Skip to content

2 #Dengan Kerja Keras, Tinggalkan Bukti di Dunia Nyata Bahwa Impianmu, Ada..

October 6, 2011


Karena segala sesuatu di ciptakan 2 kali…
Dalam dunia imajinasi dan dalam dunia nyata…
Dengan kerja keras, tinggalkan bukti di dunia nyata bahwa impianmu, ada…


Tidak ada mimpi di alam sadar, impian selalu berada di alam bawah sadar kamu, dan ketika kamu mulai bergerak bersama alam bawah sadar kamu untuk impian kamu, ketika kamu mulai bernafas bersama impian kamu, melangkah bersama impian kamu, melihat bersama impian kamu…, kamu mulai menempatkan impian kamu di tempat seharusnya. Dan bermimpi saja tidak akan pernah cukup dan sebuah impian memang seharusnya tidak perlu banyak dibicarakan tetapi diperjuangkan…

Manusia telah sampai di sini karena hidup tidak ada yang sempurna, hidup selalu melahirkan batas antara harapan dan kenyataan. Karena layaknya hidup adalah tantangan yang harus dihadapi dengan berani dan setiap kita pun tahu, kita menjadi baik karenanya. Manusia tidak akan mencapai tingginya langit dan dalamnya samudra jika hidup adalah sempurna, karena hanya seorang pengecut mengharapkan hidup yang sempurna.

Setiap dari kamu adalah manusia, dan layaknya manusia, hidup tidak ada yang sempurna, tetapi di setiap do’amu, kamu tahu, Sang Pencipta sedikit pun tidak pernah meremehkan kekuatanmu.

Setiap dari kamu sudah berjalan cukup jauh dalam hidup, tetapi setiap dari kamu masih ada perjalanan yang harus kamu tempuh. Langkah kaki kita sudah berjalan cukup jauh untuk sampai di sini, tetapi kita selayaknya percaya kalau masih ada langkah untuk berjalan lebih jauh lagi.

Karena hidup tidak pernah sampai di sini.

Karena untuk hidup dan melangkah adalah sebuah anugrah, tetapi untuk terus hidup dan terus melangkah lagi, bekerja keras untuk setiap impian adalah luar biasa.

Karena hidup tidak pernah sampai di sini.

Karena semenjak ada di muka bumi, dalam hidup, manusia telah saling membuktikan kepada manusia lain bahwa mimpi memang menjadi kenyataan, bahwa keajaiban itu ada. Bahwa dengan mimpi dan kerja keras manusia bisa melakukan sesuatu yang kadang ia sendiri tidak menyangka ia bisa melakukannya, melakukan hal-hal yang jauh di luar kemampuannya, melakukan sebuah keajaiban. (2, Hal. 323)

Untaian ini masuk ke ruang hati saya yang kini kosong. Kosong karena ‘sesaat’ kehilangan impian…, kehilangan orientasi hingga tanpa sadar selangkah demi selangkah kerja keras mengendur dengan suksesnya. Pernahkan anda merasakannya? Semoga tidak ya.

Now, let’s talk about this book. 2 adalah buku ke dua dari Mas Donny Dhirgantoro setelah 5 CM. Covernya eye catching ya? Ceritanya sederhana, tapi yang sederhana biasanya ‘elegant‘, isn’t it?.

Gusni Annisa Puspita, yang lahir dengan segala keterbatasan, sekaligus menjadi kelebihannya. Penyakit genetik over obesitas menggelayut suram di masa depannya. Gusni memiliki seorang sahabat bernama Harryanto Dharmawan, laki-laki yang memiliki perawakan sama dengannya, lahir dari keluarga yang penuh cinta, ketauladanan dan hati yang mulia. Ejekan selalu mendarat kepadanya. Sakit hati? TIDAK. Harry selalu berkata “lebih enak jadi orang gendut, karena ukuran hatinya pasti lebih besar“. NOTED!!. Itu yang membuat Gusni kagum dengan Harry. Di suatu taman dengan kolam kecil, Harry menginspirasi Gusni tentang sebuah cita-cita, dengan berkata “Kata Papa Harry, cita-cita itu…, sesuatu yang baik buat kamu waktu kamu besar nanti. Sesuatu yang buat kamu senang kalau kamu melakukannya, kalau kamu nggak senang, berarti itu bukan cita-cita kamu…”. Saya SEPAKAT dengan Papanya Harry, SEDERHANA tapi penuh makna!. Hingga suatu hari di bulan Mei 2009, kerusuhan di Ibukota Jakarta memisahkan mereka. Restoran Bakmi Nusantara milik keluarga Harry pun tinggal puing-puing berserakan.

Waktu berlalu, dan cita-cita itu masih terus ada. Atlet Bulutangkis Nasional. Ya, itulah impian Gusni. Untuk membahagikan Ayah, Ibu dan Kakaknya. Dia terus berjuang di tengah vonis suram hidupnya, tapi Gusni percaya pada cita-citanya, pada harapannya, pada impiannya…, kalau tidak untuk apa dia hidup. Bermula dari keterbatasan dan raket nyamuk yang selalu menemaninya sewaktu kecil, kini menghantarkan dirinya menjadi Atlet Bulutangkis. “Jangan pernah meremehkan kekuatan seorang manusia karena Tuhan sedikit pun tidak pernah…”, begitu kata Sang Pelatih yang merupakan Atlet Bulutangkis legendaris di bumi pertiwi.

Tahun bergantu tahun. Di suatu hati yang terpuruk, ketangguhan sosok Gusni menginspirasi si pemiliknya yang telah meninggalkan jauh impiannya, terkubur bersama puing-puing reruntuhan.

Gusni tidak sendiri. Gusni memiliki keluarga yang mendukungnya penuh cinta. Ayah, Ibu dan Kakaknya yang senantiasa selalu menjadi sosok tauladan untuknya. Meski, semula terjadi pertentangan, namun Sang Ayah dan Ibu akhirnya yakin dan kemudian menyelaraskan cita-cita, impian, harapan dan do’a dengan sang buah hati tercinta.

Saya kagum dengan perjuangan Ayah Gusni, hingga mata saya terpatri pada sebuah percapakan antara dirinya dan Pak Pelatih yang juga kagum dengan perjuangan Ayah Gusni menghadapi keterbatasan puterinya.

Laki-laki memang belum jadi kali-laki kalau belum merasakan besar dan tulusnya cinta seorang perempuan, tulus, penuh untuknya. Untuk mendapatkan cinta sebesar itu dari seorang perempuan, yang harus dilakukannya hanyalah memberikan cintanya sebesar itu juga, penuh…, tanpa batas…, tanpa balas…”. Tutur Sang Legendaris.

Kamu tahu? Baru di tahun kelima perkawinan saya, saya berikan itu semuanya penuh untuk isteri saya dan keluarga saya, sebelumnya lima tahun saya sibuk di lapangan, bertanah kayu berlangit gelanggang, mengejar prestasi, tidak pernah mencapai tempat tertinggi. Lalu sebuah hari di waktu sore, pada tahun kelima perkawinan saya, saya melihat isteri saya, saat itu juga saya berikan semuanya, utuh, penuh untuk isteri dan keluarga saya, dan sehabis itu…, semua usaha, kerja keras, impian yang saya kejar, langsung datang begitu saja seperti hujan turun dari langit, setiap serve, setiap smash, setiap pertandingan begitu bermakna. Kamu? Kapan?” tanya Pak Pelatih, Sang Legendaris.

Laki-laki itu pun tersenyum. Bukan. Bukan cinta pada pandangan pertama, tapi lebih besar dan masif dari itu semua. Saat seorang laki-laki memberikan semuanya utuh untuk seorang wanita, tanpa batas, tanpa balas. “Kalau saya kayaknya sewaktu pertama kali lihat dia hamil Pak”.

Ya, ia akan selalu ada untuk keluarganya, di saat semua kebahagiaan merekah atau layu, ia akan berdiri di depan memasang badannya untuk kebahagiaan dan kesedihan yang datang. Menjadi pedang dan perisai untuk keluarganya. Karena seorang laki-laki bisa terbang kapan saja kalau ia mau, pertanyaan yang tertinggal hanya untuk apa dan siapa ia melakukannya. Nah, kalau anda kapan? :p.

Well, ketika laki-laki itu menjadi pedang dan perisai yang kuat, maka sejatinya selalu ada pendamping yang kuat disampingnya. Isteri sekaligus ibu yang selalu mendidik putri-putrinya dengan berkata “Mata kamu adalah mata seorang wanita, mata yang akan melihat jauh kedepan tanpa sedikit pun pernah meninggalkan hatinya. Mata yang membuat orang yang melihatnya sadar kalau kecantikan yang sebenarnya berasal dari dalam diri wanita dihadapannya. Kecantikan yang sepenuhnya, mendamaikan sekaligus menguatkan”. Ibu yang senantiasa mengajarkan putri-putrinya dengan berkata “Dan disaat seorang wanita mempunyai rahasia, jauh di dalam hatinya, rahasia itu ia simpan rapih, ia pelihara demi membuat hidupnya dan orang yang dicintainya menjadi lebih indah. Saat itulah seorang wanita memilih untuk menjadi baik. Saat itulah seorang wanita telah menjadi wanita sebenarnya…” dan Ibu yang selalu menanamkan keyakinan pada putri-putrinya dengan berkata “Aku adalah seorang wanita, aku adalah kekuatan, aku adalah kelembutan, aku berani dan kuat, aku berani mencintai dan aku mencintai dengan berani, aku adalah ibu dari cinta, aku adalah sebuah keajaiban…”. What a great mother!. Dan itulah sosok ibunda Gusni.

Buku ini mengingatkan kembali. Bahwasanya ridha, keselaran impian, harapan dan do’a kita dengan orang tua, pasangan hidup serta orang-orang yang kita sayangi akan lebih powerful mengetuk tujuh lapisan langit, melahirkan sebuah keajaiban! Ya, do’a dan ridha sepasang bidadari. Tinggal satu pertanyaan yang tertinggal, sudahkah saya meminta ridha dan menyelaraskan dengan semuanya? Jawaban saya, belum. Tapi, saya yakin anda pasti sudah menyelaraskannya, iya kan?

Well, sangat menyentuh. Banyak yang berpendapat, buku 5 CM-nya Mas Dhonni jauh lebih bagus. Tapi bagi saya, membaca buku itu sama seperti seorang Juri Chef yang selalu menetralisir indra perasanya dengan air putih setelah ia mencoba suatu hidangan dan kembali memulai mencoba hidangan lainnya. Tidak semua hidangan sempurna, tapi masing-masing selalu menyimpan rasa yang berbeda, benar kan?

Direkomendasikan untuk semua kalangan, wa bil khusus altlet maupun calon atlet Bulutangkis Indonesia. Selamat membaca!

Advertisements
2 Comments leave one →
  1. August 4, 2012 5:09 PM

    miss, boleh pinjem bukunya ga? hehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: