan itu. Haha. Oke, let’s talk about this book!

Kenapa Harus Merivew Buku?
Kemarin teman saya bertanya “kenapa sih, harus review buku yang sudah dibaca?” Simple sih alasannya, saya hanya tidak ingin, ingatan saya crash antara satu buku dengan buku yang lain. Haha. Ngaco. Tidak juga sebenarnya, malah banyak benget buku yang belum direview, alasannya klasik, MALAS dan LUPA. Nah ini. Buat saya itu penyakit, harus ada therapinya. Jadilah saya membuat review, supaya tidak lupa dan terlanjur malas. Selain alasan BERBAGI.


Negara Kelima
Penulisnya, sukses membuat saya terus mengulang bacaan dan membolak-balik halaman dialog antara Timaeus dan Critias -_-“. Ada yang kenal? (saya : baru denger). Ketahuan motivasi belajar sejarahnya MINIM. Ini sebenarnya buku lama. Saya beli new edition-nya, hampir dua tahun yang lalu. Tema “Memperingati 100 Tahun Kebangkitan Nasional (1908-2008)” di bawah cover buku ini memang cocok sekali! So, benar-benar telat ya mereviewnya.

Awalnya, bosan membaca bab-bab awal novel ini. Saya berpikir ini hanya novel dengan cerita pembunuhan, organisasi pemberontakan dan teror kepada aparat Kepolisian. Mereka gelisah melihat kekacauan negeri tanpa harga diri ini. Organisasi itu bernama Kelompok Patriotik Radikal (KePaRad). But, I try to analyze once more (masa iya ide sang penulis sedangkal itu?). Well, pasti dugaan saya salah. Bukan karena sudah kenal penulisnya ya, tapi sebuah untaian kata di opening buku ini, membuat siapapun yang membacanya pasti tergetar. Indah!

Benar saja, setelah dilahap habis, ide cerita novel ini CADAS!

Kalau Koran Tempo menulis ini adalah sebuah novel provokatif dan data sejarah serasa renyah, maka saya setuju. Meskipun, ada banyak bagian cerita yang sedikit dipaksakan, juga kejanggalan saat mengungkap tanggal aksi KePaRad (Hal. 356) di bilangan : 18, 20, 23, 1, 1 dan 6, jika mau hitung selisihnya, hasilnya bukan 2 3 9 0 5 (yang di asumsikan 23/9/05). Ahh, apa saya yang error?

Atlantis Tenggelam di Nusantara
Apa pendapat anda, jika Atlantis tenggelam di lautan Nusantara seperti yang tertulis di dalam buku Timaeus and Critias, karangan Plato? Asumsi bahwa Nusantara Kuno adalah titik tengah dunia. Sepanjang tahun mendapat cahaya matahari, sehingga tidak pernah mengalami kondisi yang ekstrem. Di sinilah terdapat sisa hamparan pulau-pulau bekas benua Lemuria, nenek moyang manusia untuk pertama kali memiliki peradaban tinggi. Hingga kemudian bencana itu menenggelamkan mereka. Do you believe?

And what do you think, if Nusantara ini bukan sekedar serpihan bekas colonial Belanda! Nusantara kita mungkin lebih tua dari negeri-negeri utara. Hegemoni utara yang membuat negeri-negeri selatan menjadi kerdil dan lupa akan sejarah panjangnya sendiri.

Lalu, benarkah sejarah tidak lebih dari cerminan masa lalu? Apa yang akan terjadi, jika seseorang terlanjur merasa dirinya adalah dekonstruktor sejati peradaban? Baginya, Indonesia sudah berakhir sejak 1 Desember 1956. Menggerakkan ribuan anak muda, mempersiapkan Negara Kelima. Dan, apa yang akan terjadi jika perjuangan mereka ditunggangi oleh kepentingan oknum aparat penegak hukum negeri ini?

Nah, sebenarnya di point ini saya memiliki ekspektasi berlebih, terbayang ada sebuah konspirasi besar para zionis yang melibatkan pejab(h)at bertopeng negeri ini, karena mengetahui betapa dahsyatnya nusantara. Tapi jadi anti klimaks. Tapi, tetap menarik lah.

Buat yang tidak suka sejarah, mungkin agak sedikit pusing membaca buku ini (saya: salah satunya). But, after you read it, trust me! You never feel regretted! Ini kuliah 2 SKS!.

Saya pun memutuskan untuk membuat dua part dalam review kali ini. Terlalu banyak yang menarik untuk dilewatkan! Nah, mau tahu salah satunya? Monggo, disambi

Sejarah Minangkabau : Sistem Patrilineal menjadi Matrilineal
Menurut Tambo Minang, asalnya dulu Minangkabau memakai sistem patrilineal. Hingga datang masa kejayaan Majapahit yang melakukan ekspansi. Panglima Adityawarman bersiap menyerang dan menguasai Minangkabau. Minangkabau adalah kerajaan yang dikenal sebagai nagari tanpa polisi. Kerajaan yang tidak pernah menyiapkan angkatan perang karena mengutamakan kedamaian. Demi keselamatan rakyat, perang harus dihindari, namun strategi perlu dicari. Diputuskanlah untuk menyambut Adityawarman dengan kebesaran, bukan senjata. Utusan dari Pagaruyung datang menemui Adityawarman. Menyampaikan keinginan Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang (pemimpin di Minangkabau) bahwa Datuak Katumanggungan bersedia untuk memberikan jabatan pucuk alam pada Adityawarman sepanjang ia tidak memerangi rakyat Minangkabau dan harus mau menikah dengan Puteri Jamilan, adik Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang.

Adityawarman bingung. Namun, Datuak Parpatiah Nan Sabatang sudah menyadari pasti Adityawarman akan menerima tawaran itu (hedeeh, memang dasar lelaki, jabatan dan wanita selalu membuatnya melted!), ditetapkanlah adat Batali Bacambua yang langsung merubah struktur masyarakat Minangkabau. Adat Batali Bacambua adalah adat yang mengatur hubungan antara bapak dan mamak. Intinya di dalam rumah tangga terdapat dua kekuasaan, Bapak dan Mamak (saudara laki-laki dari pihak ibu). Ini tidak lebih dari kecerdikan Datuak Parpatiah Nan Sabatang, yang tetap menginginkan akar kekuasaan berasal dari Datuak Katumanggungan. Dengan waris turun dari mamak bukan bapak ini, nantinya akan memposisikan Adityawarman tidak lebih dari raja transisi bukan raja sebenarnya dari alam Minangkabau. Sebab Datuak Katumanggungan yang menyerahkan kekuasaan padanya, dengan system adat yang baru, terkesan hanya menitipkan kekuasaan. Hingga datang masanya nanti kemenakannya lahir dari perkawinan Puteri Jamilan, adiknya, dengan Adityawarman. Dengan adat Batali Bacambua yang dipakai hingga sekarang, waris diterima oleh anak Adityawarman bukan dari bapaknya, tetapi dari mamaknya yaitu Datuak Katumanggungan.

Oh, begitu. Tapi jujur saya masih tidak mengerti. Hehe. Teman nyeletuk iseng “jadi karena Lelaki Jawa ya, para pemimpin di Minang merubah struktur masyarakat sebegitunya, kasihan, korbannya Lelaki Padang…” (lho? maksudnya?). Begitulah, ketika cerita mampu menimbulkan banyak persepsi :p. Tapi, jangan salah! Adityawarman itu keturunan Minang. Ia adalah putra dari penikahan Dara Jingga dengan Tuan Janaka, seorang petinggi istana di Majapahit. Dara Jingga adalah anak Mauliwarmadewa, Raja Malayu yang telah berganti menjadi Darmasraya. Konon, ia mengirimkan kedua puterinya untuk sebuah misi di tanah Jawa.

Mau tau juga, kalau ternyata masyarakat Minangkabau itu keturunan Iskandar Yang Agung. Silahkan click di lanjutan review berikutnya…

Bersambung… Negara Kelima #Part 2

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: