Skip to content

Cooking by Feeling

August 6, 2011

When you get off-day, what would you do? Cooking! Hmm, looks funny. Ok, let see ya. Lama tidak terjun di dapur kaku juga ternyata! Hallah. Emang nggak pernah terjun ke dapur. Mata saya tak henti menatap ke segala penjuru dapur, mengais segala yang tersisa. Itu kebiasaan saya. He. Waah, ada Ubi, Gula Palem dan Vanili sisa bahan Cookies Lebaran tahun lalu (Eiiitt tunggu dulu! belum expired lho! tapi hampir expired!, it’s doesn’t matter rasa dijamin enak!), si bongkahan-bongkahan Gula Merah dari toko Ibu (ini nasib kalau punya toko, yang nggak bisa dijual otomatis beralih ke dapur sendiri), Tepung Sagu yang tersisa. Siip, berarti bisa bikin Biji Salak, lumayan iseng-iseng. Kebetulan sepupu saya datang, diasistensi sama doi yang sering berjibaku di dapur. I ask my father to bring Santan Kara (tepatnya BELI ya, bukan minta) and picks some pandan leave from our yard’s shop. Ok, lengkap!. Lalu, saya membuka kulkas. Ada sisa Buncis, Tahu Putih, Bakso ditambah Baby Corn segar yang saya beli di Hypermart. Cek si Saus Tomat, Saus Sambal dan Saus Tiram, ada (yang ini baru beli, bukan sisa ya :p). Ok, let’s cooking. Tanpa ukuran. Kita kira-kira saja ya.

First, ‘Biji Salak’
1/2 Kg Ubi (harusnya 4 buah, tapi 1 rusak, kalau diikut sertakan akan mempengaruhi rasa)
1/4 Ons Mutiara (saya hanya memakai setengahnya, jadi bisa 2 kali masak)
2 Buah Gula Merah
4 Sendok Makan Gula Palem
2 Sendok Makan Gula Pasir
2 Sendok Teh Vanili / 2 Bungkus Vanili
2 Lembar Daun Pandan
2 Sendok Makan Tepung Sagu / Secukupnya sampai adonan kalis
2 Buah Santan Kara
4 Gelas Air

Kita hitung kasar harga dulu ya, mari buktikan apakah ini murah-meriah?
1/2 Kg Ubi (1 Kg Rp 4.000,-, jadi Rp 2.000,-)
1/4 Ons Mutiara (saya pakai setengahnya, jadi Rp 1.000,- kan ya?)
2 Buah Gula Merah (harga satuan di warung @ Rp 1.000,- x 2 = Rp 2.000,-, kalau saya pakai yang bongkahan :D)
4 Sendok Makan Gula Palem (wah ini gratis, tapi nanti saya coba tanya ke ibu :p)
2 Sendok Teh Vanili / 2 bungkus Vanili (kalau tidak salah harga satuan di warung @ Rp 250,- x 2 = Rp 500,-)
2 Lembar Daun Pandan (tinggal metik, kalau nggak punya minta sama tetangga :p)
2 Sendok Makan Tepung Sagu (ini juga, pasti di dapurnya ada deh!, 1/4 Kg Rp 2.000,-)
2 Sendok Makan Gula Pasir (ini mah pasti ada ya)
2 Buah Santan Kara 65 ml (harga satuan di warung @ Rp 2.000,- x 2 = Rp 4.000,-)
4 Gelas Air (kalau ini nggak ada, bisa diambil ke rumah saya :D)
Nah, kira-kira Rp 12.000,- ya modalnya, semoga tidak lebih. Kata ibu sih harusnya bisa lebih murah! -_-“,. Iya juga sih, kalau santannya diganti yang biasa/parut sendiri dan nggak pakai Gula Palem. Tapi justru ini kualitas yang mempengaruhi rasa. Hallahh. Kalau beli eceran memang mahal ya.

Langkah Pertama. Panaskan air, lalu rebus mutiara hingga matang. Tandanya sampai tidak ada bulatan putih di mutiara. Ini membutuhkan waktu yang agak lama, jika sudah matang, saring lalu masukkan ke dalam air dingin supaya tidak lengket.


Langkah Kedua. Sambil menunggu mutiara matang. Potong-potong Ubi, lalu rebus hingga empuk. Haluskan, tambahkan garam, gula pasir dan sagu secukupnya. Aduk hingga adonan kalis. Bentuk bulat-bulat.


Panaskan air, masukkan biji salak ke panci, jika sudah mengapung angkat, rendam di air dingin supaya tidak lengket (air matang ya, saya pakai air metah :D), tiriskan lalu masukkan ke dalam wadah. Karena saya tidak akan mencampur dengan air santannya. Jadi, disajikan jika ingin dimakan.

Jika anda ingin mendapatkan efek sedikit kental di kuah santannya, mungkin bisa merebus biji salak bersamaan dengan santan dan gula merah, tapi saya tidak melakukan itu.


Langkah Ketiga. Campur 2 x 65 ml Santan Kara dengan 4 gelas air ke panci, masukkan Gula Merah yang telah diiris halus, Gula Palem, Gula Pasir, Vanili dan Daun Pandan. Aduk terus perlahan dalam api sedang hingga mendidih, supaya santan tidak pecah. Dinginkan lalu saring, dan masukkan ke dalam wadah.

Langkah Keempat. Siapkan gelas atau mangkuk. Letakkan Mutiara dan Biji Salak sesuai selera lalu tuangkan kuah santannya, tampahkan es batu jika suka. Selesai. Kurang lebih 6-8 porsi, tergantung gelas atau mangkuknya juga. Haha.


Second, ‘Tumis Buncis-Jagung Saus Tiram’.
Baby Corn (1 Bungkus Rp 6.000,- / saya ambil setengahnya)
Bakso Satu Bungkus (Rp 3.000,- / saya ambil setengahnya)
Buncis Satu Genggam (menurut sepupu saya segitu Rp 2.500,-, harganya lagi naik)
Tahu Cina Besar 1 Buah (Rp 3.500,- saya ambil setengahnya)
4 Siung Bawang Putih. Cincang Halus
5 Siung Bawang Merah. Iris Halus
5 Cabe Merah. Iris tipis.
6 Cabe Rawit Merah. Iris tipis.
1 Sendok Makan Saus Tiram.
1/2 Sendok Makan Saus Tomat (sesuai selera).
1/2 Sendok Makan Saus Cabe (sesuai selera).
Daun Salam, Lengkuas dan Tomat secukupnya.
Gula Pasir Secukupnya.
Garam Secukupnya.
Penyedap Rasa secukupnya, lebih aman tidak dipakai.

Langkah Pertama. Siangi, lalu potong/iris semua bahan yang akan dipakai, lalu sisihkan. Potong Tahu Putih panjang-panjang, lalu digoreng sebentar, sisihkan. Rajang semua bumbu dapur.






Langkah Kedua. Tambahkan margarin/minyak sedikit ke penggorengan, tumis Bawang Putih hingga harum, Bawang Merah, Cabe, Lengkuas dan Salam. Masukkan Bakso dan Baby Corn hingga sedikit layu, Buncis dan terakhir Tahu. Masukkan ketiga saus, garam dan gula secukupnya. Jika sudah matang sajikan di piring. Ini untuk 5-7 porsi. Apalagi kalau ngambilnya dikit-dikit plus bisa dimakan bersama Tempe Goreng :D.


Ini menu biasa kan? pasti sudah sering masak ya, pssttt ini standar komplit lho kalau di rumah saya :D. Tapi bukan itu yang mau saya bahas, dari semua bahan utama yang ada, bisa untuk masak 2 kali (sekali masak untuk 2 kali makan). Hmmm, hitungan kasarnya kurang lebih Rp 25.000,- untuk 5-6 orang di rumah, 2 kali makan, sahur dan berbuka. Kira-kira hemat apa mahal ya! :D. Dipikir-pikir, kalau sebulan meskipun tidak selalu dengan ta’jil, belum termasuk tambahan Ayam atau Ikan, Minyak Goreng, Gas, Telor, Tepung Terigu, Bawang Merah, Bawang Putih, Cabe plus Bumbu Dapur lainnya, bisa kira-kira Rp 750.000,- s,d Rp 1.000.000,-! Haahhhhh??! Mahal banget ya! -garuk-garuk kepala-. Waduh, pusing sendiri. Tapi sepertinya bisa ditekan. Salute sama ibu-ibu rumah tangga yang teladan mengelola budget. Khawatir diprotes sama ibu-ibu, kalau-kalau ternyata kebutuhan sebulan lebih mahal dari hitungan saya :(. Lieuurr euy. Menurut saya Rp 750.000,-/bulan itu sudah mahal, soalnya belum termasuk kebutuhan bulanan seperti biaya sekolah, listrik, telepon, asuransi, susu anak, nutrisi, sabun, detergen, etc. Asa…, mengerikan! Inilah kenapa mencari nafkah itu begitu UTAMA, hikss. Prinsip masak yang ada/seadanya atau makan seadanya :D, mungkin bisa membantu menekan budget bulanan, dengan resiko mengancam kesehatan :D. Bercanda. Topiknya berubah menjadi budget bulanan. Pasti bisa, insya Allah!. Saya benar-benar masih harus banyak belajar!.

Kembali ke topik. Nah, coba tengok dapur ibu kita deh, cari bahan yang ada (untuk tidak dikatakan sisa) lalu mari latihan membuat sesuatu yang sehat dan murah (ini point terpenting di rumah saya, :D), karena biasanya ibu-ibu kita, sering membeli lebih dari apa yang sebenarnya dibutuhkan, untuk cadangan namun terkadang lupa. Nah, ini salah satu benefitnya. Mari manfaatkan bahan yang ada. Tapi ada catatan dari ibu saya : tanpa mengurangi jatah sembako bulanan yang telah diperhitungkan. Nah loh! -_-“. Selamat memasak sahabat.

Advertisements

Comments are closed.

%d bloggers like this: