Skip to content

Kepingan Hati Yang Tertinggal …

January 16, 2010

Nothing’s gonna change my love for you
You ought know by now how much I love you
One thing you can be sure of
I’ll never ask for more than your love

Nothing’s gonna change my love for you
You ought know by now how much I love you
The world may change my whole life through
But nothing’s gonna change my love for you

If the road ahead is not so easy
Our love will lead the way for us
Like a guiding star
I’ll be there for you if you should need me
You don’t have to change a thing
I love you just the way you are
So come with me and share the view
I”ll help you see forever too

(Nothing’s Gonna Change My Love For You)

Langkah kakinya sedikit terhenti, sesaat setelah dirinya turun dari Kereta Exspress jurusan Tanah Abang-Depok. Entah, tiba-tiba saja ada rasa yang menyeruak memenuhi rongga dadanya ketika lantunan lagu Glenn Medeiros itu terdengar, mengalun indah di sepanjang peron stasiun. “Hhmmmhhhhh…” Ada desahan nafas panjang yang terdengar. Yaahh…, kenapa mesti lagu ini siiiih. Desisnya dalam hati. Syair itu memang memberikan sentuhan sendiri dalam perjalanan hidupnya. Melankolis.

Sambil berjalan ditatapnya langit biru yang menghiasi kota itu di sore hari. Refleks, pikirannya menerawang. Otaknya mereplay kembali sepenggal kisah dan sesosok manusia yang telah berhasil menghancurkan pertahanan hatinya hingga berkeping-keping. Dan kini…. pemuda itu belum bisa melupakannya atau… adakah setitik asa yang tersimpan di hati? Ah… mungkin suatu saat nanti dia mampu melupakannya. Semoga.

Angin sepoi lembut menepuk-nepuk wajahnya, menyadarkan dari lamunan. Tidak bisa dinafikan jika perasaan itu terkadang menyelinap masuk ke dalam relung-relung hatinya tanpa permisi. “Astaghfirullah…” Bisiknya lirih. Kalau sudah begini memang seharusnya angin yang senantiasa berdzikir itu bisa menjadi alarm pengingat dari kekhilafan, jadi ’nggak kudu disamber angin puting beliung dulu baru sadar. Ya, sensitifitas dan imunitas terhadap kekhilafan memang harus senantiasa dibangun dan diasah setiap waktu, meski kerap kali tergerus, retak bahkan runtuh…. Karena tidak ada manusia yang kebal dari dosa dan khilaf hatta dia kader da’wah yang sudah tarbiyah berpuluh-puluh tahun.

Dreeet…dreeet. Ponsel di saku jaketnya bergetar mengagetkan.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam…” Jawabnya dengan nada lemah.
“Lagi di mana bro..?”
“Engh. Eh.., di mana?!”. Bingung.
”Jyahhh…, pagimane Pa!!”
”Eh…, sebentar…” Seraya menatap sekeliling. Matanya menangkap sebuah bangunan besar.
“Hahhh…! Ya Ampuuunn…”
”Kenapa? Di mana sih??”
”Gerbang masjidnya kelewat…”
“@#*!! Kelewat…??! Ckckckc…, gimana sich, jalan aja lupa!! Jelas-jelas Masjid segeudee itu…, antum ngelamun apa melayang?! Syuronya di lantai dua ya ba’da ashar, di tempat biasa…”
“Oh…iya”
“Agenda ‘udah ane sebarkan semalam, semuanya beres! Sekalian nanti kasih taujih kita ya, truss beliin makanan di bawah donk! Lapeeer niiih. Oke!”
“Lho…, Eh….”
“See you leter…, Assalamu’alaikum” Kleek. Sahabatnya mematikan ponsel tanpa memberi kesempatan membela diri.
“Wa’alaikumsalam.” Dijawab dengan lirih. Kenapa harus dirinya lagi? Selalu saja seperti ini… DERITA Qiyadah.

Masya Allah…” pemuda itu menepuk dahi. Lupa. Ada beberapa konsep yang belum selesai. Diliriknya arloji di tangan kanannya “15 menit lagi…” Sepertinya tidak sempat. Kenapa jadi…, ah…, Astagfirullah. Sepertinya bener melayang nih dari stasiun, ’nggak berasa. Sesaat ia membenahi gejolak di hati, memantapkan langkah. Bismillah… Desisnya.

***

Pukul 16.00. Pemuda berkacamata dengan kemeja dan jaket hitam itu tepat berdiri di samping peserta syuro ikhwan. Ia menyapa dengan salam lalu dijabatnya tangan para ikhwan yang sudah terlebih dahulu berkumpul, satu per satu. Sesaat kemudian melangkah menuju tempat pimpinan syuro. Duduk bersila. Melepas Body Pack dan topinya. Mengeluarkan agenda dan setumpuk berkas. Diliriknya bilik akhwat. Alisnya terangkat. Lho kok, baru satu orang. Sigap sang akhwat menangkap mimik sang pemimpin. Memberikan penjelasan, sebelum ditanya.

“Akhwatnya baru sholat…”
“…” Hening. “Thoyyib, kita mulai saja…, yang lain menyusul” Dingin.
Semuanya sepakat, karena mereka paham dengan karakter sang pemimpin.

Syuro pun dimulai. Runtutan agenda tertulis di sebuah white board tua yang jika bukan karena nilai sejarahnya sudah pasti sukses mendarat di Bantar Gebang. Depok-Bantar Gebang?! Jauh bennerr. Tidak terasa sulit baginya meskipun ada konsep yang belum selesai. Yap, tinggal memutar agenda. Dan jari-jemari staff ahli sebuah perusahaan konsultan ternama Jepang ini pun dengan sigap menggambarkan grand design kaderisasi yang lebih mirip dengan peta penyimpanan senjata nuklir Korea Utara, sambil menyimak dan sesekali menulis permasalahan inti dari bahasan yang sedang dilaporkan juniornya. Cerdas. Otaknya memang mampu berkonsentrasi dan menyelesaikan beberapa hal dalam satu waktu. Bravo. Rapat telah berjalan kurang lebih 20 menit. Dan satu per satu peserta akhwat sudah mulai lengkap. Ya… ampun akhwat, selalu begini…, lelet atau kemayu? Terkesan tidak sigap. Sepertinya tidak bisa dbiarkan. Bisiknya dalam hati. Pemuda itu pun mengambil sikap.

“Sebelumnya maaf! Saya minta untuk yang terlambat lebih dari 15 menit, silahkan mundur. Istighfar, kemudian tilawah surat Al-Haqqah lalu kembali masuk barisan! Dan satu lagi…., hafalan surat Al-Ma’arij: 32-35 ba’da syuro, bisa di setor ke mas’ulah langsung”. Padat dan Singkat.

“Haahhh…” Para akhwat itu dibuatnya bengong.
“Sebelumnya antuna juga tidak meminta IDZIN kepada saya untuk terlambat hadir rapat kan?! MESKIPUN antuna sudah ada di Masjid ini sejak tadi pagi”. Jelasnya mantap. Tidak ada pembelaan diri dari bilik akhwat.
“!!!” Campur aduk perasaan para akhwat. Kayak gado-gado di campur tauco. Alhasil semua yang terlambat beringsut mundur.

“Ini masalah Indhibat …” Jelas pemuda itu. Ada sedikit taujih di sana. Sedangkan dari balik hijab, ikhwan yang lain tersenyum-senyum. Abis ’nggak tega sich ‘kalo ngasih teguran ke akhwat, secara mereka kan ritualnya buuaayak bangett, repot jadi kasihan…. Walaupun terkadang perlu.

***

Matahari sudah mencondongkan dirinya untuk kembali ke peraduan. Syuro telah usai. Pemuda lulusan universitas negeri ternama itu berjalan turun menyusuri tangga menuju tempat wudhu. Di punggung yang kokoh itu, ada sejumlah amanah yang harus diembannya. Ya Rabb, kami tidak meminta-Mu untuk meringankan amanah ini. Tapi.. Kuatkanlah punggung ini dalam memikul amanah besar da’wah. Do’anya kepada Rabbnya.

Muhammad Irham Prayoga. Lahir di Bogor 27 tahun yang lalu. Berwibawa, lugas, tegas dan visioner. Itulah kesan yang tertangkap pada sosok mantan ketua LDK dan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa di periodenya. Lulusan S1 Teknik Elektro dengan predikat cum laude ini memiliki wajah yang mirip dengan aktor terkenal Korea, Jang Dong Gun. Pernah didilegasikan mengikuti sejumlah pertukaran serta seminar pelajar ke Jerman, Singapura dan Jepang sebagai salah satu mahasiswa berprestasi se-Indonesia. Kiprahnya di berbagai bidang organisasi kampus maupun kemasyarakatan membuat dirinya disegani, tapi sikap tawadhunya membuat siapapun yang berdekatan dengan dirinya merasa nyaman.

Masjid Ukhuwah Islamiyah cukup sepi senja itu, diarahkan kaki dan matanya sejenak untuk memandang pepohonan dan riak-riak gelombang danau yang terlihat indah di sapu angin. Ditatapnya danau yang kerap kali menjadi luapan emosinya dalam kebisuan kata-kata. Ia tumpahkan seluruh ion-ion negatif di sana…, menghirup nafas dalam-dalam lalu menghempaskannya. Fiuuuhhh.

“Bro…”
”…” Irham terhenyak.
“Ya Rabbi…, antum ngelamun lagi?!! Ada masalah?”
“Enggak…, hanya sedikit kontemplasi…”
”Beeehh…, beratt.”
“Jangan diangkat donk…”
“Awass hati-hati!! Ini wilayah berbahaya…” Muncul dua tanduk di kepala sahabatnya.
”Maksudnya…?!” Tanpa mempedulikan sahabatnya.
”Tuhh liat…, semua bidadari itu mengarahkan pandangannya ke sini. Di kira ada pangeran berwajah oriental dengan kuda putihnya sedang meratapi nasib. Karena kepedihan hatinya tak kunjung usai…., huahahahh” Dan langsung dibalas irham dengan tinju ke lengan sahabatnya.
”Auuwww!”
”Eehh…, antum yang perlu hati-hati. Ghoddul bashor! Jelalatan!!”
”Siapa yang jelalatan?!! Ham…, ini kan tempat akhwat!! Wajar donk kalau keliatan!” Radit sengit. Membela diri.
”Hmm…, iya ya?!” Irham hanya bisa nyengir. ”MAA’AAFF…”
”Lagian ana bilangnya BIDADARI bukan AKHWAT. Dasarrr PANGERAN LINGLUNG… !!!”
”What…?!!”
”Hmm… Pangeran bertangan dingin yang sering BINGUNG. Melankholis sejati tapi LINGLUNG!! Just confess it?!”
”Bingung? Linglung??!” Wajah Irham merah padam, merasa harga dirinya terancam. Tapi tetap sahabatnya selalu menang untuk menjatuhkan harga dirinya ke tepian jurang tanpa belas kasihan. Karena sejatinya Radit-lah yang sangat mengenal dirinya.

Mereka terus saling mengejek, seperti anak kecil yang sedang bertengkar. Meninju dan saling merangkul kembali. Persahabatan yang indah. Bukan. Bukan indah, tapi mereka lebih terlihat seperti sepasang #@!*$%^.

”Oh iya…, tadi Ustdz Ridho bilang, malam ini antum disuruh ke rumah beliau. Penting katanya…” Sambil menuju tempat wudhu yang berada di seberang, hampir saja Radit lupa menyampaikan.
“Ada apa ?”
“Beliau sih tidak bilang…, katanya tolong sampaikan saja ke antum” Sambil tersenyum jail ditambah dengan alis yang dinaik turunkan. Menggoda.
”Apaan sih…?!! Ngajak ribut lagi?”
”Eitttssss…, kalah deehh ane sama pelatih Tifan tingkat tinggi…, hahahaha”
”Mending cepet deh ambil air wudhu”
“Siap bos…, daripada ane babak belur” Seraya tangannya diangkat sejajar dengan alis.
“…” Otak Irham berputar, kira-kira ada apa ya? Padahal ia ingin segera memejamkan mata dan membaringkan tubuhnya di kos-kosan tercinta ba’da agenda terakhir ini. Hari ini terasa cukup melelahkan, bagaimana tidak, disaat banyak manusia yang menghabiskan akhir pekan untuk istirahat atau refreshing setelah rutinitas kerja yang cukup melelahkan tetapi pemuda bertubuh ateletis itu setia berada dalam ruang-ruang pertemuan membahas agenda yang sering kali sangat jauh dari irisan kehidupan.

Percikan air wudhu itu menyegarkan kembali tubuh dan meluruhkan rasa gundah yang melanda hati. Adzan pun berkumandang. Indah, lantunannya merasuk dan menggetarkan jiwa, menggugurkan noda yang kerap kali menyerang tanpa kenal henti.

***

Fiihinna khoiratun hisaan (di dalam syurga-syurga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik dan jelita). Shadaqallahul ’adzim. Ditutupnya mushaf kecil itu. Di sisi sebelah kiri adik-adiknya sudah menunggu dan dirinya tinggal menggenapkan lingkaran tersebut. Bismillah… ia beranjak menuju adik-adiknya tercinta. Ditatapnya satu per satu, ada jenak-jenak keletihan di wajah mereka, betapa tidak, berbagai macam syuro, tugas kuliah, belum lagi setumpuk amanah lain menghiasi hari-hari mereka. Tetapi mereka sadar begitu pula dirinya bahwa agenda ini adalah prioritas, kebutuhan, pencerahan dan sumber energi baru selain menggantungkan semua permasalahan kepada Sang Pemilik Hidup ini. Ah, adik-adikku ketahuilah hal jazaaaaul ihsaan ilaal ihsaan… (tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula) barakallah fima ‘amiltum. Senyuman itu terlukis di wajahnya. Dilihatnya Radit, yang telah terlebih dahulu memulai mengisi liqo-annya.

Malam semakin larut. Tapi jiwa-jiwa itu semakin khusyu dan semangat. Sesekali terdengar diskusi diiringi celetukan, canda riang dan cemilan-cemilan yang menjadi menu wajib. Ada pentrasferan energi ruhiyah di sana. Ada harapan dan kecemasan. Ada idealisme yang tetap terjaga dengan kondisi realitas zaman. Ada keoptimisan diantara jenek-jenak keletihan dan keterbatasan diri… Ada secercah cahaya di wajah mereka. Semuanya bercampur, menjadi kekuatan gerak langkah dalam menyusuri jalan da’wah. Bi idznillah

Allahumma innaka ta’lamu anna hadzihil qulub. Qodijtama’ats ‘alaa mahabatik. Waltaqats ‘alaa tho’atik. Watawahadats ‘alaa da’watik. Wata’ahadats ‘alaa nashrati syarii’atik. Fawatstsiqillahumma raabithotahaa ….

***

Di tatapnya Jalan Sutera kota Depok. Malam minggu, Margonda semakin eksotis. Selain berisi pelajar-pelajar mahasiswa universitas negeri dan swasta ternama, jalan ini juga menjadi pilihan warga selatan dan timur Jakarta untuk menghabiskan waktu di akhir pekan. Education, fashion, food, fun… Lengkap. One stop shoping. Banyak kenangan dan tempaan yang ia dapatkan di kota itu. Mungkin itu yang membuatnya belum ingin beranjak, meski Depok-Sudirman cukup melelahkan.

***

“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam Warahmatullah …” Lelaki bersahaja itu membukakan pintu. “Ah…. silahkan masuk akhi” Senyuman diwajahnya ditambah rambut dan jenggot yang sudah sedikit memutih menambah kesan matang dalam pribadi sang ustadz.
Kaifahaluk akhi?” Peluk sang ustadz. Ada aliran energi ruhiyah yang tersalur. Luar biasa
“Alhamdulillah, Khoir
“Silahkan duduk…” Mereka benar-benar akrab.
“Sudah makan belum ?”
“Alhamdulillah sudah….” Perbincangan berlangsung hangat.
”…”
”Jadi kapan antum berangkat ke Jerman?”
”Hmm…, rencananya awal Agustus tahun 2007 ini ustadz, karena banyak yang harus dipersiapkan di sana…”
”Berarti kurang lebih 2 bulan lagi… Terus, sampai di mana persiapan antum?”
”Enghh…” Bahasa tubuh Irham mulai berubah. Mau dikirim ke Jerman ’ajee lupa…, apalagi mikirin persiapannya. Pemuda itu hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal meskipun ia mengenal betapa tegasnya sang guru. ” Alhamdulillah berjalan baik. Administrasi 85% hampir selesai, fasilitas di sana kantor yang menanggung. Kedutaan juga sangat membantu meski birokrasinya rumit dan melelahkan…, akhir Mei ini mudah-mudahan semuanya beres”
“Hanya itu saja?”
”Hahhh…?” Bingung.
”Tidak ada yang lain?!” Tegas.
”…” Hening.
”Jadi kapan antum siap?!!” Dengan nada lebih tegas.
”Apanya ustadz…?”
”Ana pernah mentanyakan hal yang sama 3 tahun lalu, tapi kali ini ana tidak ingin mendapatkan jawaban yang sama” Padat dan singkat.
”…” Pemuda itu terdiam. Dia sudah mengerti arah pembicaraan ini.
”Jika belum bisa menjawab…, sepertinya antum harus lebih banyak mengevaluasi diri. Apakah waktu yang selama itu tidak cukup untuk menemukan jawaban? Atau jangan-jangan hati kita yang terlalu sombong sehingga sulit menemukannya? Haruskah ana menanyakan kembali visi dan misi hidup antum? Apa yang antum tunggu?!”
”…” Gggrrrr.
Kartu mati. Skak mat. MURNI tanpa pembelaan diri.

***

Malam semakin larut. Saatnya mengevaluasi…, merefleksi diri…, menelisik lebih dalam ruang yang bernama hati menyusuri dimensi yang bernama waktu…

Selembar sajadah terhampar…, seorang laki-laki tampan tersungkur di atasnya. Memohon berjuta ampunan dari khilaf dan kesombongan. Badannya terguncang karena isak tangis…, isak tangis kepada Rabb-Nya. Tersungkur di hadapan Rabb-Nya…, larut dalam ribuan untaian do’a.

Ya Alah, Engkau lah Rabbku, tiada Rabb kecuali Engkau. Engkau ciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada di atas janji-Mu, semampuku. Aku mohon perlindungan dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui banyaknya nikmat yang Engkau anugrahkan kepadaku dan aku mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah aku. Karena sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa-dosa melaikan Engkau. Ya muqollibal qulub, tsabit quluubana ‘ala diinik. Ya musorrifal qulub, sorrif quluubana ‘ala tho’atik” Do’a itu terdengar lirih dari bibirnya. Dzikir panjang terlantun tanpa henti …

Tangisnya semakin pecah seiring pekatnya malam. Ya…, tangis kekhilafan, kecintaan dan penghambaan. Tangis yang menguatkan iman seorang hamba….

***




Dua minggu berlalu.

….
Year after year, was blaming my self
For what I’d done, just thought of my self
I know that you’ll understand
This was all my fault, don’t go away

….

All of my life the doors have been closed now
And all of my dreams have been locked up inside
But you came along and captured my heart…, girl
You’re the key to my life

Girl you know that I feel for you
There ain’t nothing that I wouldn’t do
Stop the thunder and the pouring rain
You’re the one that’s going to stop the pain

Girl you know that I feel for you
There ain’t nothing that I wouldn’t do
Stop the thunder and the pouring rain
Listen to me can’t you hear what I say….

(Key To My Life)

Pukul 18.30 WIB. Jum’at malam.di sebuah cafe elite bernuansa modern minimalis. Seorang pemuda dengan laptop dan secangkir kopi duduk di sudut ruangan dengan view gedung-gedung pencakar langit dan gemerlap lampu-lampunya yang indah. Bundaran HI di malam hari terlihat cukup jelas dari sana. Cantik. Sejenak ia tersenyum mendengar lagu Boy Zone yang mengalun ringan tapi tajam di telinganya. Ia melepas jas dan melonggarkan dasi, kemudian menyandarkan tubuhnya yang menuntut satu kata, ISTIRAHAT. Rapat dengan klien membuatnya jemu…, ingin rasanya ia menghilang sesaat dari rutinitas duniawi. Sejenak ia menatap langit…, lantunan suara Ronan Keating sukses menambah tegang otot-ototnya, sambil TERSENYUM KECUT. Sukses MENERTAWAI dirinya sendiri.

” Mungkin Frekuensinya berbeda, jadi sinyalnya tidak sampai, so jangan salahkan langit…”
”…” Ditatap sahabatnya. Mereka tertawa bersama.
”Assalamu’alaikum”
”Wa’alaikumsalam”. Dipeluknya sang sahabat. Raditya Wicaksono. Sosok sederhana keturunan Solo yang lahir di Depok 26 tahun lalu. Kader expert berwawasan komprehensif dengan segudang talenta, yang selalu menemani perjalanan da’wahnya di kampus sampai detik ini. Ahli bela diri taekwondo ini baru saja menyelesaikan bea siswa program pasca sarjana ekonomi dengan gelar thesis terbaik di lulusannya. Pantang bagi mereka menyia-nyiakan bea siswa pendidikan, mesti harus dengan segenap perjuangan, kerja keras dan berdarah-darah menggapainya. Fa izda ’azzamta fatawakkal ’alallah.
“Kenapa sihh? Tambah jelek ’ajee tuh muka…, ada masalah di kantor? Klien? Atau ….”
”Apa…?” Seraya sambil memanggil waiters.
”Atau nggak mau pergi ke Jerman? Terlalu cinta dengan Indonesia, kalau ‘githu terusin di sini ’ajee, beasiswa gratiss juga khan…?!” Radit tahu itu pertanyan retoris. Ia tahu benar sahabatnya.
“Nggakk tau…, Indescribe, Indistinct, Indefinite…, and finally incrust with ice and snow. That’s like untauchable…”
What?? Kok antum berbicara seperti itu…, semua orang terpenting dalam hidup antum sudah meridhoi, Insya Allah itu jadi tiket untuk melancarkan belajar S2 di sana dan syurga tentunya, isn’t it?” Jawaban Irham agak aneh bagi Radit, filosofinya yang terkadang sulit dicerna, tapi mungkin pikiran sahabatnya sedang lelah, selelah wajahnya saat ini.
”Makanya cepet cari belahan jiwa supaya bisa berbagi…, whuheheh”
“Nggak perlu dicari”
”Oh…, ya?”
”Banyak yang menanti…”
Wooowwww…!!! Rupanya ’VIRUS PANGERAN’ yang menjangkiti tubuh antum sudah STADIUM AKHIR. KRITISS!!!”
”Hahaha…” Mereka tertawa lepas. Sontak seisi cafe melihat mereka. Buru-buru menjaga image, malu lebel executive muda plus kader tarbiyah masa tidak punya manners. Psstt, padahal ’nggak ada yang berpikir mereka executive muda kok, cuma berisik ’ajee. Haha. GeeErrr.
So how…??”
“…” Irham Tertunduk sesaat. ”Insya Allah ana siap…”
”Ana tau…, tapi kenapa antum menolak hal itu?”
”Ketika ana siap masuk marhalah ini, maka siapapun yang Allah berikan, ana percaya dia adalah yang terbaik…”
”Tapi antum punya hak untuk melihatnya?”
”Iya, kita kan sudah pernah mendiskusikan hal ini …”
Thoyib kalau begitu, jadi sudah ketemu jawabannya sekarang? ”
”Hmmm…, betapa sulitnya mengimplementasikan di relung-relung hati…”
”Ya…, butuh waktu bertahun-tahun. Itupun musti ’DITAMPAR’ oleh sang guru, padahal katanya KADER UNGGULAN, hahaha….” Goda Radit.
”Lho…, bukannya itu FUNGSI berjama’ah…” NGELESSS.
”DASAR!. BY the way…, yang dapet antum nanti sepertinya harus pandai berfilosofi…, biar nyambung frekuensi & gelombangnya, supaya substansinya terdengar jernih…, biar ’nggak kebosanan dan mati gaya karena ’nggak ’ngerti… ”
”Hahaha….” Mereka tertawa kembali. Ups, SILENT.
”So, kapan mau dibicarakan ke Ustadz?”
”Ba’da isya kita langsung meluncur ke sana…”
Thoyib. Well, I’m Proud of you…” Aku Radit yang tahu idealisme sahabatnya.
”Hahaha, justru ana yang berterima kasih sama Allah karena dianugrahi sahabat seperti antum. Chom komapsumnida. Sarang neo…, Radit ssi” Dengan kedua lengan tangan dinaikkan ke atas kepala membentuk sebuah LOVE. Irham tahu, sebentar lagi sahabatnya menginjakkan kaki lebih lama di negeri itu. Didelgasikan dinas di kantor pusat selama dua tahun. Tidak sendiri tentunya.
Bbbbrrrr. Refleks Ice Lemon Tea tersembur dari mulut Radit. Diambilnya tissue. ”Whuueekk…, jijayy, geli ana ngeliatnya”.
“Hahaha…” Irham tertawa penuh kemenangan.

Mereka terlihat bahagia. Tapi, ada sesuatu yang dirasakan Irham, ia merasa kebersamaan ini tak lagi berlangsung lama. Mungkin karena kepergian mereka masing-masing ke luar negeri yang tinggal menghitung waktu. Entahlah.

***

Di malam yang sama. Di tengah keheningan malam, seorang gadis duduk termenung, sehabis menunaikan Qiyamulail. Butiran hangat terjatuh. Dadanya kian bergemuruh, tangannya gemetar. Perlahan bibirnya melantunkan do’a…

Wahai Rabb dari Raja segala Kerajaan, wahai Yang Maha Mengetahui Perkara Ghaib, wahai Engkau yang telah memberiku kemurahan, Engkau telah memberi dan memilihkan yang terbaik untukku sebelum aku memintanya, janganlah Engkau membiarkanku ketika aku meminta kepada-Mu. Wahai Allah, berilah apa yang terbaik untukku, karena aku tak bisa memilih dengan baik. Berilah aku petunjuk jalan kepada kebaikan dunia dan akhiratku, wahai Yang Maha Mengetahui tentang perkara-perkara ghaib

Diserahkan seluruhnya kepada Sang Pemilik Hati…, Sang Pemilk hidup dan kehidupan.

***


Akhir pekan jadwal dauroh menghiasi agenda Irham. Lelah, tapi ia harus hadir di dalamnya. Moment yang baik untuk mentransfer seluruh grand design juga project yang akan segera di garap, sekaligus memilih penanggung jawab selanjutnya setelah ia hijrah ke Jerman . Ia sadar tidak memiliki banyak waktu.

***

Malam di Kaki Gunung Salak, begitu dingin menusuk tulang. Tubuh Irham gemetar bukan kepalang, bukan karena sedang mengisi taujih, tapi telepon Ustadz Ridho yang timingnya tidak tepat. Malam itu seorang seorang gadis yang tidak pernah ia ketahui siapa nama dan rupanya, telah memberikan sebuah jawaban bersedia sebagai patner kehidupannya untuk bersama melangkah memasuki gerbang pernikahan, membangun impian, cita-cita dah harapan di jalan da’wah. Irham memang tidak membuka biodata itu, tetapi diserahkannya kepada sang ibunda tercinta. Dan dengan segenap jiwa sang ibu pun menyetujui serta meridhoi, dikecup kening putranya dengan linangan air mata. Maka rangkaian istiqarah dan rajutan do’a lebih lama dari biasanya terus menghiasi malam-malam Irham. Ya Allah, hamba meminta dengan ilmu yang ada pada-Mu pilihan yang terbaik bagiku, hamba minta ditetapkannya urusan hamba ini sesuai kehendak-Mu, hamba memohon karunia-Mu yang agung. Karena Engkaulah yang menetapkan sedang hamba tidak bisa menetapkan. Engkau tahu sedang hamba tidak tahu. Engkaulah yang maha tahu tentang perkara-perka ghaib. Wahai Allah, bila menurut-Mu urusan ini baik bagi diriku, agamaku, penghidupanku, dan juga baik akibat-akibatnya di masa sekarang atau di kemudian hari, maka tetapkanlah dia ini bagiku. Namun bila menurut-Mu urusan ini tidak baik bagi diriku, agamaku, penghidupanku, dan juga tidak baik akibat-akibatnya di masa sekarang atau di kemudian hari, maka jauhkanlah dia dariku dan jauhkanlah aku darinya. Tetapkanlah selalu kebaikan untukku apapun keadaannya, lalu jadikanlah aku ridha kepadanya. Do’a yang terus terlantun di malam-malamnya. Maha besar Allah yang mengetahui setiap hati hamba-hambanya. Pinangan itu berbuah jawaban. Kabar itulah yang kini membuat suasana hatinya terus bergejolak, DAHSYAT!!. Hampir ia sulit berkonsentrasi saat ia mengisi materi…, tapi untunglah kontrol dirinya sangat baik, hanya kepada Rabbnya ia meminta kekuatan.

Seusai rapat, Irham berencana kembali ke Masjid. Ingin bermunajat dengan Rabbnya. Tugas utama telah ia selesaikan. Pemimpin yang baru telah terpilih, semua pentransferan berjalan baik. Bahagia, bebannya berkurang. Tapi bagi sang penerus, Irham lebih tepat mentransfer PENDERITAAN berkepanjangan, karena banyak target project yang harus terselesaikan tahun ini. Maka siapa yang PALING menderita ketika di dauroh itu?! Sudah dipastikan bukan Ketua Panita atau Ketua LDK, jawabannya si sang penerus itu.

Kabut semakin tebal…, membuat Cibatok yang dingin semakin membekukan tulang-tulang. Sebagian terlelap…, istirahat untuk Qiyamulail. Beberapa masih ada yang terjaga dalam sholatnya…, bercengkrama dengan Sang Kekasih. Ketahuilah, bahwa di dalam sholat terkumpul kebaikan, karena dengan sholat mereka tunduk pada pengawasan Allah. Barang siapa yang berdiri bertakbiratul ihram, maka rahmat pun akan menemui mereka. Mereka laksana seorang hamba mengetuk pintu tuannya, ketika dalam sholat merekapun berbisik kepada Sang Pemilki Arsy. Ah…, berbahagialah mereka tatkala melakukan shalat secara khusyu’.

Kallaaaa idzaa balaghotittaraaqi waqiilamanraaq wadzhonna annahulfiraaq wal taffatissaaqu biissaaq ilaa rabbika yaumaidzinilmasaaq…” (Tidak! Apabila nyawa telah sampai ke kerongkongan dan dikatakan kepadanya : Siapa yang dapat menyembuhkan?” dan dia yakin bahwa itulah waktu perpisahan dengan dunia dan bertaut betis kiri dengan betis kanan, kepada Rabbmu-lah pada hari itu kamu dihalau). Seluruh tubuhnya bergetar. Irham mengakhiri rakaat terakhirnya dalam sujud panjang. Meratakan kening di atas alas yang basah karena air mata.

Dalam jenak-jenak keletihan ia bersimpuh, mengangkat kedua tangan melafadzkan do’a dan syukur yang begitu mendalam tanpa henti kepada Ar Rahman. Bersyukur…, atas segala cara-Nya mengingatkan hamba-Nya yang kerap kali terjerumus dalam kekhilafan. Bersyukur atas semua rangkaian tempaan Rabb-Nya, di jalan ini. Kini ia telah BERHASIL menemukan kembali kepingan yang sekian lama hilang dari dalam hatinya, sebab kesombongan untuk mengakui kelemahan diri. Melupakan semuanya dan manata langkah baru …

Ingatannya kembali ke 6 tahun yang lalu, saat ia bertemu dengan seorang mahasiswi, tiga tingkat lebih muda darinya, dalam perjalanan study banding pertukaran mahasiswa di Jepang. Mereka dituntut membangun kualitas kerjasama bertaraf internasional dengan waktu yang cukup singkat. Sederhana, anggun, cerdas berkualitas INTERNASIONAL, itulah kesan Irham terhadapnya. Tidak. Tidak ada hubungan apapun diantara mereka, sang gadis sangat profesional ketika membina hubungan dengan siapapun. Tapi perjalanan itu membuat atsar mendalam di hati Irham. Perasaan itu terus mengakar meskipun di pisahkan oleh jarak dan waktu. Ada segenap asa dan harap. Lalu mengapa NIAT BAIK itu tidak disegerakan? Bukan. Bukan karena nyalinya terlalu kecil. Ia hanya ingin memasuki marhalah itu dengan KESUCIAN NIAT, bukan emosi atau perasaan yang mengatasnamakan CINTA. Melafadzkan Mitsaqan Ghaliza dengan segenap mengharap ridho Allah. Membangun rumah tangga berorientasi syurga. Meminimalisir NODA di atas kesucian ikatan sakral. Hanya itu, tidak ingin ada tendensi apapun. Tapi ia sadar betapa sulitnya melakukan itu. Tiga tahun lalu bukan penolakan terhadap pernikahan, tapi ia belum mampu melangkah mantap tanpa KEIKHLASAN disana. Dan kini…, dengan segenap daya dan upaya, ia kembali membersihkan kepingan keikhlasan yang telah LUSUH itu, lusuh karena debu-debu khilaf dan goresan-goresan kesombongan. Ya…, Rabb tuntunlah selalu hati ini dalam jalan menuju jannah-Mu. Amiiin. Seraya para malaikat dan seisi alam semesta mengaminkan do’a sang pemuda itu.

***



Rabu Sore, terminal kedatangan Bandara Soekarno Hatta hari itu sangat ramai. Irham menuju pintu keluar, dilihat beberapa sahabatnya sedang menunggu, sengaja ia tidak memperbolehkan kedua orang tuanya datang, masih ada event yang lebih penting minggu ini, batinnya. Hanya seminggu ke Jerman mengurus segala sesuatunya, rasa rindu terhadap Indonesia, keluarga dan sahabat-sahabatnya tidak bisa tergambarkan. Luar biasa tak terkira.

”Assalamu’alaikum ya Akhi…” Serempak.
”Wa’alaikumussalam warahmatullah…” Dipeluk sahabatnya satu per satu.
”Bagaimana kabarnya Mr. Irham?” Tanya Taufik, sang pakar hukum dengan galar master dari Utrecht University di Belanda .
Kumaha damang? Tambah kasep pisan euy si Irham” Goda Wawan, ahli pertanian dari Bogor.
Piye Kabare Gusti Pangeran?” Kali ini Radit yang bersuara.
”…” Irham hanya bisa tercengir lalu manyun karena sahabatnya tak henti meledeknya. Meskipun nilai TOEFL mereka rata-rata di atas 580 tidak ada yang suka berbicara bahasa Inggris kecuali situasi formal yang memaksa mereka, sebab mereka CINTA INDONESIA. HIDUP INDONESIA!! Padahal ’mah emang ’nggak bisa. Hehe. Kali ini dihampirinya sang guru.
Kaifahaluk Akhi…?” Teduh terlihat wajah sang guru.
Alhamdulillah Khoir Ustdz..”
”Oleh-olehnya mana Ham?” Todong Radit.
”Hmm…, untuk antum khusus ana kasih hari sabtu besok, Insya Allah…” Sontak sahabatnya yang lain langsung menggoda Radit. Kini Guest Star berpindah ke Radit. Dicengin abiss. Wajahnya berubah jadi ungu. Sang guru pun tak kuat menahan tawa. Benar. Kini Radit sedang panas dingin menanti detik-detik Mitsaqan Ghaliza itu di lafadzkan.

***


Langit masih pekat di pagi itu. Ia berjalan membus kedinginan kota Bogor menuju Masjid kompleks rumahnya. ”Ya Allah jadikanlah di hatiku cahaya, di mataku cahaya, di pendengaranku cahaya. Jadikanlah dari sisi kananku cahaya, dari sisi kiriku cahaya, di atasku cahaya, dibawahku cahaya, dibelakangku cahaya dan jadikanlah untukku cahaya” Do’a Irham …

Pukul 06.00 WIB

Sambut senyum mentari
Dan Kicau burung pagi
Gemericik air laksana tahmid di hati
Bersama lambai dedaun ungkap kesyukuran
Meruntuhkan kesombogan keangkuhan insan

…..
(Cerita)

Jum’at pagi ini terlihat cerah. Lebih tepatnya karena LIBUR NASIONAL. Di tatapnya dalam-dalam pemandangan pagi itu. Iringan Nasyid Najmudin itu menambah dirinya terus bertafakur atas ciptaan Sang Maha Pencipta. Terlihat Gunung Salak berdiri kukuh dari balkon kamar tercintanya di lantai 2. Tiba-tiba Ponsel Sony Ericsonnya berbunyi.

”Assalamu’alaikum”
”Wa’alaikumussalam Akhi…, bagaimana kabarnya?”
”Alhamdulillah sehat ustdz”
Thoyib..., hari ini siap?”
”Insya Allah Ustadz”
”Jangan mengulang kesalahan lagi, pulang dari Jerman tambah baik donk”
”Ahh…, ustdz bisa aja. Insya Allah”
”Ana tunggu di kampus ba’da ashar ya akhi”
”Baik ustdz…, Insya Allah”
”Ditunggu ya…, Assalamu’alaikum”
”Wa’alaikummussalam”
Ditariknya nafas dalam-dalam. Lalu dihembuskan. Fiiuuhhhh. Bismillah….

***

Pukul 16.00. Seorang gadis keluar dari sebuah Hotel ternama di Depok, usai menghadiri seminar. Margonda terlihat tidak begitu ramai sore itu. Cuaca terlihat mendung…, sapuan angin mengibarkan jilbabnya. Ia memutuskan untuk berjalan kaki ke subuah toko buku ternama yang tidak jauh dari hotel tersebut. Sudah lama ia tak berjalan-jalan di kota itu. Meskipun 2 tahun terakhir ia kembali ke Depok, profesi sebagai junior auditor tidak memberikan kesempatan dirinya sekedar jalan-jalan, perjalanan dinas ke berbagai wilayah Indonesia membuatnya lelah tapi tetap bersyukur, kapan lagi belajar sekaligus jalan-jalan gratiss, pikirnya. Dihirupnya aroma kota Depok itu dalam-dalam….

DDAAAARRRR….. BRRAAAKKK” Lamunan gadis terhenti. Refleks ia menghadap kanan mencari arah suara itu. Waktu seakan berjalan lambat…, Honda CBR 150 R terlempar beberapa meter setelah bertabrakan dengan truk. Ia dan orang-orang di sana menyaksikan sesosok tubuh yang terpelanting, sebelum menyentuh aspal ia kembali di hantam oleh sebuah mobil yang sedang melaju dan kini tubuh itu tergeletak 100 meter dari tempatnya berdiri. ”Allahu Akbar…” Teriaknya. Tubuhnya kaku…, hanya lantunan dzikir dari bibirnnya yang terdengar. Ia berusaha mendekati sesosok tubuh yang masih mengenakan Helm, semoga saja masih bernyawa, desisnya. Ditatapnya lekat-lekat…, dia tak melihat satu tetes darah pun. Orang-orang berlarian untuk membantu. Luka? Tidak terlihat, si pengendara begitu rapat melindungi tubuhnya. Tapi…, syaraf penciumannya merasakan sesuatu, otaknya mentranslate rangsangan itu…, satu kata yang terlintas HARUM. Subhanallah…, Apakah?!

”Mba jangan bengong ….?!” Tegur seorang bapak.
”Tolong bantu bereskan tas yang terlempar itu Mba?!!” Perintah seorang bapak yang lain. Refleks sang gadis berlari memungut HP dan tas yang berisi Laptop. Tidak ada yang berserakan selain motor yang tampaknya memiliki kerusakan cukup parah. Sepertinya sang pemilik orang yang rapih, semuanya terlindungi dengan baik. Tapi siapa yang tahu jika hancur di dalamnya. Pikir sang gadis.

Sirene ambulan berdering kencang. Banyak orang berkumpul di tempat kejadian perkara. Segera ia mengembalikan seluruh barang-barang itu kepada Polisi. ”Pak…, Maaf ini barang-barangnya”
”Anda melihat bagaimana kejadiannya?”
”Iya Pak…” Jawabnya lemah.
”Kami meminta anda memberikan kesaksian”
”Baik Pak…” Gadis itu tak sempat melihat kembali sang korban, karena segera di larikan ke Rumah Sakit terdekat. Banyak orang yang mengatakan beliau sudah meninggal, tanpa satu luka pun di tubuhnya, wajahnya tersenyum dan satu lagi HARUM. ”Innalillahi wa innailahi rojiuun…” Bisiknya lirih. Ia yakin bahwa beliau orang yang baik atau sangat baik. Satu slide peristiwa kehidupan telah ia saksikan, dirinya percaya pasti ada ibrah yang Allah berikan di balik semua ini. Karena tidak ada yang kebetulan di dunia ini.

***

Hiruk pikuk aktivitas di Kantor Polisi serta pertanyaan yang bertubi-tubi, membuatnya pening. Ia tak ingat no plat truk yang menabrak pemuda itu, tapi berhasil memastikan pemuda itu tidak salah, untunglah ada dua orang saksi lain yang menjelaskan lebih detail atas peristiwa itu. Sesaat diliriknya semua barang-barang pribadi milik sang pemuda…, lengkap. Mata gadis itu tertuju pada sebuah benda kecil hitam berbentuk segi empat, Ipod bertulisan Pause. Tertera di sana Q.S Surat Al-Insan : 22.

”Subhanallah, tubuhnya wangi Neng” Celetuk seorang pemuda, membuyarkan ingatan hafalan sang gadis.
”Iya benar…, wajahnya teduh. Mungkin saja, malaikat Izroil telah mencabut nyawanya terlebih dahulu sebelum kecelakaan itu terjadi. Wallahu’alam.., tapi insya Allah husnul khatimah” Dijawab sang bapak dengan bijak.
”…” Tanpa sadar air mata itu menetes di pipi sang gadis, tubuhnya terasa begitu lemas. Polisi yang ada bengong…, tapi mencoba memahami sensifitas seorang wanita. Gadis itupun pun tak mengerti, rangkaian peristiwa itu dan perasaan ini, Entahlah.

***


Sabtu siang, matahari tetap enggan menunjukkan sinarnya. Alam semesta seolah sedang berduka atas kematian seorang hamba Allah. Di sebuah pemakaman, berisi beratus-ratus orang yang mengiringi kepergiannya, mata-mata mereka basah dengan air mata. Ayah dan beberapa sahabat terlihat turun ke liang lahat menggotong mayat orang yang sangat dicintainya. Ibundanya terisak. Gadis itu hanya mampu menatap sekeliling, tak ada air mata di wajahnya. Tepatnya, sudah tak mampu lagi ia menangis, setelah semalam tersungkur dalam tangis yang panjang atas episode yang luar bisa dalam kehidupannya.

Tanah, perlahan-lahan dimasukan dan memenuhi liang lahat. LUAR BIASA perih dan sesak dada ini Ya Rabb. Kuatkanlah…, Kuatkanlah hamba-Mu. Hanya itu Do’anya. Isakan tangis keluarga dan para sahabat terdengar semakin membahana. Gundukan tanah telah menutupi liang lahat itu. Semua orang menengadahkan tangan dalam do’a yang dipimpin Ustadz Ridho. Ada tangis atas kecintaan mereka kepada seorang hamba Allah, contoh teladan yang sangat baik. Semua merasakan kehilangan yang mendalam…

Radit tersungkur di samping makam sahabatnya tercinta. Hampir semua telah meninggalkan pemakaman tersebut. Hanya beberapa sahabat dan keluarganya yang tertinggal. ”Sahabat…, kau layak mendapatkan syurgaNya. Kau menghadap kepada Rabb-Mu dengan sangat mulia, tanpa cacat. Setidaknya itu menurutku. Sebuah pembelajaran keikhlasan telah kau torehkan kepada orang-orang di sekelilingmu” sejenak ditatapnya seorang gadis yang sedang memberikan do’a agak jauh dari makam. ”Kau tahu, gadis itu terlihat begitu ikhlas. Ah…, sahabat jika saja kau tahu gadis itu dan biodata 3 tahun yang lalu adalah gadis yang sama. Ya, dia yang sempat meruntuhkan pertahanan hatimu…, kau telah mendapatkan buah keikhlasanmu. Tapi tidak, Allah lebih sayang terhadapmu dan apa yang dinanti seorang hamba selain bertemu dengan Kekasih tercintanya. Sahabat aku iri padamu…, kau mengutamakan ridho dan syurga-Nya di atas egoisme duniawi” Isakan tangis itu tak tertahankan. ”Akan ku ikuti jejak langkah keikhlasanmu…”. Semua sahabat memeluk Radit, sang guru hanya mampu diam…, hanya isakan tangis yang terdengar.

”Dua Juz terakhir yang belum sempat kau genapkan kepada Ust. Abdurahman…, akan ku Lafadzkan sebagai Mahar Pernikahanku Petang ini. Jazakallah akhi atas jejak-jejak ukhuwah yang kau torehkan di hati ini. Aku akan membawanya sampai Rabb-ku memanggilku untuk menyusulmu. Aku akan sangat merindukanmu sahabat…”. Selangkah demi selangkah mereka meninggalkan makam tersebut. Tertera di pusara makam : Innalillahi wa innailahi rojiuun. Muhammad Irham Prayoga bin Abdullah. Lahir Bogor, 17 Desember 1979 s.d 15 Juni 2007. Adzan ashar berkumandang dan matahari tetap masih enggan memunculkan wajahnya.

***

Sujud panjang menghiasi akhir sholatnya. Gadis itu mengambil Al-Qur’an. Dibukanya sebuah Surat : ”Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabarannya berupa syurga dan pakain sutera. Di sana mereka duduk bersandar di atas dipan, di sana mereka tidak melihat (merasakan teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang berlebihan. Dan naungan pepohonannya dekat di atas mereka dan dimudahkan semudah-mudahnya untuk memetik buahnya. Dan kepada mereka diedarkan bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kristal, kristal yang jernih terbuat dari perak, mereka tentukan ukuranya yang sesuai dengan kehendak mereka. Dan di sana mereka diberi segelas minuman bercampu jahe, yang didatangkan dari sebuah mata air di syurga yang dinamakan Salsabil. Dan mereka dikelilingi oleh para pemuda-pemuda yang tetap muda. Apabila kamu melihatnya, akan kamu kira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila engkau melihat keadaan di sana (Syurga), niscaya engkau akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka berpakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan memakai gelang terbuat dari perak, dan Allah memberikan kepada mereka minuman yang bersih dan suci. Inilah balasan untukmu dan segala usahamu diterima dan diakui Allah.” ( AS. Al Insan : 12 – 22).

Air matanya luruh. ”Engkau layak mendapatkanya saudaraku…” Desisnya pelan. ”Sungguh aku tak mengenal lebih siapa dirimu, selain pertemuan di Jepang saat itu. Pertemuan yang sarat akan pembelajaran dan kini di akhir perpisahan…, kau pun memberikan pembelajaran berharga bagiku. Terima kasih …”

Katakanlah wahai Allah yang mempunyai kerajaan. Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab.”

Ditatapnya berkas-berkas administrasi di atas mejanya. Ya, ia harus terus melangkah meraih gelar masternya di Jerman. Cukuplah Allah bagi kami dan Ia adalah sebaik-baik pelindung. Ya… Rahman. Kukembalikan dan kuserahkan semua urusan ini hanya Kepada Mu…

Angin malam semakin dingin. Gadis itu tetap bersimpuh dalam jutaan bulir do’a dan air mata…..







Depok, Penghujung Juni 2009
Di saat tangan ini kian gemetar, setelah menggenapkan akhir cerita ini….
Seraya tersenyum dan berterima kasih kepada seorang teman yang telah mengirimkan sebuah Artikel ” Menikahi Orang yang dicintai atau Mencintai Orang yang dinikahi…”.
Idealisme itu representasi dari pemahaman seseorang. Setidaknya itu menurut saya. Dimanapun anda berada saat ini…, sekali lagi terima kasih.





Note:
Chom Komapsumnida : Terima Kasih Banyak
Sarang Neo : Aku Mencintaimu atau Aku Cinta Padamu
Ssi : Panggilan Tuan atau Pemuda dalam Bahasa Korea




Teruntuk Sahabat ku Endah Meiria, aku akan menyusul jejak langkah S2-mu kawan…, Insya Allah. Pasti. Iniche Mulyasari, thanks for making me feel beter, mari kita tembus perusahaan itu. Amami Sora, senpai bisa di kritisi tulisan ini. For my Sisters, so.. this is end of the story dan untuk seluruh saudara dan saudariku di jalan ini, jazakumullah…

Akhir kata, saya hanya mencoba mengurai ‘Makna’ dalam rangkaian kata demi kata atas semua Peristiwa yang terjadi dalam Kehidupan ini…, tiada kata yang dapat terucap selain Terima Kasih karena telah berkenan membacanya…

Advertisements

Comments are closed.

%d bloggers like this: