Skip to content

Bakwan Ranjau

August 19, 2011

Membuat bakwan, pasti sudah biasa, tapi menjadikannya ‘istimewa’ itu sebuah keniscayaan. Hallah. Empat jempol untuk ‘mereka’ yang selalu cerdas dan pandai menyajikan hidangan sehat dan lezat untuk keluarga. Siapa dan dimana pun mereka. Bagaimana caranya? Bertanyalah kepada ‘mereka’, karena memang bukan saya ahlinya! Haha.

Buat saya, bikin bakwan ini iseng-iseng berhadiah. Seperti biasa, menelisik isi kulkas. Ada ebi yang belum terberdayakan maksimal (ini sisa bahan makanan sewaktu hajatan kakak saya, juni lalu), cabai rawit yang berjatuhan di kebon bapak, daun bawang, jagung manis, tauge dan wortel yang lagi nganggur. Semenjak alergi menyerang saya 2,5 bulan terakhir ini, ibu selalu menyediakan sayuran-sayuran (yang lagi turun harga pastinya!) di kulkas dan selanjutnya menjadi hak prerogatif saya untuk mengeksekusi. Akhirnya, terpikir untuk membuat ‘Bakwan Ranjau Ebi-Jangung’ (maksa!) dengan alasan utama si ebi dan cabai tidak mubazir terbengkalai begitu saja. Sengaja tidak memasukan tauge, karena akan menjadi mudah gosong ketika di goreng.

Untuk bahannya, biasa tidak ada yang istimewa. Menurut saya, tidak ada ukuran yang mutlak dalam memasak, tapi memperhatikan perbandingan komposisi bahan dasar itu jelas perlu. Haha. Sok ngerti.

Bahan-bahannya :
100-200 gram tepung terigu atau secukupnya (pakai ilmu ‘kira-kira’ deh)
1 butir telur (saya kurangi 1/4 bagian untuk adonan perkedel, reduce sedikit = hemat)
2-3 bungkus ebi kering (di warung di jual per bungkus kecil-kecil)
1 buah jagung manis (bisa ditambah sesuai selera)
2 buah wortel ukuran sedang, potong berbentuk korek api (bisa ditambah/dikurangi sesuai selera)
4 siung bawang merah
1 siung bawang putih
1 tangkai daun bawang atau secukupnya (iris halus)
1/2 sdt ketumbar ((jika suka bisa lebih)
1/4 sdt lada (jika suka bisa lebih)
5-10 cabai rawit merah (dipotong kecil-kecil, sengaja ambil yang merah, untuk ranjau + menambah warna)
3/4 sdt garam atau secukupnya
1/2 sdt gula pasir (selera)
1/2 sdm penyedap rasa ayam (diajurkan tidak memakainya kecuali TERDESAK alias adonan TIDAK BERASA, ;p)

Notes.
Sebenarnya ini resep semuanya hasil kira-kira, intinya secukupnya deh. Alhamdulilah…, berhasil! Kalau gagal, lagi-lagi ini masalah harga diri. Hehe. Ngaco!

Caranya juga biasa. Pertama, haluskan bumbu dasar (ketumbar, lada, bawang merah, bawang putih dan ebi yang telah direndam di air hangat sebelum dihaluskan). Kedua, masukan bumbu, tepung terigu, wortel, jagung yang sudah diserut, cabai rawit merah. daun bawang, garam dan gula lalu tambahkan air secukupnya hingga kekentalannya dirasa cukup, sekalian dirasain kalau ada bumbu yang belum pas. Ketiga, panaskan minyak di api sedang, lalu masukan adonan dan goreng hingga matang, angkat dan tiriskan. Alasi piring dengan tisue, untuk menyerap minyak. Satu resep ini menjadi 12-15 bakwan, tergantung ukuran.

Nah, keesokan harinya, selalu ada cerita. Si Ibu minta dibuatkan bakwan yang sama untuk snack di mushollah, tepatnya malam 17 Ramadhan, kurang lebih 40 orang, :(. Hiks. DERITA tapi jadi AMAL kata Ibu. Insya Allah. Tidak menghabiskan banyak waktu juga. Masih dengan resep dasar yang kira-kira sama, saya lipatkan bumbu menjadi 4 kali and finally… jadi TAK TERKIRA, berlipat-lipat, apalagi untuk si cabai rawit -haha-. Saya juga nambahin tepung beras untuk memberikan efek sedikit kering pada bakwan and of course it works!. Pokoknya dijeburin semua deh yang ada. Meragukan ya!. Ini ‘ilmu khusus’ kalau ada dauroh, untuk para akhwat wa bil khusus ikhwan jangan pernah takut jadi sie konsumsi, masukin aja semua bahan jadi satu, pasti deh jadi makanan, :p -sesat-.

Sepertinya baskom merah dan wajan yang kelam jadi saksi bisu yang setia.

Ini yang sudah jadi, lagi-lagi kurang bagus ambil gambarnya. Jadinya kurang lebih 60 buah. Rasa di luar tanggung jawab percetakan. Haha.

Adik sepupu saya kebetulan datang ke rumah. Dengan santai, dia bilang “bude mau buka lapak gorengan di mana Mba?”. Hedeehh. Ponakan yang SANGAT mengenal baik sang bude -_-“. Beginilah keluarga kami, dibesarkan oleh Bapak dan Ibu pekerja tulen, konon gelar karyawan teladan pun berhasil disabet. Tidak ada yang pernah protes secara frontal, tapi radikal -haha- bercanda!. Nah, ini adalah salah satu efek sampingnya : jarang masak, tapi alhamdulillah kiriman dari tetangga dan sanak saudara selalu mengalir. Hallah. Sekalinya buat makanan yang CUKUP atau SANGAT banyak, saudara & tetangga pun berpikir : pasti ada alasan (baca : event khusus atau hajatan!). Ya, cuma itu seingat saya -haha-. Kalau bukan itu, pasti buat dagangan! (baca : kue kering, lalu kini merambah ke akar kelapa -kalau ini obsesinya si Ibu-, -_-“). Begitulah…

Selamat memasak….
Teriring salam hormat saya kepada ‘mereka’ yang selalu cerdas dan pandai menyajikan hidangan sehat dan lezat untuk keluarga dengan CINTA tentunya dan tidak OVER BUDGET pastinya! Haha. I love you mom, more than ever! and for all mothers in the world…, we love you all! Terus berkarya, mendidik generasi bangsa yang berkualitas dengan hidangan murah, sehat dan bergizi tinggi!. Haha. *tulisan apa sih ini, pagi-pagi udah posting tulisan nggak jelas! πŸ™‚

Advertisements

Comments are closed.

%d bloggers like this: