Skip to content

The Princess and The Frog…, then Alvin and The Chipmunks

November 17, 2010

I watched it without translate :(. I just expect the english text, that’s enough! but seems the subtitle didn’t work on my netbook (baca : tidak terdeteksi). I’m very bad on listening, also writing and speaking (payah deh!). That’s why I have to learn and improve my english skills more…, fiuuuhhh.

Hmm…, watching The Princess and The Frog, reminds me about… ‘Aladdin’, ‘Beauty and the Beast’ and ‘The Lion King’ (I love the soundtrack, especially a whole new world ). Hmm, ada lagi…, ‘The Little Mermaid’, ‘Tinker Bell’ and others. Looks very classic, isn’t it? but, I don’t know…, never get bored watching that movies, sweet, simple and funny. But don’t compare all of them with ‘Ice Age’, ‘Madagaskar’ and ‘Open Season’ (beda kriterialah, setidaknya menurut saya, red).

Dari Artikel yang saya baca…, The Princess and The Frog dibuat berdasarkan dongeng klasik Grimm bersaudara ‘The Frog Prince’. Common tale, a prince cursed into a frog, then kissed by a princess…, thanks by the kisses, the prince back into its original shape (baca: handsome), basi ya!! :(. But it’s not the point that I’ll be write here…

Film ini mengambil tokoh Tiana, seorang gadis kulit hitam yang tinggal di New Orleans. Dia bukan seorang putri (unusual dan cukup menarik, ketika masalah rasisme masih hangat di Amerika). Tiana bekerja sebagai seorang Pelayan Restoran. Tiana memiliki azam untuk meneruskan mimpi Sang Ayah yang ingin membuat restoran sendiri. Tiana tetap menjaga dan terus meraih mimpi itu, dengan penuh perjuangan keras tanpa kata menyerah.

Di waktu yang bersamaan datanglah Seorang Pangeran Naveen dari Malvonia (without a white horse ya! maybe masked prince with armour and a black horse…, his left hand with shield and right hand with a sword! hehe…, tapi sepertinya bukan untuk film ini). Pangeran itu hendak menikahi sahabat Tiana, tetapi sebelum rencana itu terealisasi, Sang Pangeran sudah disulap menjadi kodok oleh seorang dukun voodoo yang mempunyai rencana jahat, his name Dr. Faciller (cerita kartun banget ya? :)).

Sang Kodok bertemu dengan Tiana -yang sangat membenci kodok- di Balkon rumah sahabatnya (kenapa sesuatu yang kita benci…, sering berada di hadapan kita?! tidak perlu dijawab…, -_-“). Sang Kodok pun mengira Tiana adalah sang Princess (Tania memang anggun dengan gaun pinjaman itu), berpikir seperti di dongeng-dongeng then the prince begged to Tiana for help him -hurry scurry!!- finally, both of them turn into a frog. And the story begins!

Sang Pangeran dan Tiana harus berjuang mencari cara untuk lepas dari kutukan tersebut. I saw Tiana more stronger and independent than the prince (sometimes woman more stronger than a man…, right? :)). Di perjalanan mereka bertemu dengan Louis -buaya yang ingin menjadi pemain jazz- dan Ray -kunang kunang yang sangat bijaksana- (aneh ya?! but…, it’s funny). Di point ini saya melihat persahabatan dan pengorbanan (baca: komitmen dari sebuah persahabatan maka lahirlah pengorbanan). Louis dan Ray mengantarkan mereka bertemu dengan Mama Odie, yang konon katanya bisa membantu menghilangkan kutukan tersebut. But I don’t like the end of the story…, really! (peace :)) dan anda bisa melihat trailernya di sini The Princess and The Frog, silahkan diklik linknya.

It’s so classic, so old, so common, so basii but so fascinating. Not bad for refreshing. Learn to appraise the other side of the movie which is reputed as a common-old-disney-thing.

Well…, I learned what-dream-is, -how-to-achieve-it-, belief, commitment, sacrifice, happiness and one more is kesetiaan! (hallahh…, basiii banget ya! :(…, yah begitulah, red).

then I continued with :

Alvin and The Chipmunks. Nah…, film ini lebih aneh lagi. Saya rasa anda sudah melihatnya, karena saya cukup telat (yahh…, namanya juga cari yang gratissan :))

Alvin, Simon and Theodore are the 3 heads of squirrels who can sing, talk and smart. Because of their singing ability, they are very famous in USA. Sepertinya saya memonton Alvin and Chipmunks 2…, karena ada 3 heads of squirrels girl-nya.

Ceritanya representasi remaja Amerika sekali…, tapi lumayanlah! Belajar menyukai hal-hal yang tidak disukai and always learn to appraise the other side of this movie. Tidak jauh berbeda, menurut saya tema film ini masih mengangkat tentang ‘kepahlawanan’, persaudaraan, pengorbanan, profesionalisme dalam berkarir dan what the meaning of success and happiness is.

Recomended lah…, cukup lucu untuk ditonton, walaupun kesan h-e-r-o nya cukup menonjol (yah…, begitulah fim-film keluaran Amerika :), romantisme dan kepahlawanan…, gitu deh :(, sekali lagi ini menurut saya ya, red).

Semoga bermanfaat sahabat.

Advertisements

Comments are closed.

%d bloggers like this: