Skip to content

Episode Darsem #Culture Shock-Butuh Pendampingan

August 8, 2011

SUMBER FOTO : TRIBUNNEWS/HERUDIN

Adzan untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya berkumandang. Berita petang di TVOne atau Metro TV sudah menjadi program yang biasa menemani keluarga kami. Episode Nazarudin sedikit meredup memasuki bulan ramadhan dan kini berganti Darsem yang tengah menjadi sorotan. Tentunya kita masih ingat siapa Darsem. TKI yang menerima sumbangan pemirsa TVOne sebesar Rp 1,2 miliar, setelah lolos dari hukuman pancung di Arab Saudi. Awalnya uang sumbangan itu digalang dari pemirsa TVOne untuk membayar denda Darsem akibat tuduhan pembunuhan di Arab Saudi. Kinerja dan birokrasi pemerintah yang dinilai cukup lamban, membuat masyarakat kini lebih percaya pada media dan bergerak aktif, berharap penggalangan dana ini pun mampu menyadarkan pemerintah akan tugas-tugasnya mensejahterakan masyarakat. Uang itu mulanya akan digabungkan dengan dana pemerintah untuk menebus denda yang besarnya Rp 4,7 miliar, namun denda dibayar sepenuhnya menggunakan dana dari pemerintah (padahal di awal pemerintah menyebutkan tidak ada dana -_-“, lagi-lagi perlu desakan rakyat). Karena uang tidak jadi digunakan untuk membayar denda, kemudian TVOne memutuskan untuk memberikannya kepada Darsem di acara Jakarta Lawyers Club. Karena uang itu memang menjadi hak Darsem. Saya pun masih mengingat janji-janjinya ketika Darsem menerima dana itu.

Cukup speechless, ketika melihat wawancara TVOne dengan Darsem petang tadi. Saya dan eonni cuma bisa bengong. Saya pikir, siapapun yang melihatnya akan bereaksi sama. Ya, Darsem kini menjadi miliarder dadakan. Culture shock. Banyak sorotan, mendapat julukan sebagai “toko emas berjalan” karena banyak memborong perhiasan. Darsem mampu membayar hutang, membeli sawah, membangun rumah dan sebagainya. Tapi bukan ini yang menjadi sorotan saya. Alasan dan jawaban yang kemukakan Darsem begitu enteng dan sederhana. Miris-Geli-Prihatin. Apalagi ketika Darsem menjawab : “yang namanya sumbangan itu kan serela-nya, ya saya relanya segitu…” (dengan wajah polos, tanpa merasa bersalah, bener sih-nggak salah :D), ketika ditanya tentang jumlah dana sumbangan yang telah diberikannya kepada Keluarga Ruyati (juga sedekah/sumbangan lainnya). Tingkat pendidikan dan pemahaman, cukup berkontribusi membentuk mindset seseorang. Orientasinya berbeda. Kami yang melihatnya menjadi khawatir, tetapi semoga kekhawatiran itu tidak terjadi.

Kalau mau ditanya ulang kepada Darsem : apakah dia tahu kenapa pemirsa TVOne menggalang dana itu untuknya, saya agak sangsi mendengar jawabnya. Bahwa ini adalah bentuk kepedulian terhadap sesama. Mengertikah dia tentang amanah atau beban moral yang ia pikul setelah menerima dana sumbangan tersebut? Salahkah Darsem? Sulit menjawabnya. Nah, seharusnya ada pendampingan untuk Darsem dan keluarga, setelah dana itu diberikan, baik oleh TVOne atau LSM pendamping atau mungkin pemerintah (pemerintah yang mana ya? :D). Pemberian pemahaman sekaligus pendidikan (baca: assistensi) secara bertahap, tidak dilepas begitu saja. Sehingga tujuan awal penggalangan dana ini pun tepat sasaran, menjadi sumbangan yang bersifat membangun dan mendidik. Rasanya agak sulit mengharapkan Darsem membangun yayasan atau menyalurkan dana tersebut ke yayasan yang menyuarakan hak-hak TKI, jika tujuan awal penggalangan dana ini pun belum sejatinya dipahami oleh Darsem. Entahlah, mindsetnya mungkin berbeda. Nah, akan-lebih-sulit-lagi jika Darsem sudah merasa uang-itu-adalah-miliknya. Bukan milik kepentingan umum. Kalau sudah begini, maka ikhlaskan :D.

Satu hal yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah kalau topik ini hanya akan sekedar menjadi konsumsi pemberitaan media tanpa solusi. Kasihan, kalau sebenarnya Darsem juga tidak mengerti apa yang dia lakukan. Pembelajaran untuk kita semua. Semoga tidak timbul masalah sosial lainya dari peristiwa ini dan bisa menjadi masukan untuk semua pihak.

Saya jadi berpikir, jika hampir semua kualitas TKI kita seperti ini maka wajar menjadi bulan-bulanan negara lain ya. Tanpa bermaksud merendahkan. Kira-kira Berapa persen dari seluruh total TKI yang benar-benar memiliki skill baik human skill, technical skiil, conceptual skill etc ? Belum masalah ke-ilegal-an, yang sukses mengantarkan kita pada position bargaining yang lemah. Rasanya lebih mirip disebut human trafficking. Lalu, kemanakah peran dan kinerja pemerintah? Kalau sudah begini, semua kerap lempar tanggung jawab.



Note.
Ilustrasi Foto diambil dari sumber Tribun News

Advertisements

Comments are closed.

%d bloggers like this: