Skip to content

Ranah 3 Warna

February 19, 2011

















…. Antara sungguh-sungguh dan sukses itu tidak bersebelahan, tapi ada jarak. Jarak ini bisa hanya satu sentimeter, tapi bisa juga ribuan kilometer. Jarak ini bisa ditempuh dalam hitungan detik, tapi juga bisa puluhan tahun.

Jarak antara sungguh-sungguh dan sukses hanya bisa diisi dengan sabar. Sabar yang aktif, sabar yang gigih, sabar yang tidah menyerah, sabar yang penuh dari pangkal sampai ujung yang paling ujung. Sabar yang bisa membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, bahkan seakan-akan itu sebuah keajaiban dan keberuntungan. Padahal keberuntungan adalah hasil kerja keras, doa dan sabar yang berlebih-lebih.

Bagaimanapun tingginya impian, dia tetap wajib dibela habis-habisan waktu hidup sudah digelung oleh nestapa akut. Hanya dengan sungguh-sungguhlah jalan sukses terbuka. Tapi hanya dengan sabarlah takdir itu terkuak menjadi nyata. Dan Tuhan selalu memilihkan yang terbaik dan paling kita butuhkan. Itulah hadiah Tuhan buat hati yang kukuh dan sabar….. (Ranah 3 Warna, Hal. 468)

Dalem euy!. Bagaimana kabarmu sahabat? Semoga Allah selalu memberkahi langkah-langkah kita. Lama rasanya tidak menulis ulasan buku. Mohon maaf untuk teman-teman yang sudah lama menunggu, halah. Hahaha. Niat hati ingin segera menulis, tapi apa daya beberapa bulan ini dihadapkan situasi kantor yang totally hectic!. Cari pembelaan diri. Hehe.

Pertama kali melihat covernya, tatapan saya langsung tertuju pada helaian-helaian daun maple. Otak saya pun bekerja, mengkoneksikan dengan judul Ranah 3 Warna. Setiap gambar sejatinya menyimpan filosofi. Absolutely. Begitupun buku ini. Yup…, ketika gambar mampu menterjemahkan banyak hal tanpa kata. THINK. Ngek-Ngok. Finally otak saya gagal menterjemahkannya, hanya mampu membuat conclusion Alif menginjakkan kakinya di 3 tempat. Wah, mungkin ini efek dari hecticnya pekerjaan sehingga kemampuan analisa saya melemah drastis. Halah.

Ranah 3 Warna, buku kedua dari trilogi Negeri 5 Menara. Rerumputan, Pasir dan Daun Maple. Indonesia, Yordania, Kanada (Nah, rumput dan pasir luput dari pengamatan saya -_-“, red). Jika anda telah membaca Novel Negeri 5 Menara sebelumnya, pasti anda bisa menebak perjuangan Alif Fikri setelah lulus dari Pondok Madani. Kali ini dengan sepatu hitam pemberian Sang Ayah yang selalu setia menemani setiap langkah-langkahnya. Dan, rangkaian kata di akhir buku ini cukup menjadi amphetamine untuk perjuangan hidup yang semakin keras. Referensi yang bagus untuk memasuki pertengahan bulan kedua di awal tahun 2011 ini…, meraih mimpi-mimpi anda.

Well, saya merasa sedikit jenuh membacanya. Flashback yang sedikit membosankan. Seharusnya alur cerita bisa dipercepat sehingga tidak menghasilkan emosi yang datar, tapi mungkin sang penulis memiliki tujuan tersendiri di balik itu dan tentunya ini tidak mengurangi esensi dan rekomendasi saya kepada anda untuk membacanya.

Jika ditulisan saya sebelumnya (Negeri 5 Menara, red) menuliskan : “Keleidoskop dan resolusi baru tentang hidup akan terus menari-nari setelah anda membaca novel tersebut”. Kali ini, setelah membaca Ranah 3 Warna saya hanya mampu mebenamkan kepala di atas meja *sambil melirik rencana peta hidup*. Pening euy. Perjuangan masih panjang! Huhuhu.



Pertengahan Februari 2011
Thank you for my beloved sister who has bought this book for me.
Kembali setia mencorat-coret peta rencana hidup…

Advertisements

Comments are closed.

%d bloggers like this: