Skip to content

Habibie & Ainun

August 7, 2011

“Hidup mulai terasa agak berat. Berat bukan karena beban pekerjaan di rumah tetapi karena rasa kesendirian. Oberforstbach sebuah desa; kalau mau ke Aachen untuk keperluan tertentu seperti memeriksa kandungan ke dokter orang harus naik bis. Bis hanya ada setiap dua jam pagi dan sore hari.

Hidup terasa sepi sekali; jauh dari keluarga, jauh dari teman-teman, jauh dari segala-galanya. Tidak ada yang dapat diajak ngonbrol. Berbahasa Jerman pun waktu itu kurang disukai. Bahasa Jerman ex-SMA ternyata tidak begitu menolong. Yang ada hanya suami tetapi suami pun pulang larut malam. Ia harus bekerja, ia harus menyelesaikan promosinya.

Penghasilan kami pas-pasan : mendapat setengah gaji seorang Diploma Ingineur, oleh karena bekerja setengah hari sebagai Asisten pada institute Konstruksi Ringan Universitas, enam ratus DM lagi dari DAAD, Dinas Beasiswa Jerman. Untuk menambah penghasilan, suami dengan mencuri-curi waktu bekerja sebagai ahli konstruksi pada listrik kereta api mendisain gerbong-gerbong berkonstruksi ringan. Waktu sangat berharga dan harus diatur ketat : pagi-pagi ke pabrik dulu, kemudian sampai malam di Universitas. Pukul 10.00 atau pukul 11.00 malam baru sampai di rumah dan menulis disertasi. Kemana-mana naik bis, malah karena kekurangan uang untuk membeli kartu langganan bulanan, dua tiga kali seminggu ia jalan kaki mengambil jalan pintas sejauh limabelas kilometer. Sepatunya berlobang-lobang; baru menjelang musin dingin lobangnya ditambal.

Soalnya pengeluaran tetap meningkat di samping keperluan sehari-hari perlu ada tabungan untuk hari depan. Harus membayar asuransi kesehatan dan ternyata asuransi kesehatan bagi wanita hamil cukup tinggi karena memperhitungkan segala kemungkinan; rumah sakit, terjadinya komplikasi dsb-nya.

Untuk menghemat, sejauh mungkih semuanya dikerjakan sendiri : mulailah saya belajar sendiri menjahit. Lama kelamaan jahitan saya tidak terlalu jelek : memperbaiki yang rusak, membuat pakaian bayi, merajut dan menjahit pakaian dalam persiapan musim dingin. Maka tidak kebetulan bahwa yang pertama kami beli sebelum Ilham lahir adalah mesin jahit. Bukan mesin cuci, bukan oven yang serba otomatis, bukan perlengkapan lainnya. Tetapi mesin jahit. Itulah prioritasnya waktu itu. Mesin jahit diperlukan untuk persiapan-persiapan. Dengan bertambahnya anggota keluarga, tentu biaya hidup meningkat : untuk makanan bayi, untuk dokternya, obatnya, untuk ini dan itu.”
Catatan Ainun dalam SABJH, Hal. 383 / Habibie dan Ainun, Hal. 18-19.

Benar saja, ketika kesuksesan berawal dari kerja keras, tekun dan ulet. Awalnya saya tidak mengira ini adalah kehidupan Bapak Habibie dan Ibu Ainun. Membina rumah tangga mandiri tanpa melibatkan keluarga. Saya cukup ‘tertampar’ ketika membaca beliau berjalan kaki mengambil jalan pintas sejauh limabelas kilometer, sepatunya berlobang-lobang, baru menjelang musin dingin lobangnya ditambal. (saya : berkaca diri! sering mengeluh, dengan perjuangan yang tidak seberapa!). Begitu pun ketika membaca mesin jahit menjadi pilihan utama Bu Ainun (baca : cerdas & bijak), dibanding oven atau mesin cuci (saya jelas, memilih dua yang terakhir -siapa yang nanya?- haha), tapi itulah bedanya sebuah kemandirian dengan kemanjaan fasilitas. Catatan Ibu Ainun, membuat siapa saja (baca : wanita) yang membacanya berpikir dalam dan beliau layak menjadi tauladan. Saya pun percaya banyak Ainun-Ainun lain di bumi ini.

“Saya belajar menggunakan waktu secara maksimal sehingga semuanya dapat terselesaikan dengan baik, mengatur menu murah tetapi sehat, membersihkan rumah, menjahit pakaian, melakukan permainan edukatif dengan anak, menjaga suami, membuat suasana rumah yang nyaman; pendeknya semua yang harus dilakukan agar suami dapat memusatkan perhatiannya pada tugas-tugasnya. Saya belajar tidak mengganggu konsentrasinya dengan persoalan di rumah… Catatan Ainun dalam SABJH, Hal. 385 / Habibie dan Ainun, Hal. 38.

Luar biasa. Saya bertanya di dalam hati? beginikah seharusnya seorang isteri, membuat suasana rumah yang nyaman, tidak mengganggu konsentrasi suami dengan persolan rumah tanpa mengurangi komunikasi dan diskusi dalam mengambil setiap keputusan. Diskusi. Bukan keputusan berlandaskan ego atau dominasi satu pihak. Jika ada pepatah yang mengatakan “di balik kesuksesan seorang pria ada wanita kuat dan istemewa dibelakangnya”, bisa jadi teori itu mutlak. Menurut saya, iya.

“Setelah Thareq (anak ke-dua) agak besar, sudah berumur 4 tahun, saya memberanikan diri bekerja. Memang terasa suatu keputusan tersendiri. Saya profesional. Saya mandiri. Penghasilan pun lebih dari cukup : hampir mengimbangi penghasilan suami. Saya bisa membantu suami membeli tanah dan rumah di Kakerbeck. Juga di desa. Juga jauh dari kota. Waktu berumur 6 tahun Thareq sakit keras. Dan terasa ada suatu yang mengganjal, sehari-hari mengurusi anak orang lain padahal anak sendiri tidak terawat. Maka kembalilah saya pada falsfah hidup di Oberforstbach : falsafah hidup mengutamakan anak dan keluarga daripada mencari kepuasan profesional dan penghasilan tinggi. Menyesalkah saya mengambil keputusan itu? Menyesalkah saya berketetapan menjadi pecinta, isteri dan ibu? Catatan Ainun dalam SABJH, Hal. 387 / Habibie dan Ainun, Hal. 62.

Melepaskan ego, tentu tidak mudah. Tapi ibu Ainun mampu, tanpa menghilangkan eksistensi profesinya. Ada beberapa kondisi, dimana kita : wanita, isteri sekaligus ibu ‘dituntut’ bekerja, dengan alasan dan latar belakang berbeda. Rasanya sangat egois kalau berpikir : harus memiliki suami MUTLAK berpenghasilan tinggi! (emang siapa lo? -begitu celetuk teman saya-, haha). Situasi ini terkadang mengantarkan pada situasi yang dilematis. Jadi berpikir membuat artikel “Wanita Bekerja : Tuntutan atau Eksistensi?”. Ini tidak berbau feminis kan? -haha-. Wanita, isteri sekaligus ibu, dia adalah manager terbaik dari semua perusahaan manapun di dunia ini. Hmm, kalau saya bilang direktur, suaminya apa ya? Oh, President Director atau maybe CEO-nya kali ya.

Kesan saya pun begitu mendalam pada sikap Pak Habibie ketika dipanggil untuk kembali ke tanah air, membangun perdigantaraan Indonesia. Merinding saya membacanya. Saya baru tahu, kalau awalnya secara struktural : teknologi perdirgantaraan itu dinaungi oleh Pertamina, karena memang saat itu industri Migas telah tereksplor di negara kita. Lebih baik lagi, jika menambah referensi bacaan pada fase itu hingga Pak Habibie memegang amanah sebagai Presiden RI. Hanya saja saya belum melakukannya. Penyakit : MALAS. Padahal itu penting.

Kelemahan di buku setebal 323 ini adalah editing yang kurang baik (baca : teknis), mungkin karena ini cetakan pertama, ditambah gaya Pak Habibie yang random dalam bercerita (begini kali ya kalau orang pinter?). Nah, kalau kelemahan otak saya adalah ketika Pak Habibie bercerita tentang pemanfaatan serat karbon yang disatukan dengan bahan organic epoxy yang dipakai pesawat tempur Tomcat Interceptor F-14 sehingga menandingi pesawat tempur Rusia MIG 25 ditambah penjelasan teknik pembuatan pesawat dengan ilmu-ilmu aneh, sukses membuat dahi saya berkerut, nggak ngerti!. Berasa sok pinter, saya coba baca ulang lagi – terus dibaca ulang, hingga berujung pada sebuah kesimpulan : Ok, kita skip bagian ini! Hahaha. Sadar kapasitas otak. -_-“.

Sahabat, banyak ibrah yang akan anda dapatkan di buku ini. Semoga tidak terlambat untuk selalu berbagi.
Selamat membaca!

Advertisements

Comments are closed.

%d bloggers like this: