Skip to content

Ayah… Oase di Tengah Padang Gurun

March 29, 2017

IMG_20170329_174931

Judul buku  : Ayah, Kisah Buya Hamka
Penulis : Irfan Hamka
Penerbit : Republika
Cetakan : XI, April 2016
Halaman : xxviii + 324 halaman
Dimensi Buku : 13.5 x 20.5 cm
Harga Buku : Rp 49.000,00

Seperti oase di tengah padang gurun, menyejukkan. Itulah kesan saya terhadap sosok ayah, saat membaca buku ini. Namanya kerap tertulis dan tidak asing di negeri ini. Lahir di Sumatera Barat, 17 Februari 1908. Meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981, di usia 73 tahun. Ia adalah pejuang, ulama, sastrawan, cendikiawan sekaligus politikus yang humanis. Orang mengenalnya dengan Buya Hamka. Buya artinya ayah atau gelar ulama. Hamka yang berarti H. Abdul Malik Karim Amrullah.

Buku ini ditulis oleh putra kelima dari Buya Hamka. Kenangan peristiwa sepanjang 33 tahun bersama sang ayah, mengajak kita mengenal lebih dekat, sosok Buya Hamka.

Keteguhan Hati

Hamka kecil mengeyam pendidikan formal di Sekolah Desa selama tiga tahun. Itu pun tidak tamat. Ia merasa selalu dilecehkan oleh anak-anak yang berasal dari keluarga golongan menengah maupun atas. Di usia dua belas tahun, orangtuanya bercerai. Perceraian itu hampir membuatnya kehilangan arah. Namun, keteguhan menjadi manusia berguna, terpatri dalam hatinya. Hal itu tak menyurutkan langkahnya untuk terus belajar. Di umur 13 tahun, ia membulatkan tekad untuk merantau ke Jawa, belajar dari tokoh-tokoh besar sejarah bangsa ini, dan memperdalam ilmu di Mekkah, saat berusia 19 tahun.

Bicara dengan Bekerja

Tahun 1963-1965 terjadi serangan gencar terhadap tokoh-tokoh yang bersebrangan dengan komunis. Pramoedya A. Toer adalah sastrawan yang paling lantang menyerang Hamka. Hamka tenang menganggapi. Bicara dengan bekerja. Itulah pesan seorang Buya Hamka, saat didera berbagai fitnah.

Akhlaq Seorang Muslim

Keikhlasannya menjalankan pesan terakhir Soekarno yang meminta kesediaannya untuk menjadi imam sholat jenazah, sesaat sebelum  Soekarno wafat.  Kelapangan hatinya menuntun Moh. Yamin, orang yang berseberangan dengan dirinya, menghadapi sakaratul maut dan mengantarnya ke liang lahat. Kebesaran jiwanya menjadi guru untuk calon menantu Pramoedya A. Toer, yang ingin mempelajari Islam. Betapa Hamka, telah meneladani akhlaq Rasulullah.

Berdzikir sepanjang waktu

Perjalanan panjang haji. Cerita menegangkan, namun sarat hikmah. Irfan Hamka, tidak pernah melihat ayahnya lepas mengaji dan dzikir selama hidup. Begitu pun dalam perjalanan maut saat menghadiri lawatan ke Negeri 1001 Malam. Guncangan dahsyat pesawat di udara kosong, badai gurun pasir dan air bah di gunung granit, dihadapi sang ayah dengan terus berdzikir. Mereka selamat. Semua takjub mendengar kisah mereka, melewati kekejaman gurun pasir dari Baghdad ke Mekkah, yang mengerikan. Allah menjaga orang-orang shalih.

Allah,  Allah… dan Allah 

Ketika sang istri meninggal, tidak mudah melupakan seseorang yang telah mendampingi selama 49 tahun, dalam suka dan duka. Hamka melantunkan syair jika teringat sang belahan jiwa. Namun ketika kesedihan terus merasuki relung kalbu, ia mengambil wudhu, lalu sholat taubat. Betapa ia tidak ingin kecintaan terhadap istrinya melebihi cintanya kepada Allah. Untuk menghibur hatinya, ia akan membaca Al Quran terus menerus hingga tertidur. Beginilah orang shalih menjaga hatinya.

Recommended. Buku ini hadir, di tengah berbagai permasalahan bangsa yang sedang bertumbuh. Layaknya oase di tengah gurun luas, menyejukkan. Kekurangannya, penulis seharusnya bisa lebih tajam mengeksplore sosok Hamka dan pemikirannya. Over all, bagus!

Parfait… Perfect

January 22, 2017

img_20170122_163458

Parfait. Parfait is a dessert consisting  layers of ice cream/whipped cream, fruit, etc. Served in a tall glass. Ini bukan ide saya, tapi ide kakak yang terinspirasi dari jajanan di Bandung, kota sejuta ragam kuliner.

Pesan whatsapp hingga tulisan ini diunggah, tak jauh dari kata : share resep donk!. Baiklah. Sebenarnya, saya juga masih asing dengan si parfait, ketika diberi tahu bentuknya, I just nod nod and say “ooohh, itu”. Paham.

Ingredients
1    buah mangga harumanis atau gedong
2    buah kiwi
1    saschet agar agar (plain)
1    saschet puding (plain)
2    buah plain yogurt
3    sdt chia seed
50 gram granola from  d’granola (topping)

Layer pertama :
Potong dadu buah mangga dan kiwi. Susun di atas gelas atau mangkuk bening. Masak agar-agar hingga mendidih, no added sugar ya. Setelah itu, tuangkan di atas susunan buah. Fungsinya untuk mengikat buah, supaya steady saja. Biarkan dingin. Sisihkan.

Layer kedua :
Masak puding hingga mendidih, no added sugar juga ya. Setelah itu, tuangkan di atas susunan buah yang sudah diikat oleh agar-agar tadi.

Layer ketiga :
Ambil sebagian daging buah mangga. Hancurkan, kemudian tuangkan ke dalam plain yogurt. Tidak perlu terlalu halus, karena teksturnya akan menambah cita rasa yogurt. Setelah itu, tambahkan 3 sendok chia seed selain sebagai super food, chia seed juga dapat memberikan kekentalan alami. Aduk rata and no added sugar. Tuangkan di atas puding. Simpan dalam lemari pendingin sekitar 30-60 menit.

Layer keempat :
Keluarkan dari lemari pendingin, taburkan granola sebagai topping. Lalu sajikan!

Yummy. Kenapa tidak perlu ditambahkan gula? karena fruktosa buah sudah cukup mewakili manisnya parfait ini, ditambah taburan granola dan buah-buahan kering di dalamnya. Perfect.  Manis. Asam. Gurih.

Untuk vegan, puding susu bisa diganti dengan cashew/almond milk. Jika warnanya ingin lebih cantik, bisa tambahkan perasan daun suji sebagai pewarna alami. Yogurt diganti dengan coconut yogurt. Kita juga bisa mengganti mangga dengan strawberry atau green tea untuk mendapat cita rasa lain pada plain yogurt. Fleksibel. Tapi, jika ingin menambahkan gula, saya sarankan tidak perlu.

Selamat berkreasi!

Marble Pound Cake

January 22, 2017

img_20170122_163057

Bonjour. How’s your day? hope you had a nice day! 

Finally, I’m back! setelah banyak menebar janji. Janji untuk menuliskan berbagai resep gluten free cake/bread  yang sudah diuji coba di dapur. So, here it is… Marble Pound Cake a.k.a Bulu Marmer.

Resep ini saya dapatkan dari Mba @irseda owner @goodiebake dengan sedikit modifikasi, sebagai salah satu tantangan anggota komunitas Gluten Free Living Indonesia di setiap bulannya. Well, consistency requires discipline, force yourself out the door. Resep asli, silahkan diklik Bolu Marmer Tepung Mocaf .

Ingredients
Bahan kering :
150 gram tepung mocaf (singkong)
25   gram tepung maizena
1¼sdt baking powder
3     sdt chocolate powder

Bahan basah :
4       butir telur
150   gram gula pasir
200  gram margarin
1        sdt essence vanila

Langkah pertama :
Panaskan oven 170° C.
Oles loyang dengan margarine dan tabur tipis dengan tepung. Saya menggunakan loyang bulat berdiameter 20 cm. Sisihkan.

Langkah kedua :
Setelah memanaskan oven, kocok margarin dan gula dengan mixer, sampai halus dan mengembang. Masukkan telur 1/1, kocok sampai rata. Lalu, masukkan mocaf, maizena, vanila essence, baking powder. Kocok rata dengan mixer kecepatan rendah.

Langkah ketiga :
Ambil sebagian adonan (70 gram) lalu aduk rata dengan bubuk coklat. Tuang adonan putih ke loyang, ratakan dengan spatula. Sendokkan adonan coklat ke atasnya, sebanyak 5 titik berjarak. Putar-putar dengan lidi/tusuk sate secara perlahan sampai dapat efek marmer yang diinginkan.

Langkah keempat :
Masukkan oven, panggang 160° C selama 40-45 menit.

Hasilnya lembut dan enak. Padahal saya bukan penggemar bolu atau cake. Tidak berasa aroma singkong. Rasa pun sama dengan bolu marmer tepung terigu. Tapi terasa sedikit seret, menurut saya (biasa merumput, hahaha). Nah, tepung singkong ini cenderung cepat matang dibandingkan dengan tepung terigu, jadi gunakan suhu yang lebih rendah ya. Misalnya, anda biasa baking di suhu 170 ° C, maka turunkan di suhu  160° C.

Alhamdulillah, karena banyak keluarga yang bertandang ke rumah, bolunya terdistribusi dengan sempurna. Jadi bagaimana? masih ragu dengan tepung singkong untuk mengganti tepung terigu anda di rumah?

Selamat mencoba!

Pesona Skotlandia di Timur Nusantara

September 26, 2016

Menjelajahi sudut-sudut nusantara. Merasakan pesona kemegahan sebuah keajaiban alam dan kearifan budaya lokal,  kerap mengajarkan kita bagaimana cara memandang hidup dan kehidupan sesungguhnya. One’s destination is never a place, but a new way of seeing things, Henry Miller.

Sebagai pecinta travel,  Pulau Timor adalah salah satu wishlist destinasi saya. Pulau yang menawarkan sejuta pesona tersembunyi di dalamnya. Referensi keberuntungan pun bersambut, saat ekspedisi Ring of Fire Adventure (RoFA) yang dipandu oleh Youk Tanzil bersama anak-anaknya, mengeksplore betapa megahnya pesona timur nusantara. Yup, acara favorite saya di Kompas TV, every saturday night!.

Read more…

Hujan

July 1, 2016

Sabtu Bersama Bapak

July 1, 2016

IMG_20160710_132843

“Bapak minta kalian bermimpi setinggi mungkin. Dengan syarat, kalian merencanakannya dengan baik.” Hal 151

Buku yang ditulis dengan rasa dan asa itu berbeda, dan Mas Adhitya Mulya benar-benar menulis buku ini dari hati, asal muara rasa dan asa itu berada, halaaah. Semalam, sebelum saya mengeksekusi buku ini, muncul sebuah pesan via WhatsApp dari seorang sahabat. Jika beliau menanyakan kesediaan waktu saya, tentulah ada sesuatu yang perlu didiskusikan. Akhirnya, kami pun terlibat dalam sebuah diskusi panjang. Girls Women’s talk,  you name it. Berdiskusi tentang pola asuh dan konflik kehidupan rumah tangga. Hey, siapa bilang para single ladies tidak bisa diajak berdiskusi tentang ini? hahaha. Banyak diantara mereka cukup bijak dalam berpendapat dan menyikapi permasalahan, saya salah satunya, plaaakk. Hmm, setidaknya profesi memaksa kami untuk seperti itu, hahaha.  Kita tidak hanya harus belajar atas apa yang terjadi pada diri kita, tapi juga harus belajar atas apa yang terjadi pada orang-orang di sekeliling kita.  Inilah yang saya suka dari sebuah diskusi panjang yang apik, dalam dan jujur, hingga ditutup dengan  pilihan solusi.

Dan pagi ini, dari berbagai tumpukan buku, saya memilihnya. Entah mengapa, hanya membiarkan insting  saya bermain, haiyaah. See? baru di halaman ke sepuluh, buku ini sudah membuat saya tersenyum. Saat di halaman ke tiga puluh, saya mengirim  sebuah pesan kepada  seorang sahabat “If you still wanna  add a ‘simple and light’ literature diskusi tadi malam, read-able while cooking or standing for hours in commuter line, baca : Sabtu Bersama Bapak.  You’ll find how marriage life should be, how a man should treat his woman and vice versa,  also how parents should treat their children. Jitak gue kalau kagak bagus!.”

 Buku ini  terkesan a bit preachy, tapi tertutup dengan cerita yang lain. Buku ini mengajak kita merenung sejenak, sekaligus laugh at some scenes, bahkan ngakak dengan si Cakra dan sales teamnya. Ini buku layak dibaca oleh siapapun. Sekali lagi, siapapun… yang ingin berbuat terbaik untuk keluarganya.

“Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling mengisi kelemahan. Karena untuk menjadi kuat adalah tanggung jawab masing-masing. Bukan tanggung jawab orang lain. Find someone complimentary, not supplementary. We make each other a better person.” Sabtu Bersama Bapak. Don’t make me own you an explanation about this qoute. Saya yakin, anda sangat memahaminya. Highly recomended!.

 “A truly great book should be read in youth, again in maturity and once more in old age, as a fine building should be seen by morning light, at noon by moon light.” Robertson Davis – Canadian Novelist.

Hari-hari menuju penghujung ramadhan-Mu, 1437 H. Hatur nuhun Nona Sofa Nurdiyanti, atas bukunya. Barakallahu fiik.

Ayo Kembali Ke Dapur!

October 18, 2015

 

11995568_10203774901087914_1100704734_n

Read more…