Skip to content

Alergen Harga Resto

October 17, 2011

13.20 WIB. Udara mendadak menjadi hangat, setelah keluar kelas. AC di ruangan sukses membekukan lapisan terluar kulit saya. Langkah kaki terus tertuju ke pintu keluar gedung, sambil sesekali melongok ke kelas lain yang masih tersisa. Nativenya keren-keren! Ngajarnya maksud saya. NGELES. Sampai di depan pintu, kepala menengadah ke langit. Subhanallah terik sekali, perihnya dikulit sudah terbayang. Beberapa teman berkomentar sama. Alhamdulillah, kodidor antar gedung dan pepohonan kampus mampu sedikit menepis panasnya. Begini rasanya kalau bertahun-tahun, berangkat dan pulang jarang bersua dengan matahari. Kebayang perjalanan ke tempat tujuan berikutnya.

Jadi, takut sama matahari? Say No! >>>>> buat apa punya temen kalau Honda Jazznya nggak bisa ditebengin #hahaha rugiii.

Margonda, saat weekend benar-benar ramai dan padat, padahal cuacanya panas luar biasa. Kalau tidak dalam satu rentetan agenda di Sabtu ini, rasanya malas melewati jalan ini. Angkot yang setia ngetem dan mobil pribadi yang tiada henti keluar-masuk di pusat-pusat perbelanjaan. Mau jalannya dilebarin seluas apapun, tanpa kedisiplinan, tetap saja MACET. Saya lebih prefer jalan di friday night after office hour, kejebak rush hour itu pasti, tapi di dalam pusat perbelanjaannya lumayan nyaman dan tidak seramai saat weekend.

“Ngapain ke DMall?” tanya teman. Begini ceritanya. Suatu malam, saya baru tersadar tenyata DMall sudah mengalami renovasi. Telat ya? Nah, ada resto yang viewnya menarik dari luar. Penasaran. Lumayanlah untuk bahan tulisan. Setelah berbulan-bulan lamanya, baru kesampaian, tapi sayang sekarang siang hari. Dua puluh enam tahun tinggal di Depok, hanya butuh lima jari untuk menghitung kunjungan saya ke DMall, itu pun sepertinya tidak terpakai semua. Sama halnya dengan kunjungan ke Margocity. Simple alasannya, karena toko bukunya tidak menarik. Bagi saya hangout saat weekend ya toko buku atau perpustakaan. Kalau saya pergi ke café atau resto itu berarti lagi di traktir :p. Kalau nyantol di ITC berarti ada hal yang harus dibeli, penting dan mendesak. Entahlah, suka mendadak pusing dan mual ketika berada di keramaian. Nah, ini juga yang menjadi alasan saya pergi ke DMall, sepi-lega-nyaman. Teman saya bilang : “lo suka Mall sepi, tapi ownernya kagak, ke hutan atau pulau tak berpenghuni aja sana lo!”. Saya ketawa geli. Yee, hutan juga sekarang rame sama pembalakan liar ditambah ribut patok perbatasan yang sering ilang dan tiba-tiba jadi taman nasional negara orang :p. Pulau di ujung-ujung juga udah dijual ke tetangga, di bikin resort pula, masa pake paspor ke negara sendiri? :p.


Well, perjalanan dari UI ke DMall pun memakan waktu 40 menit. Gambar ini saya dapat dari tulisan Wajah Baru Depok Mall. Eksterior yang baru memang lebih eye catching. Sayangnya, ruko-ruko disampingnya seperti banyak yang kosong atau mungkin sedang tahap renovasi. Setelah masuk melalui pintu utama, ternyata langsung disuguhi café dan resto. Di sebelah kanan ada Dunkin Donuts dan Solaria. Di kiri, Domino’s Pizza (kalau tidak salah), Ichiban Sushi, ahh… ada Gokana Tepan (tempat favorit syuro ngebahas masalah kampus di Atrium Senen) dan McDonald. Di tengah, counter Dorayaki dan Ice Cream membelah jalan menuju escalator, saya lupa namanya. Lalu kami naik ke lantai dua, di ujung sebelah kanan anda akan menemukan resto ini, cukup ramai.

Kami memilih di balkon, kalau malam mungkin viewnya lebih bagus. Daftar menu pun tersajikan. Kok, menunya semua serba Iga? Selain itu cuma ada Ayam Bakar-Penyet, Ikan Gurame Bakar-Penyet, Jamur Crispy Penyet. Kok bakar-penyet semua? Ada sih, Nasi Goreng, Cumi Goreng Tepung, tapi standar kan? Sayurannya, Cah Kailan-Kangkung-Tauge-Genjer. Sisanya minuman, milkshake, aneka ice cream plus ada yang beda : ice cream wadah dan batangan import dari Korea (kenapa Korea coba?). Akhirnya kita pesan Iga Penyet, Garang Asem Iga, Cah Kailan, Lemon Tea dan Lemonade. Sambil nunggu, celingak-celinguk ngeliat interior restonya. Eh, nemu bacaan “Warung Tekko : Spesialis Iga Bakar Penyet”. Saya nunjuk, kasih tau ke kakak. Oallaah. Pantesan menunya iga semua, ternyata memang restoran spesialis Iga. Nepok jidat.


Makanan pun tersaji. Porsinya banyak banget. Pesanan sayuran sukses tertinggal, finally dicancel karena ini sudah kebanyakan. Tinggal saya yang bengong. Sayur di cancel, pesen sayur asem, tahu sama tempe diomelin : “ngapain lo ke sini cuma makan begitu?”. Lah, emang itu yang bisa saya makan -_-‘. Bismillah deh.

Mungkin saya bukan penggemar Iga atau sejenisnya. Jujur, rasanya aneh. Tapi mencoba objektif. Kakak saya bilang ini lumayan enak, apalagi kuah Garang Asemnya (benar sih, apalagi kalau Iganya nggak dimasukin -_-‘, saya pasti doyan), yang paling saya suka adalah sambelnya, apalagi kalau pake tahu, tempe, daun pepaya, wortel dan buncis rebus :p. Terus sayuran yang di Iga Penyet itu bukan lalapan, tapi hiasan! Abisan sedikit banget -_-‘. Nah, kalau masalah harga, menurut saya sih selain kualitas bahan baku, lokasi dan karyawan akan mempengaruhi tinggi-rendahnya cost yang bersinergi dengan harga jual. Untuk di sini, harga Iga Penyet 28.000 IDR dan Garang Asem Iga 34.500 IDR, belum termasuk pajak. Mahal atau tidaknya anda yang menentukan. Saya tidak bisa compare, karena ini kali pertama saya makan makanan begituan, biasanya makan tiwul :p.

Main menu sudah. Sekarang kita beralih ke minumannya. Kalau ini, saya benar-benar kecewa. Rasa Lemon Teanya kayak minuman teh serbuk sachet. Harganya 11.000 IDR lho, tapi bikin serek tenggorokan. Saya rekomendasi Lemon Tea di Bakmi Margonda atau di Gokana Tepan deh, jaauuuh lebih enak. Dan lucunya, di Lemonade kakak saya (ini agak mendingan rasanya) ada binatang yang DAMAI berenang-renang di dalamnya. Haha. Untung udah biasa makan sayuran bareng ULET. Nggak jijik sih hanya menyayangkan saja. Akhirnya Lemonade dan Lemon Teanya digabung jadi satu, dan rasanya jauh lebih baik!.

Agak heran sebenarnya, melihat orang-orang makan dengan lahapnya. Padahal di lidah saya terasa aneh. Mendingan makan sayur asem, tempe dan tahu gorengnya ibu deh. Sama ketika makan Ramen di Gokana Tepan. Kok, orang-orang makannya enak banget. Kayak ngeliat si Naruto makan ramen. Pas dicoba, lah rasa kuahnya mirip sama Indomie buatan bapak saya, yang dioseng dulu pakai cabai rawit, bawang merah, bawang putih, ayam suir terus dimasukin air ditambah potongan tahu putih dan sayuran, baru deh mienya (memang kualitas mienya berbeda). Ekspektasi saya, rasanya lebih dari itu. Hedeehh. Tapi tetap ramai di sana, entahlah mungkin Life Style.

Sesampainya di rumah, setelah sebelumnya pergi ke ITC karena ada hal yang harus dibeli, saya merasakan ada yang aneh. Benar saja, ketika di lihat, alergi saya kambuh. Beginilah, nasib orang desa yang nggak bisa makan aneh-aneh. Tapi kayaknya efek ‘alergi’ harga resto lebih dahsyat (sewot sendiri) daripada alergi sama makanannya :p, padahal ditraktir! Kalau ke toko buku, udah dapet 80% harga buku Atlantis, The Lost Continent Finally Foundnya Prof. Arysio Nunes dos Santos, Ph.D, tinggal nambah sisanya :(.

Nah, untuk teman-teman yang suka makan Iga, silahkan dicoba. Tidak terlalu mengecewakan sih, mungkin untuk minuman anda bisa mencari variasi yang lain. Selamat mencoba.

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: