Skip to content

Visit to the Ranch…#Part 2

September 11, 2011

Kali ini saya mencoba melanjutkan tulisan perjalanan ke sebuah kota yang bernama Cilebut. Rute silaturahim setelah Tebet-Kebayoran Baru dan Cilodong di hari ke dua Syawal 1432 H. Karena terlalu excitednya di Cilodong -kayak anak kecil punya mainan baru, di kantor nggak ada yang begitu soalnya- , saat tersadar senja merah sudah menghiasi langit sore itu. Jadilah perjalanan dilanjutkan keesokan harinya…

Cilebut adalah nama stasiun yang sering saya dengar, hanya itu. Selebihnya nyerah. Perjalanan hanya memakan waktu satu jam via Jalan Raya Bogor. Lama rasanya, tidak melewati Jalan Raya ke arah Bogor. Banyak yang berubah tapi tidak membuat saya berhenti menatapnya. Nostalgia masa lalu. Hallah. Pagi menjelang siang, sang mentari nampak tidak bersahabat. Setelah sampai di kawasan Cilebut -jangan tanya disebelah mananya cilebut ya-. Ruko-ruko baru dan kluster-kluster perumahan sedang dibangun bahkan beberapa ada yang terbengkalai. Miris melihatnya. Semoga menjadi fokus untuk pemda setempat untuk memperhatikan tata kota dan lahan serapan air. Usut punya usut, ternyata developernya memang agak lambat dan bermasalah. Selain itu, masih menjadi second or third priority untuk pembeli -yang kebanyakan bekerja di Jakarta- mengambil lokasi yang jauh dari stasiun, terbukti perumahan yang lebih strategis sudah terjual.

Tapi let’s see. Dulu di Cibubur, Cimanggis, Sawangan etc tidak begitu padat, tapi kini jangan ditanya, signifikan perubahannya. Banyak yang melirik. Padat luar biasa, ditambah akses pembangungan jalan bebas hambatan menuju tol jagorawi yang masih dalam garapan. Kebayang kan? Nah, kalau daerah ini sudah padat, giliran Citayam, Bojong Gede, Cilebut menyusul menjadi pilihan. Tidak ada habisnya ya? Semoga pembangunan ini pun bisa terus dikawal dan diiringi dengan kebijakan-kebijakan pemerintah daerah yang berpihak pada kemashlahatan umat. Mempersempit ruang gerak developer-developer nakal -yang jauh dari cerdas- dan jelas merugikan. Keep go green! Preventing sumber daya alam dari eksploitasi yang merusak ditangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab!

Well, back to the topic. Kunjungan pertama adalah keluarga suami kakak pertama saya yang kemudian dilanjutkan ke rumah our father’s family. Hanya 15 menit jaraknya, melewati jalanan yang mirip seperti daerah Gunung Kidul-Wonosari. Tiba di lokasi, perhatian langsung tertuju pada peternakan bebek dan entok…, tidak begitu luas tapi cukup menarik!

Ada sekitar 60 ekor lebih bebek dan entok. Niat awalnya hanya memanfaatkan lahan kosong, usaha ini baru dirintis. Semoga sukses dan berkah…

Kata suadara saya, hal yang paling dia suka -membahagiakan- adalah ketika sedang mengambil telur setiap pagi. Sama, saya juga suka kalau lagi panen hasil ternak dan kebun di Gourmet Ranch -korban games di Facebook-.

Hasil jepretannya aneh! Amatiran soalnya -nggak ada yang bagus kata eonni-, tapi buat saya ini tetap bahan tulisan.

Susah ternyata take picture bebek sama entok supaya terlihat semua -nggak bisa diem mereka-, jadi dapetnya yang lagi mengasingkan diri -representasi- hehe…

Last picture…

Setelah take picture, balik ke rumah makanan sudah berjejer rapih. Program diet gagal nih!. Bebek Sambel Ijo, Rendang, Sayur Asem, Manisan Mangga, Rujak, Es Doger, Keripik Bawang, Nastar and all kind cookies lebaran, eat away! Lagi-lagi mirip rampok ini mah. Belum selesai aksi penjarahan kami. Kali ini ditawari membawa tanaman hias -aglonema, kaktus, eforbia dll- yang tidak terawat disana. Mata kakak pertama saya sukses berbinar-binar! -salah nawarin orang, jadi sukses dijarah-.

Ditambah dua kilo telor bebek -ini yang belum ditambah-, tadinya mau dibawain bebeknya sepasang sekalian buat diternak…

Plus berkilo-kilo mangga yang asam luar biasa ini, cocok untuk asinan dan manisan …

Sampai Ikan Mas juga di bungkusin…

Done! Semuanya masuk ke mobil. Ibu saya cuma bisa geleng-geleng. Well, this is what I call ‘berkahnya silaturahim’. Tenang, itu bukan dikonsumsi pribadi, sampai di rumah sekejap langsung habis. Karena didistribusi ke tetangga dan saudara. Keteladanan bapak yang selalu diajarkan ke anak-anaknya. Saya rasa semua orang tua sama, iya kan? Mungkin ini salah satu alasan orang-orang sering membawakan buah tangan apapun ke beliau -selain emang punya anak-anak yang nggak tau malu- :p.

Abis merampok, kami pamit pulang. Terharu rasanya, hi. Sepanjang perjalanan pulang meninggalkan Cilebut, banyak kebun Jambu Merah, berharap ada yang berjualan di pinggir jalan, but till the end : none!. Dan lusanya, guess whatt?? Kakak saya membawa 3 kresek besaarr berisi Jambu Merah. Alhamdulillah. Hasil harta rampasan perang, setelah menginap di rumah keluarga suaminya -untungnya cuma satu mantu yang begini-.

Teriring terima kasih kepada seluruh keluarga di Tebet-Kebayoran Baru-Cilodong dan Cilebut…

Ketika silaturahim, selalu menghadirkan banyak cerita dan makna…

Advertisements

Comments are closed.

%d bloggers like this: