Skip to content

Pressure Cooker-Part 2 #Ayam Tulang Lunak Kremes Maksa

August 6, 2011

Kali ini eonni menawarkan sebuah resep masakan Ayam Tulang Lunak Kremes dengan bantuan resep dan sudah diuji di Arta Cakes & Cookies. Tapi beda orang-beda tangan-beda rasa-beda hasil pula. Jangan ketawa dulu ya!. Bumbu sama, tidak saya rubah. Kali ini Saya memasak bersama kedua kakak saya. Dapur mendadak jadi heboh, meskipun berguguran satu per satu :D.

Bumbu sudah disiapkan. Meskipun tidak semua lengkap. Namanya juga seadanya :D. Bumbu dihaluskan semua, di tumis sebentar bersama ayam. Lalu dimasukkan ke Panci Presto, selama 90 menit. Hanya saja ini bukan Presto Listrik seperti punya Mba Arta. Awalnya memang agak ragu, karena Pepes Presto Ayam dan Ceker kemarin pun butuh waktu lebih dari itu, apalagi ini satu ayam utuh. Ini dia, setelah 90 menit.

Dagingnya hampir copot semua, tapi si tulang sebagian belum kunjung lunak. Ada yang salah dalam tehniknya. Yah, namanya juga chef jadi-jadian, :D. Selama menunggu saya mengerjakan Kolak Biji Salak dan Pisang. Seperti yang saya tulis sebelumnya, bahan kolak bisa 2 kali masak dan saya mau membuatkan jika diantarkan ke beberapa tetangga yang membutuhkan. Ibu pun setuju. Kali ini ditambah pisang nangka yang udah matenggg banget -_-“. Biasa, ibu suka lupa kalau punya bahan makanan. Langkah-langkah masih sama. Tapi koki masak pun berguguran, yang pertama udah tewas! Alias tidur. Tinggal saya dan eonni. Eonni masih sibuk nyari cara bikin keremesan. Hahaha.

Mengolah santan lumayan pegel, apalagi porsinya ditambah tapi dengan perbandingan yang hampir sama seperti resep kemarin. Hanya pisangnya saya rebus terlebih dahulu, sehingga mengurangi rasa asam. Itu ide saya sendiri. Ngarang ya. But, it works!

Kolak selesai, si eonni masih sibuk and bete buat kremes, dari yang gosong – lengket – gagal – buat lagi adonan baru (udah bolak-balik serching ke Ust. Google, apa daya gambar dan hasil berbeda jauuhhh) dan tetap gagal. Padahal itu sisa kaldu masih bisa dibuat opor tahu sama telor, untung si ibu nggak tau, bisa ngamuk nanti. Sayang saya lupa ambil foto adonan terakhir, yang lebih mirip sama lem aibon -hahaha-, itu sagu dituang semuanya. Chef Utama, kehilangan kecerdasan kali ini, mungkin dampak ngurusin Per-Kereta Api-an Indonesia. Ini gambar kaldunya, hikss.

Ini ketika membuat keremesnya…, ada yang jago? Kasih tau caranya ke kita ya :).

Eonni nyerah dengan kremesnya. Kakak saya yang pertama bangun. Bengong. Bertanya-tanya itu teh adonan kremes apa lem? Nggak ada yang bisa jawab. Emang sama. Tersisa satu masakan lagi, Oseng Sawi Putih + Tahu. Saya serahkan kepada kakak pertama saya. IMPAS. Hehe. Doi baru mau masak udah rewel, nyari telenan nggak ketemu, ternyata mah disenderin sama ibu ke tembok yang warnya porselennya mirip sama si telenan. Hedeeehh. Osengan pun selesai.

Azan maghrib berkumandang. Ayam Tulang Lunak Kremes Maksa, Oseng Sawi Putih + Tahu dan Kolak Biji Salak + Mutiara + Pisang disajikan.






Kalau difoto pakai Smart Phonenya eonni, beda ya sama yang sebelumnya. Haha. Nah, kita mulai dari Tumis Sawi Putih + Tahu. Warna cantik tapi rasanya…, heuheu pahit. Mungkin pengelolaan sawi putihnya salah tehnik atau emang pahit. Kakak pertama saya bilang : “kan, nggak dirasain!”. Ngeless. (inget waktu lagi masak tumis labu, ternyata labu yang abis diremes pakai garem belum dicuci sama si ibu, eh…, udah langsung saya tumis. Kebayang rasanya!). Akhirnya si Bapak bilang : “udah, nggak papa,namanya juga lagi puasa”. Okelah. Lanjut ke Ayam Tulang Lunak Kremes Maksa. Kami saling menatap. Wahh, bumbunya jauuuuuh baaaanget, alias nggak berasa! Padahal sesuai resep ya! Di mana salahnya haaayoo!. Sinergi feeling dan kreatifitas melemah! Terakhir, Kolak Ubi + Pisang. Wah, kalau ini langsung abis, tinggal sedikit! NARSIS. Lah, emang dianter-anter. Komentar dari eonni : “besok, jualan kolak aja gih”. Jyahh. Tapi boleh juga. Bapak, Ibu dan Kakak Ipar juga bilang enak!. Lumayanlah, orderan kue dibatasi hanya internal (untuk tidak dikatakan ditiadakan), banyak hal yang dipertimbangakan. Nah, muncul pesenan yang ringan-ringan : Macaroni Schotel ditambah Kolak kali ya :D.

Tinggal si Kakak Ipar yang perutnya diaduk-aduk sama masakan-maksakan aneh. Tapi doi lama-lama akan terbiasa :D. Dan si ibu masih menelisik apa yang terjadi di dapur, melihat bahan-bahan sembakonya. Soalnya waktu pulang, ibu ngeliat adonan kayak lem aibon di buang ke selokan belakang. Bapak juga marah, bikin mampet katanya. Pas ditanya, nggak ada yang ngaku :D. Yang buang di selokan itu kakak pertama saya, atas suruhan saya, tapi yang rusuh kan si eonni (kakak kedua saya), bikin lem aibon sepanci!. Maling teriak maling ya. Kalau tau, itu lem aibon sebenernya kaldu sama santan yang bisa buat opor, dijamin pasti ibu bakal ceramah semaleman :D. Punya anak tiga-tiganya cewek, tapi erroorr semua -_-“. Hedeeehh.

Advertisements

Comments are closed.

%d bloggers like this: