Skip to content

Negeri Van Oranje …

January 16, 2010












“Membaca buku adalah hal yang kerap kali saya lakukan ketika penat sebagai refreshing sehingga pikiran kembali jernih… “ (Susilo Bambang Yudhoyono di Perpustakaannya pada sebuah acara Mengenal Calon Presiden Lebih dekat)


Negeri Van Oranje. Buku kali ini menceritakan tentang beberapa Mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di Negeri Belanda, dipertemukan di sebuah peron stasiun ketika terjadi badai. Alhasil terjalin persahabatan erat di antara mereka. Bertemu teman setanah air, senasib sepenanggungan bagaikan mendapat udara segar jika berada di negeri orang. Itu kata mereka ya… Novel yang sangat lucu dan renyah dibaca…, ringan tapi berisi.

Latar belakang hingga sampai di Negeri Kincir Angin, perjuangan kuliah, bekerja sambilan karena tuntutan, uang yang semakin menipis, susah senangnya menjadi mahasiswa rantau di negara orang membawa kita larut tenggelam dalam kisah mereka. Satu lagi : menyelesaikan Tesis. Ya, suatu Maha Karya yang harus di ukir dengan teliti dan sungguh-sungguh. Meraih Gelar Honorable Mention. Nilai Tesis terbaik. Can You Imagine? Di Negara Orang?!

Setelah Kontemplasi Panjang mereka sadar ketika Gelar Master diraih, itu bukanlah akhir dari segalanya justru inilah awal dari perjuangan atas IDEALISME selama ini…, satu jawaban : MENDEDIKASIKAN DIRI untuk Negeri Tercinta.

Dalam Novel ini, tentu saja ada sedikit bumbu-bumbu romansa yang menjadikannya lebih manusiawi, setidaknya menurut saya. Tapi jangan salah, akhir ceritanya tidak ketebak dengan mudah…

Lebih tepatnya saya menilai buku ini sebagai panduan bagi anda yang ingin belajar di Belanda dan mengadakan perjalanan di berberapa negara Eropa. Buku ini mengajak kita berfantasi mengarungi Negeri Orange sampai Austria…, setidaknya MAMPU menambah sense of europe saya…, maklum Oriental Minded.

Certaily, travel is more than the seeing of sight; it is a change that goes on, deep and permanent, in the ideas of Living.”

Lalu bagaimana Kehidupan di sana? Well, benar-benar, menambah pengetahuan saya yang sangat minim. Hanya sedikit yang bisa saya tulis di sini.

Pertama. Corporation di Eropa sangat mengagungkan sistem online dan jangan khawatir sistem keamanan sudah di investasi sebaik mungkin. Itu untuk menekan biaya operasional. Saya jadi kembali teringat tentang Revolusi Industri di Inggris…, Imperialis & Kapitalis.

Kedua. Kejujuran sudah menjadi kebiasaan di negara ini. Aturan yang berlaku bisa berjalan tanpa berteriak-teriak ataupun pengawasan yang ketat. Hukum dijalankan secara konsisten dan konsekuan bagi siapapun yang melanggar.

Ketiga. Di negara-negara maju, ketepatan waktu kedatangan dan keberangkatan Transportasi Umum bagaikan Pedang Bermata Dua. Di satu sisi bisa mengatur perjalanan dengan akurat namun di sisi lain bila terlambat semua menjadi kacau…, beda seperti di Indonesia. Kemudian jika telat 5 menit berjanji dengan orang Belanda…, maka itu dianggap tidak sopan oleh mereka, begitupun bertandang ke rumah teman tanpa membawa buah tangan.

Keempat. Berpergian ketika summer ternyata harga tiket melangit, karena musim liburan. Berbeda ketika winter dan spring yang merupakan musim banting harga. Lalu jika anda jalan-jalan ke Bar di sana Beda…, jangan memasuki Bar yang ’Berbendera Pelangi’ karena itu adalah Bar khusus Kaum Gay. Ya…, karena Kaum Gay telah diberi hak-haknya secara utuh oleh Pemerintah Belanda. Hi… saya jadi penasaran.

Kelima. Untuk makanan Halal itu pun tersedia di suatu Supermarket, masakan Indonesia? Jangan khawatir banyak di jual di sana. Berbicara tentang makan, keseharian orang Eropa Selatan sedikit beda. Makan siang baru mulai pukul tiga dan makan malam umumnya pukul sepuluh, tapi untuk orang yang sering telat makan sepertinya tidak menjadi masalah.

Keenam. Bentuk interior apartement di sana almost jendela ruang tamunya dibiarkan tanpa gorden atau vitrage sehingga kita bisa melihat apa yang ada di dalam rumah. Konon, asal mula kebiasaan ini bermula sejak Perang Dunia II, saat transparansi menghapus kecurigaan adanya kegiatan NAZI di dalam rumah. Sebentar, saya jadi ingat tentang Buku yang berjudul Yahudi Dalang Perang Dunia I dan II. Konspirasi. Hmm…

Terakhir. Budaya Sharing Knowladge itu tidak asing di negara maju. Saya suka itu….


Sangat menarik. Rekomedasi untuk mengisi waktu dengan bacaan bagi anda yang sedang liburan atau yang sedang pening karena tumpukan tugas kantor…, buku ini bisa merefreshkan pikiran…, selamat mencoba….



Note.
Spesial Untuk beberapa teman yang sedang mencari Pendamping Hidup berkualitas Internasional. Well, I’ll Appraciate About That. But, Multi Tafsir…, bisa ‘Speak Local Think Global’ or ‘Speak Global Think Local’…. Haha.
So, mau jebolan yang dari mana Universitas Wageningen, Erasmus, Utrecht atau Laiden?! Hehe.




Depok Pk. 23.50 WIB
Menjelang detik-detik Pemilihan Presiden with You’re the Inspiration By Peter Catera
Well…, a contry is only as great as it’s people

University of Wageningen

University of Wageningen



Laiden Library

Laiden Library



Scheveningen Beach

Scheveningen Beach



Tinbegen Building at Erasmus University, Rotterdam

Tinbegen Building at Erasmus University, Rotterdam

Advertisements

Comments are closed.

%d bloggers like this: