Skip to content

Drop Out

July 14, 2011

JEMI. Mahasiswa tahun ketujuh – semester tiga belas, Jurusan Akuntansi sebuah PTN di Bandung. Dibesarin sama bokap yang nggak jauh pinternya sama Jemi dan nyokap yang lebih sayang sama DVD Drama Korea dibanding anaknya sendiri. Sebelumnya guru-guru disekolah Jemi menganggap kelulusannya sebagai keajaiban dunia yang kedelapan setelah Candi Borobudur. Dan ternyata berlanjut ke keajaiban dunia yang kesembilan, Jemi berhasil tembus PTN!. Nah, Jurusan Akuntansi ini adalah keajaiban dunia yang kesepuluh, pasalnya Jemi ambil jurusan Sastra Rusia (sepi dari peminat, trik jitu masuk ke PTN) tapi namanya malah nongol di jurusan Akuntansi, gara-gara salah nulis kode jurusan. KONYOL!. Tapi nggak jadi masalah buat Jemi, toh dua-duanya Jemi juga nggak ngerti.

Enam tahun kuliah, plastik meja belajarnya belum dibuka karena emang nggak pernah dipake belajar. Buat jaga-jaga, kalau ortunya nggak transfer uang bulanan, itu meja belajar bisa dijual. Temen-temen seangkatannya udah pada lulus semua. Jemi menyandang predikat mahasiswa tertua di jurusan Akuntansi setelah ditinggalikan Robert dan Edi. Robert pindah Universitas lain di pelosok kecamatan biar cepet lulus. Konon, katanya Robert langsung dikasih toga setelah melunasi biaya pendidikannya plus diwisuda hari itu juga. Nah, Edi pergi jauh meninggalkan Jemi. Edi pindah alam. Jemi hanya berdoa, supaya malaikat nggak ngajuin pertanyaan yang sifatnya teoritis, soalnya mata kuliah Agama Edi nilainya E. Edi stress berat karena takut kena DO dan meninggal karena OD.

Jemi sepertinya memang terlahir tanpa cita-cita. Waktu masih SD, temen-temennya ada yang pengen jadi guru, pengusaha malahan ada yang pengen jadi tabib. Tapi Jemi kekeuh nggak pengen jadi apa-apa.
“Kamu harus punya cita-cita, Jemi!”, kata gurunya. “Semua temen-temenmu punya cita-cita. Agnes ingin jadi guru dan Susi ingin jadi pengusaha seperti bapaknya. Kamu ingin jadi apa?”
“Sebelum nentuin cita-cita, boleh tanya dulu sama Susi” tanya Jemi. Sang guru pun membolehkannya.
“Susi, bapakmu pengusaha apa?” tanya Jemi.
“Banyak, Jem. Pabrik semen, ekspor garmen, sama toko permen” jawab Susi.
“Kamu pengen jadi pengusaha sukses seperti bapaknya Susi?” tanya gurunya.
“Nggak kepikiran sama sekali” jawab Jemi.
“Lalu kamu mau jadi apa?” tanya gurunya yang kayaknya mulai jengkel.
“Jadi suaminya Susi!”. (Drop Out, Hal 92). GUBRAKK.

Awalnya Jemi bertekad akan terus menuntut ilmu sampai liang kubur. Tapi kampus tidak mengizinkannya kuliah sampai mati. Kampusnya menerapkan aturan ketat sejak rektornya ganti dua tahun yang lalu. Dia menetapkan masa kuliah maksimal 14 semester. Tanpa toleransi. Dia juga menghapuskan semester pendek. Rektor pengen kualitas lulusan tetap terjaga.
“Beberapa orang pandir bernasib mujur bisa lolos masuk ke kampus kita, tapi mereka tidak akan mendapatkan ijazahnya. Tidak akan pernah selama saya masih ada di sini.” Kata Rektor.
Rektor nggak cuma omong doang. Dia membuktikannya akhir semester kemarin. Tujuh orang pandir yang pernah bernasib mujur harus merasakan nasib sial. Satu diantaranya malah sial banget. Surat DO-nya yang dikirim ke rumah, nyasar nggak tau ke mana. Orang itu masih bayar SPP dan ikut kuliah padahal udah di-DO. Waktu surat DO-nya akhirnya keterima, dia menggugat ke Pengadilan. Namanya juga orang pandir, dia malah menggugat ke Pengadilan Agama. Ketua Pengadilan Agamanya bilang, hanya sang isteri yang bisa menggugat cerai rektor. Mahasiswanya kagak bisa!. (Drop Out, Hal. 182-183). Sakit perut, nahan ketawa!.

Di cerita ini, Jemi tidak sendiri melalui perjuangannya untuk terbebas dari DO. Ya, pastinya dengan bantuan orang lain!. Leah. Senior idola berparas cantik dikampusnya dulu dan sekarang jadi dosen Sistem Akuntansi Jemi di Semester 13. Dokter M. Dosen Killer Statistika yang terkenal dengan kekejaman cerita legendanya. Konon, pernah ada seorang mahasiswa yang enam kali selalu dapet nilai E. Mahasiswa itu mati gantung diri karena frustasi. Arwahnya gentayangan dan selalu muncul di kelas Statistika. Tenang, itu hanya cerita legenda kawan!. Tapi kalau Jemi nggak lulus juga di semester ini, kayaknya tuh legenda bakal jadi kenyataan!. Ahh, satu lagi teman setia yang bantuin Jemi! Namanya Dayat. Mahasiswa kedokteran yang tinggal di sebelah kosan Jemi (menurut cerita kosan Jemi dikenal sebagai ‘Area Bebas Ilmu’, termasuk kamar si Jemi, nggak ada yang namanya BUKU!, beda sama kosan Dayat yang ‘Hujan Buku’, katanya kalau semua kacamata mahasiwa yang ngekos di situ dikumpulin, bisa jadi teropong buat ngeliat bintang). Dayat mengaku sebagai perokok pasif, yang artinya Dayat nggak suka beli rokok tapi suka rokok gratisan! Supaya tidak melanggar kode etik kedokteran katanya.

Bukan Leah dan Dokter M aja yang nyerah, Dayat juga putus asa ngadepin otaknya Jemi.
“Bill Gates, bareng temennya, Paul Allen, mendirikan Microsoft. Perusahaan ini bikin mereka kaya raya. Bill Gates orangnya genius banget, tapi dia nggak lulus kuliah. Dia drop out walau dengan cara yang berbeda jauh sama lo. Intinya pelajaran yang pengen gue sampein ke elo adalah : lo, jangan putus asa kalo lo sampe kena DO.” kata Dayat.
“Drop out nggak berarti gue bodoh?” jawab Jemi.
“Dalam kasus lo, pasti! Tanpa keraguan!” jawab Dayat tanpa ragu sedikit pun.
“Gue sedih banget denger lo ngomong gitu…”
“Nggak usah sedih. Buktiin aja kalo gue salah! Selesai kuliah, mungkin kita bakal berpisah lama. Bertahun-tahun kemudian kita ketemu lagi. Gue jadi dokter di rumah sakit…”
“Dan gue jadi pasiennya…”
“Atau…”
“Atau pemilik rumah sakitnya, Jemi! Ada humor klasik tentang hal ini. Mungkin lo pernah denger. Mahasiswa yang IP-nya tiga jadi dosen, yang IP-nya dua jadi pegawai dan yang drop out justru jadi pengusaha karena nggak diterima kerja dimana-mana.” (Drop Out, Hal. 158). Hahaha.

Satu kata buat buku ini KONYOL!. Nilai 8,5 saya berikan untuk Mas Arry Risaf Arisandi. Penuturan bahasa yang ringan, konyol tapi cerdas! Nyesel saya baru bikin review sekarang. Secara hari ini, itu buku baru berhasil saya eksekusi, setelah 2 tahun lebih bertengger di meja belajar, mana belum dibalikin sama yang punya. Terlalu!. Kayaknya si Jemi kalah deh, meja belajar saya sudah berumur 2 kali lebih tua dari meja belajarnya. Masih bagus. Itu belum diitung ‘masa kebersamaan’ kakak saya sama tuh meja, jadi kayaknya udah uzur. Selain si bapak yang jago milih kayu, tuh meja belajar emang nggak pernah di pake buat belajar…, hehe, saya lebih suka belajar di tempat tidur, eh lebih tepatnya tidur sambil belajar! hehe.

Kawan, anda tidak akan rugi membaca buku ini. Saya jamin! Pasti ngakak. Serius!.
Teruntuk calon-calon mahasiswa abadi (hidupkan motto tuntutlah ilmu sampai liang lahat, ;p), para professional dan eksekutif muda yang lagi depresi (emang ada? Haha) atau siapa pun yang lagi butuh hiburan, cocoklah baca buku ini! Selamat menikmati!


Depok, 13 Juli 2011
Teriring terima kasih untuk Si Dodol Cokelat dan Tami yang telah berkenan melupakan buku ini. Tenang, ‘dia’ masih dalam kondisi baik, bahkan sangat baik. Here…, I give it back to you… ;p
Special untuk Mba Iche, thanks untuk pencerahannya, setidaknya satu review keluar dari otak saya, haha. Seorang Ustadz pernah berkata, penulis yang baik adalah pembaca yang kemudian menuliskan kembali buku yang telah dibacanya, jauh lebih baik dan menggugah dari penulis aslinya. Tapi kalau yang ini, kayaknya saya nggak lebih konyol dari penulis aslinya. Hehehe. NGELES.

Advertisements

Comments are closed.

%d bloggers like this: