Skip to content

Kepada Calon Pelayan Masyarakat… Idealisme-Dedikasi dan Totalitas!

November 15, 2010

Hari ini saya begitu tersentuh ketika membaca tulisan ‘Sebuah Surat Untuk Dokter dan Mahasiswa Kedokteran’ by Aditya Putra Priyahita, dari blog seorang adik yang kini sedang menyelesaikan Skripsinya di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung). Sesaat kemudian saya mengarahkan jemari ini untuk bersilaturahim ke blog lain. Dan mata saya tertuju oleh sebuah tulisan yang berjudul ‘Fenomena -jaminan- PNS mirip dengan Asuransi Jiwa’. Jujur…, saya begitu tergelitik (bukan karena kini saya sedang ‘berada dan belajar’ di sebuah Kementerian…, red), tapi lebih pada sebuah substansi ketika kita memutuskan untuk menjadi ‘pelayan masyarakat’.

Teringat seorang teman berkata “Mau menjadi PNS…, karena posisi ‘aman dan nyaman’ apalagi untuk wanita (baca : sebagai isteri dan ibu), tidak terlalu sibuk (untuk tidak dikatakan tidak sibuk), gaji dan jaminan hari tua sudah pasti…, penghidupan kedepan sejahtera deh…”. Saya hanya bengong menatapnya…, tapi itu manusiawi. Tidak ada yang salah jika kita berkeinginan untuk menjadi PNS, tapi sebegitu dangkal-kah idealisme kita??. Maka jika boleh menyadur dari ‘Sebuah Surat Untuk Dokter dan Mahasiswa Kedokteran‘ by Aditya Putra Priyahita, idzinkanlah saya menuliskannya :


Kepada rekan-rekan yang terhormat,

Jika anda ingin menjadi ‘pelayan masyarakat’ untuk bisa berduduk-duduk dengan santai, maka kembalilah ke zaman kolonial sebagai pewaris ‘mental’ itu daripada Anda berkontribusi memperlambat kemajuan bangsa.

Jika Anda ingin menjadi ‘pelayan masyarakat’ untuk mendapatkan kedudukan sosial tinggi di masyarakat, dipuja dan didewakan, maka silahkan kembali ke zaman Mesir ribuan tahun yang lalu dan jadilah fir’aun di sana. Daripada Anda di sini harus menjadi arogan dan merendahkan orang lain di sekitar Anda hanya agar Anda terkesan berharga.

Jika anda ingin menjadi ‘pelayan masyarakat’ untuk bisa kaya raya dan hidup terjamin, maka segeralah mundur. Menjadi Pengusaha jauh lebih baik daripada Anda harus mengorbankan rakyat demi mengejar kekayaan dan kenyamanan.

Jika Anda ingin menjadi ‘pelayan masyarakat’ untuk memudahkan mencari jodoh atau menarik perhatian calon mertua, mungkin lebih baik Anda mencari agency selebritis yang akan mengorbitkan Anda sehingga menjadi artis pujaan para wanita. Daripada Anda bersembunyi di balik ‘topeng klimis’ serta ‘seragam kebanggaan’, sementara Anda alpa dari makna ‘pelayan masyarakat’ yang sesungguhnya.

Pelayan masyarakat tidak diciptakan untuk itu, kawan.

Memilih menjadi ‘pelayan masyarakat’ bukan sekadar agar bisa bergaya dengan kendaraan keluaran terbaru, bukan sekadar bisa terihat tampan/cantik dengan seragam kebanggaan, bukan sekadar agar para tetangga terbungkuk-bungkuk hormat melihat kita lewat.

Memilih menjadi ‘pelayan masyarakat’ adalah memilih jalan totalitas dan pengabdian. Mengabdi pada masyarakat yang masih akrab dengan keterbelakangan. Mengabdi pada masyarakat yang senantiasa dipecundangi karena potensi daerah yang kerap kali dicuri oleh bangsa asing tanpa bisa berbuat apa-apa.

Memilih menjadi ‘pelayan masyarakat’ adalah memilih jalan kemanusiaan, ketika kita tergerak mengabdikan diri dalam tiap sudut-sudut daerah terpencil bangsa ini yang masih jauh dari modernisasi, bukan sekedar menghabiskan dana Perjalanan Dinas milik negara tanpa makna.

Memilih jalan menjadi ‘pelayan masyarakat’ adalah memilih jalan kepedulian, bukan menutup telinga, mata dan hati kita, memberikan kerja terbaik memperbaiki ‘kebobrokan’ birokrasi bangsa ini.

Memilih menjadi ‘pelayan masyarakat’ adalah memilih jalan berbagi, ketika masih banyak masyarakat yang kelaparan di sekitar kita.

Memilih jalan menjadi ‘pelayan masyarakat’ adalah memilih jalan ketegasan, ketika ada berbagai kesempatan untuk melakukan Korupsi terhadap uang rakyat, dengan lantang anda mampu berkata “maaf, saya tidak mungkin mengkhianati hati nurani saya”.

Memilih menjadi ‘pelayan masyarakat’ adalah memilih jalan pengorbanan, saat tengah malam kita masih akrab dengan rapat-rapat tiada henti. Jangan menyebut diri Anda sebagai ‘pelayan masyarakat’ jika Anda belum pernah merasakan lelah dan letihnya tubuh, penatnya mata dan pikiran Anda dengan 1001 permasalahan bangsa ini.

Memilih menjadi ‘pelayan masyarakat’ adalah memilih jalan terjal lagi mendaki untuk meraih cita-cita kita. Bukan, bukan kekayaan atau penghormatan manusia yang kita cari. Tapi ridha Allah lah yang senantiasa kita perjuangkan.

Yah, memilih menjadi ‘pelayan masyarakat’ adalah memilih jalan menuju syurga, tempat di mana ‘pelayan masyarakat’ sudah tidak diperlukan lagi…


Semoga kita termasuk insan-insan ‘pelayan masyarakat’ yang menjunjung idelisme, dedikasi dan totalitas dalam setiap denyut nadi kita. Silakan menjadi kaya, silakan menjadi terhormat, asal jangan itu yang menjadi tujuan kita. ‘Pelayan masyarakat’ terlalu rendah jika diniatkan hanya untuk keuntungan duniawi semata. Terus melangkah dengan IDEALISME memang sulit tapi berusaha melaluinya dengan segenap kesungguhan adalah sebuah KENISCAYAAN…! Allah tidak akan pernah salah menilai setiap usaha dan perjuangan hamba-hamba-Nya.

Terima kasih kepada Aditya Putra Priyahita Sebuah Surat Untuk Dokter dan Mahasiswa atas tulisannya yang sangat menginspirasi melalui sebuah blog Vita Karima yang saya baca…, jazakumullah bi ahsanil jaza atas pembelajarannya yang kembali mengingatkan niat-niat yang telah ‘sukses terdistorsi’ dalam menjalani hidup dan kehidupan ini. Apapun PROFESI yang kita geluti. SIAPAPUN dan DIMANAPUN kita semoga tulisan ini memberikan manfaat.



Depok, Pertengahan November 2010
Memasuki tahun kedua belajar di sebuah kementerian…, menimba ilmu dan pengalaman dari senior yang memiliki dedikasi tinggi dan bekerja dengan penuh totalitas untuk kemajuan bangsa ini.
Dan saya percaya Anda adalah salah satunya!
Bagi Anda yang ingin mendedikasikan diri sebagai ‘pelayan masyarakat’, maka jadilah seperti mereka!
Ya, mereka seperti partikel kecil dari bangsa ini, tetapi partikel kecil yang punya energi besar & mampu mendorong serta meniupkan diri menjadi besar dan melaju bersama untuk perubahan. Selamat berjuang…!!!

Advertisements

Comments are closed.

%d bloggers like this: