Skip to content

Memaknai Keletihan…

January 16, 2010

Di sebuah keheningan malam, dingin terasa menusuk tulang …, seorang pemuda duduk terpekur seraya sesekali memandangi langit …, ada guratan-guratan keletihan diwajahnya, ada gundah yang menggelayuti perasaannya … Otaknya mencoba untuk memutar kembali memori-memori yang ada …, mengingat rangkaian peristiwa demi peristiwa yang telah dilalui. Ada desahan nafas yang terdengar seiring dengan nyayian jangkrik dalam pekatnya malam …

Sudah cukup lama ia terjun dalam da’wah dan menjadi bagian di dalamnya, ia merasa telah melakukan segalanya untuk menuntaskan tugasnya sebagai seorang ketua pelaksana dalam acara yang cukup besar berskala nasional. Ia telah merumuskan path finding kerja bagi semua jundi-jundiyahnya. Ia sudah menjaga dan menyelaraskan koordinasi antar bidang ditengah buruknya kondisi lapangan seperti masalah amal jama’i, ukhuwah yang kering, dikotomis kerja karena perbedaan wilayah dan sebagainya . Ia sudah berusaha membangun komunikasi dengan baik ditengah buruknya kualitas komunikasi yang memunculkan perbedaan persepsi dan miss communication di lapangan. Ia pun seringkali membantu memberdayakan anak buahnya, bahkan tak jarang ia harus turun ke lapangan membantu mencari dana, menyiapkan peralatan, menyebar publikasi, setting tempat dan dekorasi, memastikan acara berlangsung baik.

Ditambah lagi segudang aktivitasnya yang menuntut meminta prioritas, memaksanya menghabiskan lebih dari 18 jam di luar rumah. Tak jarang ia mengetuk pintu rumah bersamaaan dengan terbitnya sang fajar. Saat sebagian besar manusia terlelap …, ia semakin akrab dengan lembabnya udara malam…, setia berada dalam ruang-ruang pertemuan membahas agenda yang sering kali sangat jauh dari irisan kehidupan dan tak luput kuliah pun dinomor sekiankan karena tuntutan …

Namun, saat evaluasi pasca kerja. Banyak sekali hasil dan sasaran yang tidak tercapai. Jumlah peserta acara yang sangat minin. Jauh dibawah angka yang sudah diprediksikan. Ditambah beberapa anak buah yang berjatuhan dibarisannya. Ada yang terkena thypus, maag, bahkan ada yang harus dirawat di rumah sakit akibat kecelakaan dan “penyakit aktivis” yang sangat mengkhawatirkan. Belum lagi yang harus mengulang ujian karena nilai-nilai mata kuliah semester ini berantakan, tak terhitung dengan jari tangan. Selain itu otaknya juga masih harus memikirkan bagaimana cara menanggulangi defisit anggaran …, terasa begitu melelahkan.

Tak bisa dipungkiri, bahwa semua itu terasa melelahkan …, sepertinya otaknya sudah sangat penuh dengan berbagai masalah. Sebagai seorang manusia sangat fitrah jika ia memiliki keterbatasan kapasitas menampung semua permasalahan yang ada …, Tanpa terasa butiran-butiran hangat itu jatuh membasahi pipi …

Teringat nasihat dari seorang al-akh yang terngiang di telinganya “sahabat … layaknya sebuah perjalanan yang sangat panjang, jalan da’wah selalu dipenuhi oleh kesulitan dan kepahitan. Berbagai fitnah, tantangan dan hambatan terus mendera tak putus-putusnya. Tak sedikit tenaga, waktu dan pikiran yang terkuras, peluh yang terkucur, sayatan-sayatan luka yang menganga bahkan tetesan-tetesan darah pun tak luput mewarnai jalan panjang ini. Maka laluilah ia dengan segenap kesungguhan, karena di ujung jalan ini Allah menyiapkan berbagai keindahan. Sahabat … terkadang muncul petanyaan dalam hati kita “Kenapa kita diuji ?” Allah memberikan jawaban “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan “Kami telah Beriman ?” dan mereka tidak diuji ? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta” (Qs. Al-Ankabut:2-3), lalu timbul pertanyaan kembali “Kenapa kita tidak mendapatkan apa yang kita idam-idamkan ?” Allah menjawab “…boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui …”(Qs. Al-Baqarah:216), kemudian “Mengapa ujian seberat ini?” “Allah tidak akan membebani seseorang melainkan dengan kesanggupannya …” (Qs. Al-Baqarah:286) dan terkadang kita sering merasa begitu lelah dan lemah, Allah menjawab “ … janganlah kamu meresa lemah dan jangan pula bersedih hati, sebab kamu paling tinggi derajatnya jika kamu orang beriman” (Qs. Ali Imran:139), lalu “Bagaimana kita harus menghadapinya?” Allah berkata “Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertawakalah kepada Allah agar kamu beruntung “ (Qs. Ali Imran:200), kemudian “Kepada siapa kita berharap?” jawabnya “Cukuplah Allah bagiku, tidak ada tuhan selain Dia, hanya kepadaNya aku bertawakal …” (Qs. At Taubah:129), dan “Jika kita tidak mampu bertahan lagi?” maka “… janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah …” (Qs. Yusuf:87), kemudian “Apa yang kita dapatkan dari semua ini?” “ Sesungguhnya Allah membeli orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memerikan surga untuk mereka …” (Qs. At Taubah:111). Sahabat … mari kita berbenah diri dan terus berbenah untuk mempersembahkan yang terbaik dalam masa hidup dengan torehan kemuliaan dan semangat pantang menyerah. Dimanapun … dan kapanpun selama Allah menjadi Just the one goal. Jadikanlah hidup ini selalu penuh dengan harapan kepada Sang pemilik Jiwa. Bersiaplah menghadapi putaran waktu hingga setiap gerak langkah serta helaan nafas bernilai ibadah kepada-Nya. Kalaulah keletihan itu melanda baurlah dengan ayat Illahi…, semoga Allah melapangkan hati-hati kita, selamat berjuang sahabat …”

Percikan air wudhu itu menyegarkan kembali tubuh yang lelah dan meluruhkan rasa gundah yang melanda hati, pemuda itu mencoba mengembalikan semua permasalahan pada Sang Pemilik Jiwa, menghamparkan sajadah dan meratakan kening diatasnya … ada guncangan yang begitu dashyat ditubuhnya … sebuah kenikmatan tersendiri yang tidak bisa dirasakan oleh siapapun pada saat seorang hamba bermunajat kepada Sang Kekasih, memohon ampunan dalam jutaan butir do’a. Bersimpuh seraya merenungkan semua kekhilafan…

Duhai Sang Pemilik Jiwa…
Ikhlaskanlah hati-hati ini sehingga bisa menerima semua bagian dari perjalanan hidup dengan kebesaran hati dan kebesaran jiwa serta menemukan jawaban dari sebuah rahasia dibalik titian kehidupan yang telah dijalani…

Duhai Sang Pemilik Jiwa…
Jadikanlah amal-amal ini sebagai pemberat timbangan di hari akhir nanti … istiqomahkanlah hati ini agar tetap berada di jalanMu, bersihkanlah hati yang pekat ini untuk mudah dicelupi cahaya-Mu, illahi Rabbi.
Wallahu’alam bishowab



Masjid Ukhuwah Islamiyah Depok, Penghujung Tahun 2005
Semoga kita semakin semangat dalam menjalani setiap episode kehidupan yang dipersembahkan-Nya dengan segala cinta …
Dari berbagai sumber kehidupan)*


Kampus yang banyak memberikan Tempaan Tarbiyah dalam Hidup ini…

Advertisements

Comments are closed.

%d bloggers like this: