Skip to content

Negeri 5 Menara…

December 27, 2009

Ini adalah sebuah Kisah yang terinspirasi dari Cerita Nyata…, yang ditulis oleh seorang penulis dengan sentuhan hati ….

“… Ikatlah Ilmu dengan mencatatnya. Proses mencatat itulah yang mematri kosakata baru dikepala kita…” Perkataan Ustad. Salman dalam Negeri 5 Menara ini menjadi motivasi bagi saya untuk menuliskan dan berbagi kepada anda semua…, betapa Novel ini mampu mengalirkan energi positif yang luar biasa bagi siapapun anda yang sedang merajut cita-cita dan membentangkannya seluas alam semesta.








Orang berilmu dan beradap tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak… kan keruh menggenang

Singa jika tak meninggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Maka manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan
(Imam Syafii’)



Itulah tulisan yang saya baca ketika pertama kali membukanya…
Awal pencarian saya di sebuah Toko Buku terbesar di Depok sebenarnya bukan ini. Confenssoin of an Economic Hit Man – English Version, 100 Orang yang paling Berpengaruh di Dunia Sepanjang Sejarah dan Api Sejarah memenuhi otak saya. Hanya itu. Tapi ternyata harganya tidak mau berkompromi dengan kocek saya. Sambil membuat keputusan, kaki ini melangkah menyusuri seluruh rak-rak dan buku-buku yang tertata anggun. Luar biasa…, seperti berada ditengah padang rumput hijau yang luaaass dihiasi dandelion yang cantik dan langit biru yang cerah dengan hamparan buku-buku yang memiliki berjuta ilmu. Pikiran saya terus menari-nari dan bermimpi suatu saat nanti sebuah nama pengarang rumput_ashita ada diantaranya. Hehe. Bagi saya toko buku adalah perpustakaan, salah satu tempat tercinta, gua persembunyian melepas penat dari seluruh aktivitas. And finally, saya menemukan buku ini…



Filosofi Negeri 5 Menara …
Berawal dari impian 6 orang pemuda yang dipertemukan di sebuah pesantren dengan metode pendidikan yang luar biasa. Setiap menjelang sore, di bawah kaki menara mereka kerap menceritakan mimpi-mimpi gila, melukis langit dan membebaskan imajinasi lepas melambung tinggi. Setinggi langit Arab Saudi, Mesir, Eropa, Amerika dan Indonesia. Modal kami hanya berani bermimpi, lalu berusaha, bekerja keras dan menggenapkan dengan do’a. Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil ….

Ketauladanan seorang ibu, bakti terhadap orang tua, keikhlasan, kekuatan pandangan hidup, keterkaitan, peleburan dan pencerahan diri dari kekuatan Sang Maha Hidup mengawali sang tokoh utama dalam perjalanan setengah hatinya berada dalam pesantren. Ya…, sang tokoh utama mampu memahami subtansi dirinya sebagai seorang hamba. Semua itu mendasari bangkitnya semangat untuk mencapai prestasi dan martabat diri. Sungguh luar biasa…

Highly recomended…, bagi Pribadi, Ayah, Ibu, Guru/Murabbi, Murid/Mutarabbi, Qiyadah, Jundiyah. Bagi yang sedang terpuruk dengan skripsi, thesis atau siapapun kita, sebagai seorang hamba yang ingin menuju perubahan.

Man shabara zhafira. Siapa yang bersabar akan beruntung. Jangan risaukan penderitaan hari ini, jalani saja dan lihatlah apa yang akan terjadi di depan. Karena yang kita tuju bukan sekarang, tetapi ada yang lebih besar dan prinsipil, yaitu menjadi manusia yang telah menemukan misinya dalam hidup. Akhi…, tahukah kalian apa yang membuat orang sukses berbeda dengan orang biasa? Going extra miles. Tidak menyerah dengan rata-rata. Kalau orang belajar 1 jam, dia akan belajar 5 jam. Kalau orang berlari 2 kilo, dia akan berlari 3 kilo. Kalau orang menyerah di detik ke 10, dia tidak akan menyerah sampai 20 detik. Selalu berusaha meningkatkan diri lebih dari orang biasa. Going extra miles…, lebihkan usaha, waktu, upaya, tekad dan sebagainya dari orang lain. Maka kalian akan sukses.” (Negeri 5 Menara, Hal. 106-107)

Subhanallah…, kehidupan pesantren dengan metode pendidikan tingkat tinggi, bisa menjadi rekomendasi bagi siapapun yang sedang mendidik generasi-generasi Rabbani. Ya, madrasah atau pesantren yang kerap kali memiliki kesan warga kelas dua atau sisa-sisa, mampu dibantah oleh buku ini….

Keikhlasan dan Wakaf Diri. Pernahkan anda mengenal Konsep ini? Itulah yang saya pelajari dari sosok-sosok guru di pesantren ini. Ya, mewakafkan diri, waktu, pikiran dan tenaga, tanpa kepentingan apapun dan mengikhlaskan sebagai ibadah dan pengabdian kepada Rabbnya….

Teriring terima kasih yang mendalam kepada pengarang buku ini…, sungguh suntikan energi yang luar biasa, kembali menyadarkan kami bahwa substansi hidup adalah kombinasi niat ikhlas, kerja keras, do’a dan tawakal…

Ketika dalam testimoni, Erbe Sentanu menuliskan Novel ini adalah Demonstrasi yang indah tentang kekuatan Ikhlas dan Prasangka baik terhadap Tuhan. Ditulis dengan menggunakan kata hati sehingga menyentuh…, maka saya sepakat. Dan ketika Farhan menuliskan mantera man jadda wajada, seperti amphetamine untuk pikiran yang keluh oleh masalah dan antibiotik yang mengusir parasit-parasit yang melemahkan…, maka saya pun sepakat.

Tidak akan rugi anda membaca buku ini…, rekomendasi awal tahun hijriah dan akhir tahun masehi. Saya yakin, setelah anda membacanya…, keleidoskop dan resolusi baru tentang hidup anda akan terus menari-nari ….




Depok, 18 Desember 2009
Refleksi diri…, ketika seperempat abad sudah, berada di dunia ini.
Man jadda wajada


“… Ilmu bagaikan nur, sinar. Dan sinar tidak bisa datang dan ada di tempat yang gelap. Karena itu, bersihkan hati dan kepala kita, supaya sinar itu bisa datang, menyentuh dan menerangi hati kita. Beruntunglah sebagai penuntut ilmu karena Allah memudahkan jalan kita ke syurga, malaikat membentangkan sayap untuk kita, bahkan penghuni langit dan bumi sampai ikan paus di lautan meminta ampun bagi orang yang berilmu. Reguklah ilmu dengan membuka pikiran, mata dan hati kita …” (Ustad Rais dalam Negara 5 Menara)



Notes.
Jangan mengaku orang minang jika belum baca buku ini …, hehe.
Selamat membacanya…, semoga bermanfaat.

Advertisements

Comments are closed.

%d bloggers like this: